Aku ingin kau bertanggung-jawab pada malam-malam tidak bisa tidurku, Tuan. Aku menunggumu. Muncul. Dalam huruf-huruf lengkung di monitorku. Banyak rindu yang tidak terkatakan. Bercampur dengan lagu-lagu yang aku dengarkan—membuat semua ini jadi semakin buruk.

Aku ingin kau bertanggung-jawab pada cekung hitam di bawah mataku, Tuan. Sewarna kopi yang selalu ada di depanku setiap kali. Isi kepalaku berantakan. Seperti kaca besar yang kau hempaskan. Pecah. Tidak karuan.

Tuan, seandainya perasaan ini datang pelan-pelan, aku tentu bisa menyelamatkan diri lebih dulu. Tapi dia menyergap lebih cepat dari hujan tadi sore. Luput dari perkiraan.

Tuan. Aku ingin meletakkan sebentar kepalaku di meja ini. Agar semua isinya tidak mengacaukan apa yang sudah aku rencanakan.

Tuan. Ini bukan lagi tentang cinta. Ini kegilaan.

Tuan.

Credit to all images: www.freepik.com