Bukan kepergian atau kedatanganmu yang aku sesali, Tuan. Bukan pula ratusan baris dari malam tak bisa tidurku tersia-sia.

Aku sudah lama tak terikat pada apapun; tempat, benda, bahkan makhluk bernyawa. Berjalan ringan karena apapun yang aku titipkan rasa, selalu saja memberat langkah pada akhirnya. Kadang lebih dari itu, Tuan; mengoyak jantung kalau terpisah. Aku sudah tak punya lagi tenaga untuk menjahit hati yang selalu saja hancur jadi perca. Karena mungkin setelah ini, kalau harus koyak lagi, rasanya ingin saja mengeluarkan jantung itu dari rongga dada.

Bukan kepergian atau kedatanganmu kembali yang aku sesali, Tuan. Bukan pula tentang banyak huruf-huruf menyebar pertanda.

Aku sudah lama tak ingin berdiam di manapun. Berjalan, berpindah, berkelana. Setiap kali, aku melakukannya karena ingin tahu jalan pulang. Dan kau bukan rumah, kau hanya tempat singgah.

Mungkin bukan kedatangan atau kepergianku yang kau sesali, Tuan. Tapi tentang lelah menghapus jejak. Memilah ingatan; sebagian jadi kenangan, sebagian harus kau bakar jadi unggun di halaman belakang—yang kemudian kau tunggui sampai padam karena api itu menghangatkan juga malam-malam dinginmu, tampaknya.

Mungkin bukan kedatangan atau kepergianku yang kau sesali, Tuan. Tapi karena aku pernah katakan padamu; setiap hal hanya akan datang satu kali—yang sepertiku begitu.

Dan yang sepertimu pun, begitu.

Credit to all images: www.freepik.com