Duh, udah lama enggak nulis Ceracau Pagi.

Karena hari ini istimewa dan enggak bisa dilewatkan begitu saja, saya mau nulis kalau begitu. Hari ini; International Women’s Day. Kalau ada yang nanya; kenapa pula begini-beginian dibuat harinya, sih? Sesungguhnya, saya udah liat ada yang nanya kayak begitu di Twitter. Bagaimana kalau saya jawab; untuk mengingatkan.

Seperti halnya hari ulang tahun yang buat saya enggak lebih sebagai pengingat bahwa saya sudah bertambah usianya. Sekarang saya usia saya 30 tahun. Yang mana, kalau saya diberi jatah umur mendekati Rasulullah, 63 tahun, itu artinya … sederhananya; saya udah setengah mati. Pedih, kan, diingatkan seperti itu? Itulah gunanya. Biar pedih. Hahahaaa.

Hari ini pun begitu. Beberapa hari yang lalu, saya sempat menjawab pertanyaan Arman Dhani di twitter tentang stereotip perempuan Indonesia. Sesungguhnya, banyaaak. Mulai dari tentang tubuh, reproduksi, sampai ke hal enggak masuk akal seperti; kasta perempuan berdasarkan bagaimana mereka melahirkan. Ini serius. Mungkin karena saya dan teman-teman saya di sosial media sudah tumbuh jadi lebih bijak, jadi hal seperti ini sudah enggak jadi bahasan lagi. Tapi, beberapa tahun lalu, di mana mereka memang sedang ada di tahap masuk ke pernikahan dan kemudian punya anak (atau anak-anak), hal ini terlihat juga.

Paling mudah melihatnya, misalnya, tentang bagaimana komentar orang tentang perempuan yang melahirkan dengan SC (Sectio Caesarian).

“Takut sakit, ya?”

“Kok enggak melahirkan normal aja, sih?”

Untuk pertanyaan ini, saya balik tanya; memang yang normal itu bagaimana? Jawabnya tentu saja melahirkan lewat vagina.

“Kalau melahirkan normal, kamu akan merasakan sakitnya dan sempurna menjadi seorang ibu.”

Melahirkan normal pun bisa bebas sakit dengan suntik epidural atau hipnosis. Atau dengan cara yang saya alami di persalinan kedua; kesakitan semalaman, rahim robek, pendarahan, nyaris pingsan, jadi harus dibius total. Enggak sakit sama sekali memang waktu prosesnya. Hahahaaa.

Ini belum masuk ke urusan setelah melahirkan, ya; ASI, ASIP, lotus birth, imunisasi…. Untuk semua pertanyaan ini, perempuan yang harus menjawab. Saya enggak pernah sekalipun mendengar Tuan Sinung ditanya tentang mengapa saya tiga kali SC. Padahal, dia yang tanda tangan surat persetujuan operasi.

Bagaimana sekarang kita masuk ke hal yang lebih menyebalkan; make up. Kalau saya menulis tentang make up, selalu (saya enggak membesar-besarkan, memang selalu) saja ada cowok yang komentar, “Saya lebih suka cewek yang cantik alami dan enggak pakai make up.”

Rujukannya adalah cewek-cewek Korea dan Jepang yang kulitnya mulus dan bibirnya merah. Demi Allah yang jiwaku ada di tangan-Nya, itu cewek-cewek pakai make up! Cowok seperti ini biasanya salah paham tentang apa itu make up dan apa gunanya. Mereka membayangkan kalau cewek pakai make up itu seperti Ivy Trinket di Hunger Games. Yang mana, itu juga bagian dari aliran make up, tapi enggak semua make up harus seperti itu. No make up make up looks itu nyata adanya. Dan cewek-cewek Korea-Jepang yang kalian jadikan rujukan kecantikan tanpa make up itu menggunakan metode ini.

Sekalian saya jelasin juga tentang make up yang enggak semuanya bersifat dekoratif. Make up juga tentang perawatan kulit. Saya pakai make up bukan karena saya ingin kelihatan cantik—saja—tapi juga karena saya ingin kulit saya kelihatan bagus dan baik sampai saya tua. Ini yang kemudian membuat kita (perempuan dan lelaki juga) kelihatan awet muda. Ini juga yang membuat kalian mengira saya seumuran dengan kalian yang masih di bawah 30-an kalau hanya dari foto.

Pada suatu ketika, ada cowok yang bilang dengan tegas kalau dia enggak suka cewek pakai make up dan dilalah, saya ada kesempatan bertemu dengan dia. Yang pertama kali saya tanya, “Gimana muka gue? Menor?”

Dia jawab, “Enggak. Aku suka.”

“Ini make up,” kata saya sambil menujuk muka.

Ini bukan juga tentang cewek cantik itu harusnya bego (mitos dumb blonde) atau kalau cewek kebanyakan memperhatikan penampilannya, maka dia jadi enggak ada waktu untuk mengurus otaknya. Untuk cowok yang kayak gini, saya udah ketemu juga. Yang saya tanyakan waktu pertama kali bertemu, “Udah pernah baca buku ini, ini, dan itu?” (Sengaja nyari judul yang susah.)

Jawabnya, “Belum.”

“Oh, gue baca sambil nunggu foundation gue meresap. Kalau yang ini, gue baca sambil maskeran.”

Karena cowok ini suka baca—katanya—jadi menurut saya, harusnya dia sudah baca. Dia punya banyak waktu—harusnya—karena enggak harus melewati proses memilih lipstik yang kadang menghabiskan waktu setengah jam lebih.

Saya menggunakan make up bukan untuk menggoda kalian, wahai para lelaki. Saya make up-an karena saya sayang diri saya sendiri. Saya ingin terlihat lebih percaya diri, enggak bau badan, easy to the eyes (jadi kalian enggak perlu menghitung jerawat saya dan berpikir; kenapa jerawat saya luasnya sama kayak kaplingan cluster), dan ya, sebagian dari itu memang untuk membuat Tuan Sinung merasa bangga berjalan di samping saya di tempat umum.

Katanya, kan, penampilan perempuan (istri) itu memperlihatkan bagaimana lelaki (suami) memperhatikannya. Kalau saya bisa punya waktu untuk make up sebelum pergi, berarti si Tuan Sinung harus mau mengurus anak selama sama make up-an. Itu memperlihatkan kalau dia suami yang baik. Ini belum masuk ke urusan dana yang dia kucurkan dengan senang hati untuk semua make up itu. Dia membiarkan dan mendukung saya untuk menghargai, menyayangi, dan mengurus diri saya sendiri.

Saya enggak terlalu suka menggunakan kata ‘kesetaraan’ sebenarnya karena saya juga enggak ingin disetarakan dengan lelaki. Saya tahu di mana tempat saya. Saya hanya ingin dihargai sebagai perempuan. Paling minimal dengan enggak cat calling di tempat umum. Saya sering sekali mengalaminya dulu. Setelah saya menikah dan lebih banyak keluar rumah dengan si Tuan, hal ini memang sudah jarang terjadi. Juga dengan pelecehan di tempat umum, bis, kereta, atau halte. Iya, halte. Saya pernah diraba dari mulai dada sampai bokong di halte dan waktu itu saya belum mengerti—karena saya masih SMA—kalau saya seharusnya melawan. Saya malah menyalahkan diri saya sendiri. Ini juga karena ketika saya cerita pada seorang teman, dia berkata ringan, “Makanya jangan pakai rok ketat.”

Saya enggak pakai rok ketat. Saya pakai seragam SMA dan saya berjilbab.

Lalu disambung dengan, “Makanya toket jangan gede-gede.”

“My tokets are borderline nonexistence.”

Yang membuat pramuniaga Walcoal memandang saya dengan mata setengah mengerenyit waktu saya bilang nomer bra yang saya cari. Enggak akan bikin nafsu sama sekali karena enggak akan kelihatan. Ini pun masih ditutup jilbab panjang. So? Masih salah toket gue?

Jadi perempuan memang harus kuat. Tapi juga enggak semua lelaki di luar sana brengsek. Si Tuan salah satunya.

Untuk para lelaki di luar sana, saya juga memperlakukan kalian dengan sama hormatnya. Minimal sekali dengan enggak ‘menikmati’ fisik kalian. Kalau foto cewek seksi di-upload di sosial media dan lelaki memberikan komentar menjurus, itu bisa dibilang pelecehan, kan? Degrading and humiliating, katanya. Saya pun melakukan yang demikian pada kalian. Walaupun sekali waktu saya sangat enggak bisa menahan diri untuk enggak berkomentar tentang betapa saya sukaaa … sekali dengan Paul Dano atau betapa gadunnya Thom Yorke membuat saya degdegan, tapi … saya berusaha untuk berhenti sampai di situ. Toh, pada akhirnya, buat saya lelaki yang menarik itu yang bisa menantang balik saya dengan otaknya. Sederhananya; karena saya enggak ingin dijadikan fantasi kalian, saya pun enggak menjadikan kalian fantasi saya. Begitulah. Are we good?

Saya juga jarang upload foto diri ke sosial media bukan karena saya enggak pede. Setiap kali saya upload, likesnya bisa jauh lebih banyak dibanding kalau saya upload foto lain. Saya hanya ingin, kalian melihat bagian diri saya yang lain. Itu saja.

Di International Women’s Day ini, saya ingin mengucapkan selamat menjadi perempuan untuk para perempuan dan berterimakasih pada lelaki baik yang menjadikan kami, para perempuan, merasa terlindungi dan berharga.

‘Cause at the end of the day, kami tulang rusuk kalian; yang dekat ke lengan untuk dilindungi dan dekat ke jantung untuk dicintai.