Dia pikir, dia bisa menghilang setelah malam itu. Berjingkat pelan membuka pintu. Dia pikir, ini tentang pergi, kembali, atau keduanya. Tapi selalu ada pilihan keempat; tidak mengambil pilihan karena tidak memilih pun, sebuah pilihan.

Dia pikir, dia bisa kembali berkelana. Menari di keributan pasar yang menurutnya—dulu—adalah tempat paling indah untuk memperlihatkan tarian terbaiknya. Dia pikir, pasar itu akan selalu ada. Tapi ketika di suatu pagi dia bangun dan berjalan ke sana, yang dia lihat hanya tanah lapang dan cekung langit di atasnya. Sepi. Suara angin pun tiada.

Dia pikir, ini tentang keadaan sementara. Bagaimana kalau ini selamanya? Bagaimana kalau ini tentang sesuatu yang sudah mati dan tinggal menunggu dikuburkan? Bagaimana kalau semua yang dia tahu akan punya batas hidup? Mungkin tanggal kadaluarsa. Mungkin kontrak sewa yang akan habis masanya. Bagaimana kalau ini bukan tentang ‘mengapa’, tapi tentang ‘apa’? Bagaimana kalau ini tentang jalan yang salah, panah yang lelah, atau mimpi yang kalah?

Dia sekarang tidak bisa berpikir.

Credit to all images: www.freepic.com