Aku pernah menemukan ujung pelangi. Dulu, dulu sekali.

Waktu itu hujan sedari pagi. Ketika siang datang, hujan tidak kunjung berhenti dan matahari enggan mengalah. Lalu hujan pun turun di tengah terik. Indah. Tetes nya tidak seperti butiran, kalau kamu mau tahu. Dia lebih seperti tarikan-tarikan garis lurus yang mirip seperti benang putus. Sangat masuk akal kalau Frau—penyanyi dari Jogya itu—kemudian ingin membuat mesin untuk menenun hujan itu dan kembali menjadikannya awan. Sangat masuk akal.

Aku pun seperti melihat benang-benang putus yang jatuh dari langit. Memantulkan terik sehingga kelihatan seolah mengeluarkan cahaya sendiri. Seperti mantra pengantar pelangi yang muncul melengkung di atas rumah kami. Aku yakin pelangi itu letaknya di sana karena aku baru bisa melihatnya ketika aku akhirnya berlari ke lapangan di dekat masjid. Tidak tepat di atas atap memang. Jauh di atas atap. Seolah bagian tertinggi lengkungnya menyentuh langit. Lalu aku mendengar suara yang mengajak untuk mencari ujungnya. Aku lupa suara siapa itu. Yang masih aku ingat hanya perjalanan menyusuri kebun tebu yang kemudian berakhir di dekat pematang sawah.

Di sanalah ujung pelangi itu. Tertancap ke tanah. Warnanya mengabur. Mirip bayangan merah, kuning, dan hijau warna yang jatuh begitu saja. Aku ingin mengambilnya. Tapi dia bayangan. Dia tidak bisa disentuh.

Sore itu ibuku bilang, aku mungkin bermimpi. Walau aku bisa menceritakan kisah itu dengan detail sekali, ibuku tetap bilang kalau aku bermimpi. Hari itu tidak hujan dan tidak ada pelangi. Aku tidur siang dan ibuku mengawasi sambil memotong bawang untuk taburan sup yang akan dimakan bersama malam itu. Begitu yang diingat ibuku.

Tapi aku yakin kalau aku tidak bermimpi. Rasanya aku terlambat menceritakannya. Bukan hari itu hujan turun seperti benang-benang yang memantulkan cahaya. Bukan. Mungkin beberapa hari sebelumnya karena suara yang mengajakku mencari ujung pelangi mengatakan kalau aku harus merahasiakan tempat di mana ujung pelangi itu menyentuh tanah. Dia menandainya dengan tumpukan tiga buah batu dan membuat garis penanda di tepian pelangi itu. Tapi aku tidak bisa menyimpan rahasia dan menceritakannya pada ibuku beberapa hari kemudian. Ketika itulah ibuku bilang aku bermimpi. Ibuku juga bilang kalau Pelangi tidak punya ujung.

Lalu dia menegaskan kembali kalau hari itu tidak hujan.

Kenangan itu seperti tulisan yang dibuat dengan pensil; makin pudar seiring waktu. Aku sudah lupa kapan tepatnya itu terjadi atau baju apa yang aku pakai. Tapi aku ingat dengan jelas di mana ujung pelangi itu. Seperti tulisan dengan pensil yang aku tahu akan mengabur, aku lalu menebalkannya dengan cara mengingat-ingatnya ketika aku sempat. Biasanya, aku teringat lagi cerita itu ketika hujan turun. Hujan tidak pernah lagi seperti yang aku lihat waktu itu. Hujan sekarang biasa-biasa saja.

Suatu ketika, dosen psikologiku mengajarkan tentang false memory dan itu membuatku mencurigai tentang kenangan ujung pelangi itu. Kita bisa dengan mudah tertipu ingatan kita sendiri. Sesuatu yang tidak terjadi kita anggap pernah terjadi karena kita terkelabui keinginan sendiri untuk menganggapnya benar terjadi. Atau orang lain yang melakukan itu—mengelabui kita.

Mungkin ibuku benar. Mungkin aku hanya bermimpi. Mungkin itu mimpi yang sangat indah dan aku mengingatnya sampai aku bangun dan terus memikirkannya sampai sekarang. Lalu dia berubah bukan lagi mimpi, dia jadi seolah nyata dan karena terjadi di masa lalu; dia jadi kenangan. Mimpi bukan kenangan karena kenangan harus nyata. Aku pun mulai mempercayai kata ibuku.

Lalu aku teringat lagi bahwa beberapa hari setelah aku menemukan ujung pelangi itu, aku kembali ke tempat itu dan melihat masih ada tumpukan tiga buah batu di sana. Posisinya belum berubah. Hanya garis yang dibuat di tepiannya yang memudar. Aku mengambil batu-batu itu dan membawanya pulang. Sebagai bukti bahwa aku memang menemukan ujung pelangi itu. Tapi aku tidak kuasa mengatakannya pada ibuku. Aku terlalu yakin kalau dia tidak akan mempercayaiku. 

Tapi kata ibuku, aku tidak boleh menyimpan batu untuk mainan walaupun bersih karena sudah dicuci. Aku berkeras. Aku memiliki batu itu sampai sekarang. Batu itu masih ada, di ruang tamu. Aku jadikan sebagai bagian dalam ukiran bunga matahari yang dibuat di dinding ruang tamu.

Oh tidak, aku tidak kuliah psikologi. Aku mengambil beberapa kelas tapi aku pemahat. Aku memahat batu itu di ruang tamu karena dalam pikiranku, dia seperti pusat mimpi. Satu-satunya bukti kalau ujung pelangi itu bukan mimpi. Ketika ibuku datang ke rumah ini tidak lama setelah aku selesai membangunnya.

Dia berkata ukiran itu unik dan cantik. Dia mengenali tiga buah batu yang sekarang menjadi bagian tengah bunga matahari. Dia tahu kalau itu batu yang aku bawa ke mana-mana sejak kecil. Aku mainkan dan aku pungut dari halaman setiap kali ibuku membuangnya karena muak mendengar suara aku memukul-mukulkannya itu ke lantai. Kata ibuku, mungkin batu itu menjadi awal kenapa aku akhirnya jadi pemahat. Aku tidak berpikiran begitu.

Tapi seandainya aku punya kamera ketika itu, aku pun akan mengambil fotonya karena itu akan jadi bukti. Gambar di otak tidak bisa dijadikan bukti. Kalau ada alat yang bisa memindahkan gambaran di otak menjadi foto atau tulisan, teman penulisku tidak akan datang ke sini beberapa hari sekali dan mengeluhkan betapa sulitnya memindahkan medium abstrak seperti ide menjadi tulisan. Itu masalah di semua seni. Aku pun mengalami hal yang sama. Masalah yang mungkin bisa dibantu oleh teknologi tapi tidak akan pernah bisa dipecahkannya.

Otak itu sama rumitnya dangan semesta. Kenangan tentang ujung pelangi ini pun. Aku terbagi antara mempercayai kalau itu mimpi atau kenyataan. Tapi pahatan di ruang tamu ini kemudian mengembalikan pikiran tidak sehatku untuk mempercayai kalau itu memang pernah terjadi. Kenangan juga tentang kepercayaan. Aku mempercayainya, maka dia akan jadi seolah nyata. Seperti mempercayai hantu. Semakin aku percaya, semakin menjadi nyata. Hanya Tuhan yang aku percaya dan tidak pernah kuasa aku menggambarkan Dia sebagai ‘nyata’. Dia sepertinya lebih dari itu. Tapi aku tidak pernah bisa mendefinisikannya. Lalu aku dan temanku memutuskan untuk minum kopi dan mengobrolan hal lain di luar ide dan pekerjaan. Kami pun membicarakan hujan. Aku teringat tentang hujan itu lagi. Ketika aku menceritakan tentag hujan yang seperti benang-benang bercahaya, temanku kelihatan takjub dan dia mengatakan kalau dia akan menuliskan hujan seperti itu di salah satu cerpennya.

Ketika dia membawakannya cerpen yang sudah jadi itu padaku di suatu sore, aku mengatakan dengan jujur kalau bayangan dia tentang hujan itu tidak sama dengan bayanganku. Lalu dia pun membicarakan tentang pernikahan. Aku pun mengatakan hal yang sama; apa yang dia bayangkan tidak sama dengan apa yang aku bayangkan. Itu cara paling panjang dan rumit untuk mengaburkan satu kalimat sederhana; aku tidak mencintainya. Tapi dia berkeras mempersembahkan cerpen itu ketika dibukukan dengan beberapa belas cerpen lain. Namaku ada di halaman pertama.

Dia tetap sering datang. Kami tidak pernah membicarakan pernikahan lagi sampai suatu ketika dia datang membawa undangan pernikahannya sendiri. Aku datang ke akad dan resepsinya. Aku suka makan dan yang aku ingat dari rangkaian acara dan ritual adat di sana hanya tentang makanan dan wangi bunga melati yang menusuk. Setelah itu dia masih sering datang, kali ini berdua. Kami pun berteman akrab, bertiga.

Aku pulang ke kampung, ke rumah ibuku bulan lalu. Ketika itu musim penghujan dan aku menyesali keputusanku untuk menyetir sendiri ke sana.

Aku diam di rumah, makan masakan ibuku, dan memijitnya sambil bercakap-cakap tentang hidupku dan hidupnya. Aku lupa di hari ke berapa hujan turun tapi matahari bersinar terik. Aku menceritakan mimpi tentang ujung pelangi itu lagi dan ibuku bilang kalau sejak kecil aku memang anak yang sangat imaginatif. Dia ingin mengatakan kalau aku seperti ayahku tapi terhenti di kata pertama. Ayahku tidak pernah jadi kenangan indah buatnya. Karena itu dia tidak pernah dikenang.

Hujannya lalu berubah seperti benang-benang yang memantulkan cahaya. Aku mengambil payung dan keluar rumah. Ada suara yang seolah mengajakku untuk mencari ujung pelangi. Aku tahu hujan ini. Aku mengenalnya dengan baik; hujan ini adalah mantra yang akan mengundang pelangi.

Aku berjalan cepat menyusuri kebun tebu dan sampai di tepi pematang sawah. Jauh di belakang pematang itu tampak bangunan pabrik susu yang dulu tidak ada. Selain itu semuanya tetap sama. Aku berdiri di sana, di tempat di mana dulu aku pernah percaya ujung pelangi akan muncul. Aku menunggu sampai hujan mereda dan matahari makin terik. Perlahan aku melihat bayangan hijau, kuning, dan merah di hadapanku. Di belakang bayangan itu, tampak perempuan berambut panjang memegang payung dan berjalan mendekat. Dia meletakkan tiga buah batu di tempat ujung pelangi itu bertemu dengan tanah. Lalu menggambar garis di tepian bayangan pelangi itu.

“Untuk apa?” tanyaku.

“Penanda,” jawabnya. “Aku dulu juga pernah melakukan ini dengan teman masa kecilku. Tapi beberapa hari kemudian batunya hilang.”

“Aku mengambil batu itu,” kataku.

Dia bangkit dan menatapku tidak percaya, “Oh, ya?”

Dia sudah tahu kalau aku teman masa kecilnya. Dia pasti mengenali bentuk hidung dan bibirku, juga rambutku yang keriting berantakan. Kami terdiam. Bertatapan beberapa lama. Entah apa yang dipikirkannya. Aku pun tidak bisa memikirkan apapun—aku terdiam dan tidak berpikir. Semua terasa seperti mimpi dan itu aneh. Ketika ada kenyataan yang terlalu indah, aku menganggapnya seperti mimpi. Sebaliknya, ketika ada mimpi yang terlampau indah, aku menganggapnya nyata. Jadi, di mana batas antara ketiga hal itu: keindahan, mimpi, dan kenyataan? Aku tidak bisa memikirkannya. Otakku membeku.

“Aku masih menyimpannya,” kataku kemudian. “Aku bisa menunjukkannya padamu.”

Dia tersenyum. Aku bisa melihat ujung-ujung rambutnya basah. Mirip seperti benang-benang yang memantulkan cahaya.

“Di mana?” tanyanya. “Di mana kamu menyimpannya?”

Aku tertawa. Aku tidak tahu kenapa aku tertawa. Mungkin karena terlalu gugup dan aku tidak bisa mengatur diriku sendiri untuk bereaksi dengan cara apa.

“Di rumahku,” jawabku.

“Kamu tidak boleh mengatakan kepada siapapun tentang letak ujung pelangi ini,” ujarnya kemudian. Kata-kata yang sama juga dia ucapkan dulu.

“Kenapa?” tanyaku.

“Ini rahasia kita,” jawabnya. Lalu dia tersenyum, manis sekali.

Aku pun mempercayai kalau ujung pelangi di masa kecilku dulu itu memang ada. Itu bukan mimpi. Aku mengalaminya. Perempuan itu saksinya.

Tapi aku baru bisa menunjukkan ketiga batu yang aku punya itu, beberapa tahun setelahnya. Ketika itu, aku membawanya tinggal di rumahku setelah sebulan kami berbulan madu. Tiga batu lainnya, aku gunakan untuk membuat ukiran tentang ujung pelangi, dengan dua orang berpayung yang berdiri di antaranya, dan batu itu sebagai penanda.

Ibuku berkata ketika aku sungkem setelah akad nikah, kalau jodoh itu sudah digariskan. Entahlah, aku melihat jodohku seperti ada di dalam garis berwarna-warni seperti pelangi. Istriku mengatakan ukiran yang aku buat sangat indah. Kami memandanginya sambil minum teh di kala hujan hari itu. Dia bilang kalau sejak dia menemukan ujung pelangi itu dulu, dia ingin menemukan ujung yang satunya lagi. Tapi setelah dia melihatku ketika dia menemukan ujung pelangi yang kedua, dia tidak punya keinginan itu lagi. Mungkin ujung yang satunya lagi itu adalah aku. Begitu katanya.

* * *

Credit to all images: www.freepik.com