L ama sekali saya enggak menulis tentang pernikahan. Dulu, ini jadi topik kesukaan saya. Tingkat kesukaannya sama dengan; ketika saya membaca buku bagus atau menonton film yang luar biasa, lalu saya teramat ingin membahasnya dengan seluruh dunia. Rasanya seperti itu.

Tapi, lama-kelamaan, ketika usia pernikahan makin bertambah, saya malah makin enggak paham dengan pernikahan saya sendiri. Selain syukur yang dalam bahwa saya diberikan suami semacam itu (ini lengkap dengan banyak hal yang saya suka dan enggak suka darinya), I humbled by this marriage. Sampai saya ada di satu titik di mana saya sendiri bingung, apa yang bisa saya berikan dan nasehatkan tentang pernikahan?

Seperti kata teman saya; pernikahan itu seperti iman (dan Aming); hari ini romantisan, besok gugatan. Untuk Aming, please jangan bercerai!

Saya juga enggak merasa secure dengan perasaan saya sendiri—kadang. Atau kadang saya merasa salah dengan banyak hal yang saya lakukan. Misalnya, akhir-akhir ini, saya sering menelepon seorang teman, cowok, kadang sampai tengah malam dan ini memang untuk urusan project. Saya pastikan, saya menelepon di kamar dan Tuan Sinung ada di kamar itu. Dia dengar, dia tahu, dan dia paham apa yang saya lakukan.

Kadang satu-dua obrolan kami, saya sambung ke si Tuan (misalnya pertanyaan yang saya tanyakan lagi ke si Tuan karena saya enggak tahu jawabannya). Atau kadang dia berkomentar, “Temanmu yang satu itu lucu sekali.” Saya akan menjawab, “Dia itu udah mau lulus kuliah. Udah enggak lucu. Fotonya emang menyesatkan!”

Atau saya chat dengan banyak orang. Ini juga saya pastikan dia tahu. Ponsel saya bisa dia akses. Kadang memang ada beberapa chat yang saya pesankan untuk jangan dibaca karena itu rahasia saya dan pengirim chat—biasanya ini urusan khusus semacam curhat perempuan. Tapi saya pastikan juga dia tahu dengan siapa saya mengobrol ini-itu dan garis besarnya. Dia pun melakukan hal yang sama.

Saya hanya enggak ingin, pernikahan ini, yang saya rawat baik-baik, terjadi sesuatu—nantinya. Saya sungguh enggak ingin.

Tapi, semakin hari, saya semakin enggak mengerti apa yang harus saya katakan ketika ada yang meminta nasehat pernikahan. Apalagi karena melihat pernikahan saya baik-baik saja. Sesungguhnya, pernikahan saya ini sering enggak baik-baik saja. Kami bertengkar, berbaikan, bertengkar lagi, ngambek, ngobrol lagi, begitu seterusnya dari hari ke hari. Semua fluktuatif. Lalu, apa yang bisa saya jelaskan tentang hal seperti itu? Yang polanya pun saya enggak mengerti.

Lalu kemarin, saya melihatnya—si Tuan. Saya merasa bahwa mungkin kami masih saling jatuh cinta setelah sekian lama karena kami menjaga jarak juga. Semacam memberikan ruang dan menyisakan misteri. Mungkin bukan misteri, tapi strangeness. Perasaan bahwa ada satu-dua hal tentang saya yang enggak dia mengerti di hari ini karena saya baru menumbuhkannya kemarin dan sebaliknya.

Saya teringat tentang betapa dulu, saya suka pada cowok-cowok itu (ini masa lalu, hahahaaa …) bukan hanya karena mereka punya hal yang saya suka, tapi juga karena mereka punya hal yang saya ingin tahu. Mereka asing. Karena asing, mereka jadi ingin saya dekati. Saya ingin mengusir keasingan itu. Saya ingin mengenal lebih jauh, lebih dalam. Ini yang saya rasakan pada si Tuan kemarin; strangeness.

Bahwa dia yang ada hari ini, yang saya cintai hari ini, bisa saya cintai karena saya yang hari ini. Saya enggak akan mungkin bisa mencintai dia yang seperti sekarang ini, sepuluh tahun yang lalu, misalnya. Saya enggak akan mampu.

Bahwa cinta punya beban, seberat penerimaan pada orang yang dicintai. Ini enggak mudah. Saya tahu itu.

Strangeness ini juga memberi jarak. Lekat tapi tidak menyesak.

Beberapa kali saya belajar satu-dua hal tentang perselingkuhan, orang ketiga dalam pernikahan. Saya tahu bahwa mereka enggak datang begitu saja. Yang baru saya pahami sekarang ini, mereka datang karena dua hal; pasangan terlalu jauh atau terlalu dekat. Untuk yang terlalu jauh, tentu karena kebutuhan untuk diperhatikan, disayangi, dan dicintai oleh pasangannya enggak terpenuhi. Mereka kemudian mencari.

Untuk pasangan yang terlalu dekat dan semua terlalu sesak karena dunia hanya berputar di sekeliling pasangan, orang ketiga masuk untuk memberi jarak. Agar enggak terlalu sesak. Ini menakutkan. Ini pula yang membuat saya kemudian berusaha mengembalikan kehidupan pertemanan saya dengan beberapa orang. Saya harus mencari teman, sahabat, mengerjakan hal-hal yang saya suka, karena saya harus memberi jarak, saya harus berkembang, saya harus bahagia. Perasaan bahagia selalu membuat saya ingin membahagiakan orang lain. Saya ingin itu.

Sisanya, saya hanya bisa berpasrah. Bersyukur bahwa dia ada di samping saya.

Seperti di dini hari ini, dia tidur di belakang saya. Pagi nanti, kalau dia bangun lebih dulu, dia akan membuatkan dua cangkir kopi karena kami harus bicara, bersepakat tentang hati, dan banyak hal lain. Lalu menghabiskan hari untuk mencari apa yang bisa kami bagi. Bahwa untuk mencintainya esok hari, saya harus menjadi orang yang mampu untuk itu—dan bisa jadi, itu beda dengan saya hari ini.

Credit to all images: www.unsplash.com