nama

Gerimis ini terlalu terburu-buru. Aku berlari di bawahnya, menyelamatkan diri dari tetes air yang sudah berhasil membuat kemejaku basah di sepanjang jalan tadi. Menepi. Berdiri di bawah kanopi kafe berwarna merah. Jalanan memantulkan lampu-lampu mobil. Membuat warnanya berkilau, tidak lagi hitam.

Aroma kopi membuatku menoleh. Kafe itu sepertinya ramai sekali. Tidak seperti di luar sini, di tepi jalan ini, hanya aku sendirian. Aku pun mengikuti kata hatiku untuk masuk ke sana. Satu dua cangkir kopi di dingin malam seperti ini, sambil menunggu gerimis menjadi hujan lalu kemudian kembali menjadi gerimis dan berhenti, tidak ada salahnya dicoba. Ketika aku membuka pintu dan lonceng kecil yang diletakkan di atas pintu itu berdenting. Tapi tidak ada yang peduli selain seorang pelayan yang berdiri di dekat pintu dan tersenyum padaku. Dia mendekat dan mengatakan kalau tidak ada meja yang kosong. Aku mengedarkan pandanganku. Kafe itu memang ramai sekali. Aku hampir saja keluar dan kembali menunggu di tepi jalan seandainya pelayan itu tidak menambahkan.

“Tapi kalau Anda mau berbagi meja, saya bisa mencarikannya.”

Aku setuju. Aku akan berbagi meja.

Dia lalu membawaku di meja di tepi jendela yang dari sana, aku bisa melihat tempatku tadi berdiri ketika berada di luar. Meja itu punya empat kursi dan salah satunya sudah terisi oleh seorang gadis yang memakai sweater merah tua. Aku tersenyum dan dia membalasnya. Aku menganggap itu tanda kalau dia akan membiarkanku duduk di hadapannya. Aku memesan secangkir kopi hitam dengan tambahan gula dan sepotong kue—pelayan itu merekomendasikan opera cake dan aku setuju. Gadis di depanku memandang ke luar. Sama sekali tidak mengacuhkanku. Aku pun urung menyapanya. Aku meletakkan tas dan buku yang sedari tadi aku pegang di atas meja lalu menarik kursi yang posisinya paling dekat denganku berdiri. Sepertinya dia memperhatikanku dengan ujung matanya.

Pesananku datang tidak lama kemudian. Kopi hitam panas yang sepertinya benar-benar panas. Aku menatap ke arah gadis itu lagi. Matanya berkaca-kaca. Lalu satu tetes airmata jatuh yang dengan cepat langsung dihapusnya. Dia lalu menoleh padaku seolah memastikan kalau aku tidak melihat apa yang terjadi. Tapi aku melihatnya.

“Maaf,” katanya pelan. Hampir tertelan suara ramai percakapan di bangku sebelah.

Aku tidak tahu harus mengatakan apa. Aku tersenyum saja. Dia lalu menyeruput kopinya.

“Menurutmu, apa yang paling sulit dilupakan? Wajah atau nama seseorang?” tanyanya kemudian. Aku terdiam beberapa saat. Beberapa waktu yang lalu, aku memang berencana mengajaknya berbicara satu atau dua patah kata saja untuk berbasa-basi karena kami berbagi meja. Aku tidak berencana untuk menjawab pertanyaan seperti itu. Tapi akhirnya aku jawab juga.

“Nama?” jawabku dengan nada balik bertanya.

“Sepertinya begitu,” katanya lagi. Dia menyetujuiku. “Aku belum juga bisa melupakan namanya padahal aku sudah tidak lagi mengingat bagaimana wajahnya.”

“Sudah berapa lama?” tanyaku. Dia mengajakku masuk ke pembicaraan ini dan hujan sepertinya masih akan lama berhenti, maka aku pun—menurutku—boleh untuk lebih banyak tahu.

“Hampir dua tahun,” jawabnya.

Dia memesan kopi lagi yang datang beberapa saat kemudian. Dia akan bicara lebih banyak denganku karena secangkir kopi perlu waktu cukup lama juga untuk dihabiskan.

“Wajah bisa berubah, nama tidak,” kataku kemudian. Dia mengangguk.

“Ya, seperti itu. Persis.”

Tapi aku salah. Dia pergi setelah menghabiskan secangkir kopi itu dengan cepat. Aku baru menyadari kalau dia meninggalkan sederetan nomer di tisu ketika aku akan memakan opera cake-ku. Dia memintaku meneleponnya. Hanya nomer yang ada di sana, tidak ada nama.

* * *

Aku meneleponnya tidak lama setelah itu. Dia masih mengenali suaraku. Dia bertanya jam berapa aku pulang dari kafe malam itu. Aku menjawabnya dan dia menceritakan perjalanan pulangnya. Hujan belum berhenti ketika dia keluar kafe dan dia harus menunggu beberapa lama sampai dapat taksi. Itu membuat sweater-nya basah. Sweater basah lebih dingin karena menyerap air. Dia deman sehari setelahnya. Dia mengatakan kalau minggu ini dia akan ke kafe itu lagi. Dia lalu bertanya apa aku mau bertemu. Aku menjawab; ya. Kopi dan opera cake di kafe itu jadi alasan lainnya.

* * *

Aku menunggunya di bawah kanopi kafe siang itu. Sengaja tidak masuk lebih dulu. Aku ingin tahu dia datang dari arah mana. Tapi tiba-tiba saja dia mengangetkanku dari belakang. Dia sudah di dalam kafe tadi ketika aku baru datang, katanya. Aku menatapnya lekat-lekat, rambutnya dibiarkan tergerai dan dia jadi lebih cantik. Ketika mataku dan matanya berpaut, aku merasa sedikit jatuh cinta. Mata itu memaksaku untuk—sedikit—jatuh cinta dan bodohnya, aku menurut saja.

Kami mengobrol panjang dan menghabiskan tiga cangkir kopi. Dia membawaku menjelajahi dunianya; buku, lukisan, cerita tentang mantan-mantannya. Dia berkata kalau dia berani mengajakku bicara ketika pertama kali kamu bertemu dengan cara seperti itu karena aku membawa buku yang juga sedang dia baca.

“Aku menyukai buku itu dan kalau kamu menyukainya juga, kamu tidak akan keberatan kalau aku ajak bicara dengan cara seperti itu,” katanya. Aku bertanya kenapa. “Kita punya gelombang yang sama. Resemblance.

Aku tidak bisa membantahnya karena kemudian kami sudah masuk ke topik obrolan lain dan aku merasa seperti bicara dengan teman lama. Dia mengerti dengan baik apa yang aku maksudkan dan ceritakan. Kami tertawa pada lelucon yang sama dan mengerenyit ketika menceritakan hal konyol yang menurut banyak orang lucu tapi menurutku—dan dia—tidak.

Di perjalanan pulang, aku baru ingat kalau aku lupa menanyakan namanya.

Aku meneleponnya setiap hari selama beberapa minggu kami tidak bisa bertemu karena aku harus meliput ke luar kota dan aku masih juga lupa menanyakan namanya. Dia sangat jarang membalas pesan dengan cepat. Bahkan membiarkannya sampai berhari-hari kalau tidak dijawab dengan; telepon saja.

Ketika dia mengangkat teleponku, dia akan langsung mengatakan hal-hal yang lebih menarik perhatianku dan kami akan larut dalam obrolan panjang yang mengalihkan ingatanku untuk menanyakan namanya. Tapi suatu kali, aku tidak lupa. Aku menanyakannya.

“Apa kamu akan bisa melupakan namaku nanti kalau hubungan ini tidak berjalan seperti semestinya?” tanyanya.

Aku berpikir beberapa detik sebelum menjawab. Aku sungguh tidak tahu jawabannya.

“Aku tidak tahu,” jawabku.

“Kamu tidak akan lupa. Karena itu, aku tidak akan memberitahukannya.”

“Jadi, aku harus memanggilmu apa?”

“Selama ini kamu memanggilku apa?” dia balik bertanya.

Aku tidak menjawab. Aku tidak tahu bagaimana harus menjawabnya. Karena aku tidak tahu namanya, aku tidak bisa mencari tahu apapun tentangnya di internet. Yang bisa aku lakukan hanya membayangkan wajahnya—dia juga tidak mau difoto—kalau aku merindukannya. Aku memberikan nama ‘Gadis’ di ponselku.

* * *

Aku tidak bisa membayangkan kalau hubungan kami akan berantakan. Sudah hampir enam bulan aku bersamanya dan sejauh ini semua baik-baik saja. Sangat baik. Kami bertemu beberapa kali dalam sebulan dan menghabiskan beberapa cangkir kopi setiap kali. Dia membawaku berjalan-jalan ke tepi danau di dekat taman dan kami duduk bersisian di bangku kayu sambil membaca—kadang buku yang sama. Terakhir kali kami melakukannya, kami menghabiskan dua jam sampai akhirnya dia mengajakku membeli es krim. Aku tidak bisa membayangkan semua ini tidak akan terjadi lagi karena itu aku memberanikan diri untuk mengatakan cinta padanya ketika mata kami bertaut di antara aroma kopi dan kepulan asapnya di kafe sore itu. Dia terdiam. Matanya tidak memaksaku untuk jatuh cinta padanya; aku yang sukarela melakukan itu.

“Aku harus menjawab bagaimana?” tanyanya.

“Aku tidak tahu,” jawabku jujur. “Aku tidak tahu kalau ada orang yang mengatakan cinta padaku, aku harus menjawab bagaimana. Itu pernyataan, seharusnya tidak perlu dijawab.”

“Itu pernyataan?” tanyanya. “Benarkah? Apa kamu tidak ingin bertanya bagaimana denganku?”

Aku menggeleng dan tersenyum.

“Entahlah,” jawabku, “rasanya, aku sudah tahu.”

Lalu aku menatapnya lagi. Matanya yang terpaut padaku itu mengatakan lebih banyak dari yang bisa dia katakan. Pipinya memerah.

“Kamu tidak tahu apa-apa,” elaknya.

* * *

Malam itu hujan lagi. Aku menunggu di depan kafe sendirian. Dia sudah lebih dulu pulang dengan taksi beberapa menit yang lalu dan sampai sekarang belum ada taksi kosong yang lewat lagi. Aku pindah ke bawah kanopi kafe ketika gerimis mulai turun. Ketika aku membuka tasku dan memasukkan buku yang sedang aku pegang ke dalamnya agar tidak terkena air, aku melihat tisu terselip di antara lembaran buku itu. Aku menariknya dengan kedua jariku. Ada sebuah tulisan di sana:

Jingga

Aku lalu mengeluarkan ponselku dan mengetikkan pesan singkat untuknya. Satu kata saja:

Banyu

Lalu dia membalasnya:

Meet again? Tomorrow? Same time?

Aku mengetik kata pertama yang terpikir:

Always.

Lalu menekan tombol ‘send’.

* * *