Masai

Kalau aku katakan, kau jatuh cinta padanya karena tidak pernah melihatnya dalam keadaan biasa saja, kau pasti tidak akan percaya.

Kau tidak pernah melihatnya dengan mata bengkak di suatu sore di halte itu. Kau datang setengah jam setelahnya dan ketika itu, matanya hanya tersisa sedikit merah—sama seperti gincunya yang memudar karena dia terlalu banyak menggigiti bibirnya. Mungkin agak sembab tapi kau tidak bisa melihat bedanya karena mata itu selalu sembunyi di balik kacamata minusnya. Kau tidak pernah menemukannya dengan rambut berantakan yang diikat dengan karet—yang dia pungut sembarangan dari lantai—dan baju lusuh yang tidak juga diganti dari kemarin. Dia juga mungkin tidak ingin kau lihat dengan keadaan seperti itu.

Aku ingin sekali mengatakan itu kepadamu karena aku ingin kau melihat dia seperti apa-adanya. Seperti aku melihatnya di depan cermin setiap pagi dan menyesali satu-dua jerawat yang ada permukaan kulitnya. Tapi kau tidak pernah punya kesempatan itu karena kau selalu mengajaknya ke luar. Untuk melihat dunia, katamu. Sedang di luar sana, dia tidak bisa jadi dirinya sendiri. Dia ketakutan. Kau pasti tidak akan merasa.

Kalau aku katakan, kau jatuh cinta padanya karena tidak pernah melihatnya dalam keadaan biasa saja, kau pasti tidak akan percaya.

Dia adalah segala yang terlintas di imajinasimu. Kalau kau jatuh cinta padanya, itu bukan salahnya. Itu salahmu. Dia tetap saja sendiri di sana, di depan layar, mencari kata, dan merenungi banyak hari yang terlewat tanpa bisa dia bekukan dalam tulisan. Sementara kau membayangkan dia menari di atas kertas, tangannya terangkat, badannya berputar, dan rambutnya seperti benang-benang; yang kau lihat lerai, yang kutatap masai. Kau tidak pernah menemukan dia di sudut itu, tertawa dari balik buku terbuka. Atau terisak kecil. Atau menyanyikan pelan lagu yang mengingatkannya pada cerita yang sedang dia baca.

Kau mengajaknya mencari ujung pelangi. Aku membawanya menyusuri jalan kota setelah hujan, menjelang malam, ketika aspal hitam berubah kekuningan memantulkan cahaya, kami basah, dan aku tahu, malam itu kau resah. Kalau kukatakan padamu; bahwa pelangi tidak akan datang lebih dari setahun dua kali di bulan yang teriknya keterlaluan, kau pasti tidak akan percaya. Bukan dia tidak suka pelangi. Kau hanya menunjukkannya. Ketika hari itu kami melihatnya, aku mencarikan tali untuk diikat ke lengkungnya; membuat ayunan agar dia bisa melihat kota ini dari ketinggian.

Tapi aku tahu, dia selalu menunggumu. Walaupun sudah aku katakan untuk berhenti. Kau tidak akan datang di senja dengan langit merah-pedih. Kau juga tidak akan datang di pagi saat cahaya memecah simpul kusut malam. Kau tidak akan pernah datang, tapi dia selalu menunggumu karena dia sudah lama cinta padamu. Dan aku tidak sampai hati untuk mengatakan padanya, berhenti.

Kumohon berhenti.

Karena aku sakit sekali.

Credit to all images: www.freepik.com