Kelat

“Karena kita terbangun, maka lepasan cerita hitam-putih di kepalamu tadi, Nona, kita sebut mimpi,” katamu. Bening matamu seperti permukaan air; dia tenang, pertanda dia dalam.

Tapi aku ingin bermimpi, kataku, terus dan terus. Tidak ingin berhenti.

Tanganku melayang menangkapi debu-debu yang mengambang pelan di udara. Terlihat jelas karena sinar matahari pagi jatuh miring menimpa setelah melewati tirai terbuka. Mungkin ini pagi ke seribu aku di sini—aku sudah kehilangan hitung. Rasanya masih juga seperti pertama kali. Aku masih ingat debu-debu ini. Gerakannya. Lalu matamu. Lalu matahari itu. Seprai dengan wangi vanila. Kamu menjelaskan kalau kamu mencucinya dengan deterjen biasa lalu menyemprotkan parfum vanila ke permukaannya sebelum diseterika.

“Karena kamu suka vanila,” katamu.

“Karena hangat seperti pelukan dan ramah seperti hatimu yang sudah kuanggap rumah,” jawabku ketika itu.

Pagi ini kita akan di sini sampai menjelang siang. Lalu bangun karena terlalu lapar. Waktu berjalan lambat. Detak jam tidak terdengar. Kamu bercerita tentang padang dan layang-layang, tentang musim panen dan tumpukan mayang di pematang.

Layang-layang dengan ekor panjang seperti selendang penari, kataku.

“Seperti mimpimu,” ujarmu, “tinggi tapi tetap saja harus diikatkan dengan benang panjang agar tidak hilang di awang-awang. Angkasa itu luas, Nona. Semakin tinggi kau biarkan dia terbang, semakin banyak yang kau lihat, semakin kecil dunia ini buatmu, semakin kau ingin lebih tinggi.”

Apa kau tali yang mengikatku, Tuan? tanyaku.

“Bukan,” jawabmu.

Lalu apa?

“Itu keinginanmu sendiri untuk ada di sini dan jatuh cinta padaku setiap hari. Kamu selalu bisa pergi, tapi kamu tidak pernah pergi. Benang panjang itu…,” kamu menunjuk tengah dadaku, lalu menunjuk jantungmu, lanjutmu, “dari sini ke sini.”

Aku bangkit. Mencari pakaian yang tergeletak di lantai. Tapi aku tidak ingin mengumpulkannya. Aku diam saja di tepi ranjang. Matahari meninggi. Sinarnya memanas. Jatuhnya makin tegak. Debu-debu itu tidak kelihatan lagi.

Aku selalu ingin pergi, kataku, tapi kelebat ingin itu tidak pernah lama hinggap.

Seperti hantu yang hanya ingin menakutimu beberapa detik saja. Menguji ketahananmu. Keinginan itu tidak pernah kasat. Hitam putih. Seperti mimpi; menghilang begitu terjaga. Meninggalkan samar ingatan tentang potongannya.

“Karena kita sudah terbangun, maka jangan bermimpi lagi, Nona.”

Tapi aku ingin, bisikku, karena semua selain itu, kelat rasanya.

Credit to all images: www.freepik.com