Akhirnya saya membuat satu rubrik lagi di blog ini; Lagu dan Cerita. Setiap lagu akan biasa saja, menurut saya, kecuali kalau ada cerita (konteks) yang dimasukkan ke sana. Saya mengganti playlist di Spotify atau iTunes hampir setiap pekan, sesuai dengan apa yang terjadi dan bagaimana saya mau merasakan pekan itu. Musik memperkuat perasaan. Kadang saya menggunakannya untuk menghindari apa yang sesungguhnya saya rasakan. Ada pekan-pekan di mana saya merasa sedih sekali dan saya malah mendengarkan lagu yang cerianya minta ampun sebagai usaha agar saya tidak merasa sedih. Sedihnya tidak hilang sayangnya, hanya sudut pandangnya yang berubah.

Banyak lagu yang kemudian jadi kenangan karena ada hal-hal yang diiringi lagu itu. Saya ingin menuliskannya di sini.

Satu lagu yang sering saya putar dua pekan belakangan; Shame dari Ciaran Lavery. Saya ingat pertama kali mendengarkannya secara acak di premade playlist Spotify. Saya langsung suka karena suara Ciaran Lavery yang berat dan unik. Tapi kemudian saya juga tertarik dengan liriknya. Lagu ini, saya dengarkan ketika saya mewarnai. Semacam soundtrack untuk mewarnai, memang—awalnya. Lalu saya mulai mendengarkannya ketika saya naik bis ke Walmart. Ada perasaan sedikit kesepian ketika saya tinggal di Fayetteville. Bukan karena tidak ada orang yang jadi teman saya di sana. Saya punya beberapa. Tapi karena chemistry memang tidak bisa ditipu. Urusannya hanya; kamu cocok atau tidak dengan seseorang. Perasaan itu pun saya kubur dengan banyak membuat sesuatu. Saya kreator. Saya tenggelam dalam banyak hal yang saya buat.

Tapi kalau saya mendengarkan lagi lagu ini, sekarang, perasaan itu datang lagi. Bukan bagian kesepiannya, tapi bagian bahwa saya harus melakukan sesuatu karena tidak pernah saya mendengarkan lagu ini ketika sedang tidak melakukan apapun. Seperti pagi ini, saya membereskan outline naskah dan saya mencoba memutarnya berkali-kali.

Yang terlintas di kepala saya; kamera, pensil warna, aroma pensil warna, suhu di luar apartemen yang dingin luar biasa, lalu perasaan bahwa saya akan menyelesaikan sesuatu tidak lama lagi—karena untuk kreator seperti saya, perasaan paling membahagiakan itu ketika apa yang dibuat sudah selesai dikerjakan dan jadi sesuatu.

Saya ingin sebenarnya menggunakan kata ‘penulis’ untuk mendeskripsikan apa yang saya kerjakan. Tapi saya tidak hanya menulis jadi saya memilih kata itu; kreator. Toh, menulis juga tentang creating something out of letters and words.

Mungkin saya masih akan mendengar lagu ini beberapa pekan ke depan sambil menyelesaikan halaman buku mewarnai. Mungkin sambil berjalan ke luar untuk mengambil foto. Sudah lama sekali kamera saya disimpan di lemari. Mungkin juga sambil menulis karena beberapa bulan terakhir saya tidak menulis draft yang panjang. 

Salah seorang teman saya pernah bilang kalau saya paling produktif ketika saya jauh dari si Tuan. Itu memang benar. Karena memang tanpa dia, saya paling kesepian. Karena kadang perasaan itu tidak tertahankan dan pilihannya hanya; menenggelamkan diri sedalam-dalamnya untuk membuat sesuatu—dan menuntaskannya kalau bisa.

Padahal, lagu ini, menurut Ciaran Lavery, bukan lagu tentang kesepian. Tapi tentang ketakutan untuk bertemu dengan orang baru yang sama tidak sempurnanya dengan dirimu. Saya mengartikannya dengan beda—dan itu tidak mengapa, sepertinya, hahahaaa.

In an interview with Genius, Ciaran Lavery described “Shame” as, “A very simple song based around the expectations and fear that come with meeting someone new, as crippling as they are.”

Selamat mendengarkan. Semoga kalian juga suka–seperti saya suka sekali dengan lagu ini. Sudah menjelang jam setengah lima pagi dan saya harus berhenti sebentar, sepertinya.