Enggak ada lagu yang lebih menjelaskan tentang apa yang saya rasakan di akhir masa SMA selain Misread oleh Kings of Convenience. Lagu ini saya dengarkan di radio ketika saya bersiap berangkat di pagi hari, menjelang sore ketika saya sudah di rumah, dan sampai tengah malam ketika saya mengerjakan PR. Waktu itu, lagu ini salah satu lagu yang sering diputar dan ada di chart Prambors Radio sampai waktu yang lama.

If you want to be my friend

You want us to get along

Please do not expect me to

Wrap it up and keep it there

The observation I am doing could

Easily be understood

As cynical demeanor

But one of us misread

And what do you know

It happened again

Enggak ada lagu yang lebih menjelaskan tentang apa yang saya rasakan ketika itu; waktu yang seolah berkejaran di atas tumpukan buku, lalu kesepian. Iya, kesepian. Sampai menjelang awal masa kuliah, ketika saya bertemu dengan Tuan Sinung lalu berpisah, dan bertemu lagi sekitar satu setengah tahun kemudian, saya masih mendengarkan lagu ini. Masih dengan perasaan yang sama; kesepian. Saya berpindah dari satu kampus ke kampus lain ketika itu. Saya pikir, saya bisa meninggalkan hal-hal yang enggak saya suka dari diri saya di SMA atau di kampus yang lama. Ternyata enggak. Saya membawanya ke mana-mana. Hidup enggak semudah itu di-restart. Banyak yang kemudian saya salah baca—misread. Hubungan saya dengan banyak orang, terutama.

Bagian yang paling sulit dan menyebalkan ketika itu, seingat saya, adalah tentang ketakutan kalau saya sampai salah membaca hubungan saya dan si Tuan, karena; sometimes, friendship truly is an end for some relationships. Ada hubungan yang enggak akan bisa kamu bawa ke mana-mana selain hanya jadi teman—sedekat dan semengerti apapun kalian satu sama lain. Ini yang saya takutkan. Saya sudah menemukan hal seperti ini berkali-kali. Bukan karena enggak bisa jatuh cinta, tapi karena memang lebih baik enggak jatuh cinta karena hubungannya enggak akan bisa jadi apapun.

A friend is not a means

You utilize to get somewhere

Somehow I didn’t notice

Friendship is an end

What do you know

It happened again

Malam ini, saya teringat lagi lagu ini ketika saya sedang mengedit podcast untuk di-upload lusa. Pertamanya, saya teringat karena tema podcast pekan depan; The Power of Two. Kings of Convenience ini satu dari beberapa duo yang saya suka. Mereka termasuk The Power of Two favorit saya. Lalu ketika saya putar ulang berkali-kali, kenangan-kenangan itu muncul lagi. Seperti montage dengan backsound lagu ini di belakangnya.

Beberapa tahun belakangan, saya sudah enggak takut dengan segala kemungkinan bahwa hubungan harus berakhir hanya jadi pertemanan karena di titik ini, memang itulah yang saya lakukan; menjadikan semuanya pertemanan. Kadang ada yang mengingatkan untuk berhati-hati dengan pertemanan dengan lawan jenis, yang kemudian saya sambung dengan pertanyaan; “Bagaimana kalau sekarang saya lebih tertarik dengan sesama jenis?”—untuk berteman, maksud saya.

Bukan karena cowok enggak menarik untuk dijadikan teman. Tapi berteman dengan cewek lebih menantang karena buat saya, berteman dengan cowok itu mudah. Berteman dengan cewek itu, luar biasa susahnya. Jangankan sampai langgeng bertahun-tahun. Tetap bisa menjaga pertemanan itu enggak pudar di tahun-tahun awal saja rasanya sulit.

Saya bisa luar biasa sinis dan enggak peduli dengan teman cowok—in a good way. Saya bisa bilang apa saja dan mereka punya hati seperti dari batu; enggak akan sakit sedikit pun. Saya bisa jujur dan menerima kejujuran mereka. Lain cerita kalau dengan cewek. Kadang saya harus menekur di depan ponsel sampai lama untuk membuat satu-dua kalimat jujur tapi enggak menyakitkan. Itu sulit. Luar biasa sulit.

Tapi ketika saya mendengarkan lagi lagu ini, malam ini, saya teringat lagi; apapun bisa misread. Apapun bisa jadi salah terbaca. Kamu menuliskannya—menurutmu—benar, mereka membacanya salah. Dan saya tidak takut kesepian lagi karena:

How come no-one told me

All throughout history

The loneliest people

Were the ones who always spoke the truth

The ones who made a difference

By withstanding the indifference

I guess it’s up to me now

Should I take that risk or just smile?

Karena sependek pengalaman saya, mereka yang benar temanmu, akan datang lagi dan lagi. Apapun yang terjadi. Tinggal sama-sama tahu bagaimana caranya bertengkar lalu berbaikan lagi. Mungkin ini yang membuat saya jauh enggak kesepian lagi sejak beberapa belas tahun lalu; saya mengambil resiko untuk menjadi jujur. Lalu saya melihat siapa yang datang dan siapa yang pergi; enggak peduli dengan yang berlalu dan menjaga yang tetap kembali.

I guess it’s up to me now

Should I take that risk or just smile?

I’ll always go with the risks.