Kuteringat hati

yang bertabur mimpi

Ke mana kau pergi, cinta

Perjalanan sunyi

yang kau tempuh sendiri

kuatkanlah hati, cinta

Malam ini saya sempat tidur lama; lima jam dan pulas sekali. Bisa jadi ini karena saya sudah terlalu lelah bepikir beberapa hari kemarin. Rasanya ingin meletakkan kepala saya sebentar di atas meja dan merasakan hening—apa rasanya tidak berpikir? Atau; apa ada yang mau merasakan kepala seperti punya saya dengan segala isinya?

Saya bangun menjelang jam dua dini hari. Lalu membuka laptop. Berniat melakukan ini-itu tapi malah mengambil headphone dan memainkan musik dari iTunes. Asal saja. Asal berbunyi saja. Yang terdengar; Sebelum Cahaya dari Letto.

Saya sudah lama tidak mendengar lagu ini padahal saya sangat suka. Bukan cuma karena suara Noe yang—ini selera sih, sebenarnya—saya suka sekali karena, anu … karena saya pernah mendengar dia mengaji dan sama merdunya. Jadi dari dini hari tadi, lagu ini yang saya dengar diulang-ulang. Setelah beberapa pekerjaan beres, saya pun menulis post ini karena saya teringat betapa saya menyukai lagu ini bukan hanya karena easy listening, tapi karena bertahun-tahun saya menggunakannya untuk bunyi alarm di ponsel untuk membangunkan tahajud. Seperti apa yang memang diceritakan oleh lirik lagunya. Sepertinya, hanya satu tahun belakangan saya tidak punya alarm karena—entah kenapa—saya berpikir kalau saya tidak membutuhkannya.

Ingatkah engkau kepada

embun pagi bersahaja

yang menemanimu

sebelum cahaya

Ingatkah engkau kepada

angin yang berhembus mesra

yang ‘kan membelai mu, cinta

Sempat dulu, saya lupa tepatnya, lagu ini dijadikan bahan diskusi di internet. Bukan cuma tentang maknanya, tapi juga tentang siapa yang dipanggil ‘cinta’. Waktu itu, sayangnya, saya juga tidak tertarik mengikuti diskusinya sampai suatu ketika, saya mendengar sendiri Noe menceritakan tentang lagu ini di sebuah acara Maiyah.

Saya lebih dulu tahu Cak Nun dibanding Noe. Sinung jauh lebih dulu tahu Cak Nun karena dia suka membaca esainya (dan mengoleksi bukunya) sejak SMP—maklumlah, anak pesantren. Ketika saya tahu Noe itu anak Cak Nun (dan ini setelah saya jadi penggemar Letto beberapa tahun), saya sempat sebel juga. Bagaimana bisa? Maksud saya; bagaimana bisa anak ini seperti bapaknya tapi versinya beda? Dan saya jatuh cinta pada mereka berdua.

Di awal masa SMA, saya punya buku Cak Nun yang judulnya Cahaya Maha Cahaya. Sewaktu saya mendengarkan lagu Letto ini, saya teringat puisi itu. Sebenarnya, kalau dibaca, tidak ada satu hal pun yang bisa mengaitkan puisi ini dengan lagu Sebelum Cahaya selain, mungkin, kata ‘cahaya’. Karena saya sempat sebal setengah mati ketika ada band lokal yang dengan semena-mena menggunakan puisi Gibran dan Rumi untuk lirik lagunya, Letto ini saya pikir akan sama saja; menyontek dengan dalih terinspirasi. Duh, kata-kata saya ini keras sekali.

Bisa jadi, begitu tafsiran saya ketika mendengar Noe menjelaskan lagu ini, bisa jadi ‘cinta’ yang dia maksudkan adalah ayahnya. Yang sejak kecil dia lihat bangun malam dan berjalan menembus embun pagi untuk sholat malam ‘sebelum cahaya’. Bisa jadi ‘hati yang bertabur mimpi’ itu adalah keinginan ayahnya untuk melakukan banyak hal dan untuk itu dia harus pergi ke tempat-tempat jauh—yang harus dia tempuh sendiri. Tapi bisa jadi, ‘cinta’ itu Muhammad (PBUH) seperti yang kemudian mereka ceritakan juga di lagu Bunga di Malam Itu.

Saya suka konsep seseorang menuliskan sesuatu untuk orang yang lain. Ini yang sering kali saya kerjakan ketika menulis. Saya nyaris tidak pernah menulis bukan untuk siapa-siapa—apalagi untuk diri saya sendiri. Pun itu sekedar tweet, caption Instagram, atau tulisan lebih panjang seperti puisi, prosa, cerpen, atau novel. Ini sebenarnya untuk melogika apa yang saya pikirkan tentang orang itu, kejadian, atau kadang hanya sekedar berusaha memahami apa yang saya rasakan. Bukan untuk nyinyir. Setelah saya tulis, biasanya saya jadi lebih mengerti karena menulis memberi jarak, dan jarak mengubah pandang. Kadang juga, saya bilang saya si Tuan misalnya, kalau saya menuliskan sesuatu untuknya. Hanya agar dia tahu. Jadi dia selalu tahu mana yang saya tuliskan untuknya dan mana yang bukan.

Yang menyedihkan dari ini, sebenarnya, saya nyaris tidak pernah jadi bahan tulisan siapapun. *ketawa pedih* Dulu sekali, sewaktu saya dan si Tuan baru menikah, dia pernah menuliskan satu buku yang isinya kenang-kenangan tentang kejadian dan tempat yang pernah kami alami dan datangi. Tapi itu lebih seperti laporan kegiatan. Di bagian depannya, sebagai kata pembuka, dia menuliskan lirik lagu Dragon Balls. Bodoh. Buku itu masih saya simpan—tapi entah di mana.

Oh, ada satu tulisan yang dibuat si Tuan tentang saya dan berkali-kali saya bertanya padanya, “Lo beneran melihat gue seperti yang lo tulis di tulisan ini? Serius? Ini … too beautiful to be true!  Dan ya, sepertinya saya juga punya impostor syndrome.

Kalau ada yang menjadikan saya bahan tulisannya, entah itu memakaikan saya topeng dalam fiksi atau membiarkan saya terlihat jelas, saya sendiri tidak tahu harus bagaimana dan merasakan apa karena beberapa kali saya membaca ada yang menceritakan pertemuan mereka dengan saya di blognya dan saya … saya juga selalu tidak tahu harus bagaimana. Huft. Terakhir, ada teman yang berkomentar tentang penampilan saya yang baru sekali dia lihat—karena selama ini kami cuma chat—dan saya juga tidak tahu harus bagaimana. Padahal dia memuji bukan memberikan kritik. Saya harusnya bagaimana selain bilang terima kasih? *beneran nanya* Mungkin karena itu juga saya menyimpan surat-surat yang dikirimkan ke saya seperti harta karun karena saya tahu; itu ditulis hanya untuk saya. Hanya untuk saya.

Jadi, lagu yang dituliskan anak lelaki untuk ayahnya, buat saya, rasanya … indah sekali.

Dan saya sudahi saja tulisan ini sampai di sini—sampai ketika cahaya matahari pagi memerah dan saya lebih ingin memandanginya dibanding melanjutkan apa yang saya tulis di sini.

Cahaya Maha Cahaya

(Emha Ainun Nadjib)

Usiaku enam hari

Enam hari yang menakjubkan: Tuhan bermain ruang

waktu di tangannya, bisa kau bayangkan?

Hari pertama cahaya maha cahaya

Cahaya maha cahaya tak bisa dikisahkan

Bisa, mungkin. Tapi kita ini dungu

Ilmu kita tingkat serdadu

Hari kedua kegelapan tiada tara

Beberapa kata mulai bisa mengucap, karena

rahasia mulai berlaku di depanmu sebagai rahasia

Hari ketiga kau adalah kau, aku masih aku

Baru kelak tuhan, semua kita nangis cengeng

Kita melempari galaksi supaya bintang runtuh, kita

mengais-ngais bumi mencari emas permata untuk

kita kunyah-kunyah demi mengisi hari dengan ketololan

Di hari keempat engkau adalah dunia ini

Kalau kau gembira bukanlah kau yang bergembira

sebab sesungguhnya tak kau perlukan kegembiraan

Kalau kau bersedih kehidupanlah yang bersedih

sebab kesedihan tak sanggup menyentuh jiwamu

Kau tak membutuhkan suka duka, harta atau

kepapaan, kau tak terikat oleh penjara atau

kemerdekaan, kau lebih perkasa dari ketakutan

atau keberanian, kau lebih tinggi dari derajat

kehinaan, kau lebih besar dari kehidupan atau maut

Di manakan engkau bersemayam kiranya?

Hari keempat telah senja dan fajar hari kelima

mulai menyiapkan pemenuhan janjinya

Hari kelima gelap gulita

Hari di mana engkau sirna, di mana engkau tak engkau

Hari yang menjelmakan kembali cahaya

Menyatu ke hari keenam cahaya maha cahaya