Di Podcast PMJ Eps. #2, kami sempat membicarakan tentang film Mira Lesmana dan Riri Riza yang paling bagus—menurut kami. Pilihan itu jatuh ke Tiga Hari untuk Selamanya (THuS). Memang yang paling terkenal; Ada Apa dengan Cinta (AADC). Tapi sepertinya, AADC ini bagus ketika ditonton sewaktu saya SMA. Ceritanya masih terasa relevan ketika itu. Tapi, ketika saya beranjak dewasa (halah), cerita AADC ini jadi enggak bisa saya indentifikasi lagi. Dulu cerita itu memang pernah begitu menyentuh. Dulu. Sekarang enggak lagi. THuS lebih menjelaskan tentang apa yang saya rasakan. Bahkan sampai sekarang.

Pertama, saya masukkan dulu musik latar untuk membangun mood sepanjang membaca tulisan ini. ^^

Saya menonton THuS di bioskop. Sepi. Entah mengapa. Sepertinya film ini juga enggak terlalu dipromosikan—sepertinya. Enggak seperti AADC atau Petualangan Sherina. Kebetulan, waktu ke bioskop, saya melihat film ini dan langsung saja saya tonton tanpa pikir panjang karena melihat nama Mira Lesmana dan Riri Riza di sana. Dari posternya, sudah kelihatan kalau ini road movie. Saya bukan penggemar road movie, sih. Ada satu yang begitu saya suka Le Grande Voyage, tapi ini pun karena saya menonton di Jiffest waktu itu dan penonton satu bioskop menangis semua. Di tengah emosi seperti itu, enggak bisa enggak saya jadi ikut terpengaruh.

THuS ini bercerita tentang Ambar (yang di sepanjang film dipanggil dengan nama panggilan; Bay) dan Yusuf. Mereka sepupu. Entah bagaimana hubungan sepupu mereka (dari garis ibu atau ayah) enggak dijelaskan di film ini. Yang terlihat jelas; mereka sangat akrab.

Yusuf dan ayahnya datang ke rumah Ambar dan di sana dia dapat tugas untuk membawa piring warisan keluarga dari Jakarta ke Jogyakarta lewat jalan darat karena ibunya Ambar (namanya enggak disebutkan) enggak percaya kalau piring warisan itu dibawa menggunakan pesawat. Perangkat makan ini akan dipakai di malam midodareni. Ketika orangtua memberi makan anak gadisnya untuk terakhir kali.

Ambar dan Yusuf yang bertemu malam itu, melarikan diri dari ramainya sanak-saudara mereka di rumah dan pergi ke diskotik. Minum sampai lewat tengah malam dan kesiangan besok paginya. Ambar ketinggalan pesawat dan dia enggak mau menyusul dengan penerbangan berikutnya. Dia lebih suka ikut dengan mobil Yusuf dengan pertimbangan; dia akan sampai lebih lama dan dengan begitu, dia akan ada Jogya sampai hari pernikahan kakaknya lebih singkat. Dia enggak suka ada di tengah keluarga besarnya yang begitu ramai.

Di awal perjalanan, Yusuf mampir ke rumah salah seorang temannya untuk memberikan tugas yang ditukarkan dengan satu bungkusan ganja. Iya, di sepanjang film ini, Yusuf dan Ambar dengan bebasnya giting, merokok, kobam, you name it. Mereka bebas.

Apa mereka merepresentasikan gaya anak muda Jakarta ketika itu? Saya sih, bisa bilang iya karena memang ada yang gaya hidupnya seperti mereka. Karena itu apa yang mereka lakukan, buat saya, jadi begitu real. Enggak ada yang di-sugar coated. Apa adanya. Karena itu pula, film ini jadi begitu dalam rasanya di saya.

Mereka enggak tahu jalan darat dan Ambar mengajak Yusuf untuk mampir ke Bandung. Di sana mereka menginap. Lalu mampir lagi di sepanjang perjalanan. Membuat perjalanan yang harusnya hanya satu hari jadi mulur sampai tiga hari. Di sepanjang waktu itu, mereka bercerita, tertawa, bertengkar, menangis, dan yang paling saya suka dari semuanya adalah penggambaran bahwa; kamu ada di perjalanan seperti itu dengan seseorang selama tiga hari, maka yang akan kamu dapati di hari ketiga bisa jadi, cinta. Bisa jadi, kamu jatuh cinta.

Di akhir masa SMA saya, satu angkatan anak kelas tiga perpisahan ke Jogya. Yang terjadi memang seperti itu; suasana yang intens dan membuat hal yang kamu enggak sangka sebelumnya bisa terjadi. Termasuk di antaranya; jatuh cinta dan menemukan teman baru.

Ini aneh karena di sepanjang tiga tahun masa sekolah, orang yang kemudian jadi pacar atau sahabat selepas SMA itu enggak kelihatan. Dia ada tapi enggak pernah dekat. Perjalanan dan semua yang terjadi di sepanjang perjalanan itu mengubah semua.

Ini satu dari banyak hal yang bisa membuat orang jadi jatuh cinta. Satu yang lain, yang menurut saya mirip; cinta lokasi. Ketika kamu ada di satu lokasi yang sama untuk pekerjaan atau hal lainnya (termasuk ada di kelas yang sama sekita sekolah). Apalagi kalau kemudian kamu banyak berinteraksi. Ada di satu proyek juga bisa membuat kamu jatuh cinta dengan teman kerjamu. Lagi-lagi ini tentang interaksi. Saya percaya ada yang namanya cinta pada pandangan pertama. Tapi buat saya, itu enggak seromantis kedengarannya. Malah terdengar seperti agak asal dan aneh. Seperti menembakkan panah ke langit dan menerima apapun yang dikenainya. Kita selalu bisa memilih dengan siapa kita jatuh cinta. Hanya saja, kadang kita enggak tahu kalau ada situasi tertentu yang membuat pilihan meruncing, emosi menguat, dan akhirnya, memudahkan semua yang enggak disangka sebelumnya.

Buat saya, THuS ini seperti itu. Siapa sangka kalau dua sepupu pada akhirnya jatuh cinta? Dan siapa sangka pula ketika mereka membiarkan semua emosi itu menguasai mereka, pilihan yang diambil tetap yang paling logis; enggak terlibat dengan apapun yang ada di sana; cinta dan sejenisnya. Ada memang hubungan yang kalau ada cinta di dalamnya, everything will comes out moron. Ambar dan Yusuf tahu itu.

Hal lain yang saya suka dari film ini adalah penggambaran bahwa anak muda yang cuek, dengan satu bungkus ganja di tas mereka, yang lebih banyak giting di sepanjang jalan, juga punya pandangan tentang hidup yang dalam. Kelihatannya mereka—kalau dari luar—seolah enggak punya rencana, bahkan kelihatan seperti enggak bisa memahami hal dengan lebih dalam. Tapi ternyata enggak. Mereka manusia juga. Mereka berusaha memahami hidup seperti manusia yang lain juga. Itu yang tampak dari obrolan Yusuf dan Ambar. Mereka berbeda. Yusuf lebih kolot dan ‘manis’. Ambar pemberontak dan berani. Mereka pun melengkapi satu dan lainnya.

Saya nonton Silence-nya Martin Scorsese belum lama ini. Film yang membuat saya berpikir lama setelah menonton. THuS mungkin enggak sedalam itu, tapi efeknya sama; membuat saya berpikir lama setelah menonton. Karena itu saya merekomendasikan film ini untuk kalian yang ingin melihat sudut lain dari pemahaman anak muda tentang hidup. Mungkin juga sedikit tentang cinta dan tentang bagaimana waktu dan keadaan bisa membuat kamu jatuh cinta. Juga dengan keputusan rasional di belakangnya; ada cinta yang enggak pernah akan jadi apa-apa. Cinta semacam ini kalau diteruskan, hanya akan menghancurkan apa yang sudah ada. Jadi, hati-hati.

Ini satu film yang jadi favorit saya dan juga penampilan Nicolas Saputra yang paling saya suka. Soundtrack-nya, ah … satu album Float yang luar biasa. Pengalaman menonton yang menyenangkan dan ‘tersisa’ lama emosinya, pokoknya!