Sekitar dua pekan lalu, salah seorang teman saya menelepon dan saya bilang padanya, “Gue lagi males banget ngomong.” Ini saya katakan karena dia bertanya tentang jawaban singkat yang saya berikan, enggak seperti biasanya yang luar binasa cerewet.

Dia pun balik bertanya, “Kenapa?”

“Bibir sakit. Bagian dalamnya berdarah,” jawab saya.

“Kenapa? Sariawan?”

“Bukan. Kegigit pas cipokan.”

(Kalau saya tertarik untuk membuat click-bait title, judul post ini tentulah akan saya buat jadi; Saya Ingin Berbohong, Ayo Cari Tahu [Insert Number Here] Alasannya! Hahahaaa. Tapi saya pun ternyata enggak punya kemampuan seperti itu, sayangnya. Walaupun tepat sekali, itu yang memang ingin saya kerjakan sekarang.)

Setelah saya memberikan jawaban itu, saya baru sadar bahwa seharusnya saya bisa lebih subtle. Lebih apa yaaa … istilahnya. Hmmm, bagaimana dengan kalau saya katakan; seharusnya saya bisa sedikit berbohong. Tapi saya katakan juga yang sebenarnya, bulat, begitu saja, apa-adanya. Beberapa hari yang lalu, saya ceritakan ini pada Tuan Sinung dan dia mengerenyit.

Lalu bertanya, “Why did you tell him that?”

Dia bertanya mengapa jawaban saya terlalu jujur—apa jujur bisa keterlaluan? Saya jelaskan; saya sulit untuk merangkai kebohongan secepat itu. Apalagi untuk jawaban spontan—dan untuk masalah enggak penting. Buat si Tuan, mungkin ini bukan tentang ciumannya. Bisa jadi ini tentang; setelah sekian lama, kecelakaan seperti itu masih juga bisa terjadi dan itu memalukan. Yang seharusnya sudah bisa lebih ahli. Hahahaaa. Buat saya, ini tentang betapa lambatnya saya membayangkan jawaban apa yang bisa saya berikan selain yang sebenarnya.

Pagi ini, saya merancang sebuah cerita dengan unreliable narrator di dalamnya. Sudah lama saya ingin membuat cerita seperti ini. Sederhananya, unreliable narrator adalah pencerita yang enggak bisa dipercaya. Bisa jadi karena di sepanjang cerita dia mabuk dan ingatannya ada yang hilang, seperti di novel A Girl on the Train. Tapi saya enggak mau membuat yang seperti itu.

Saya melihat bahwa sebenarnya kita—manusia—kadang sangat mudah berbohong. Seperti ketika saya berjalan ingin ke pasar dua hari lalu dan bertemu dengan seorang tetangga. Saya bertanya padanya, “Mau ke mana, Bu?” Dia menjawab, “Ke sana,” sambil menunjuk ujung gang. Saya tahu dia mau ke pasar. Mudah saja melihatnya; membawa tas belanjaan, memakai daster, pakaiannya enggak rapi, dan ketika itu memang jam di mana orang memang sedang ramai di pasar. Sambil berjalan, saya berpikir, “Kenapa enggak langsung menjawab ‘pasar’? Mengapa harus menunjuk tempat yang enggak masuk akal?” Bukankah itu semacam kebohongan kecil?

Di pasar, saya bertemu lagi dengannya. Jadi, analisa saya benar.

Lalu saya bertanya lagi, kali ini semacam mempermasalahkan; mengapa narator di fiksi itu dengan begitu mudah kamu percaya? Apalagi kalau POV-1? Apa yang jadi acuan kalau dia enggak sedang berbohong untuk menarik simpatimu pada ceritanya? Bagaimana kalau seluruh yang dia ceritakan itu adalah kebohongan? Padahal ketika kita bercerita tentang sesuatu pada seseorang, ada kemungkinan terselip kebohongan di dalamnya—walaupun sedikit, walaupun kita enggak sadar.

Saya ingat di akhir tahun lalu, ketika saya mengalami hal besar yang membuat depresi, dan saya enggak mengatakannya pada siapapun. Bukan karena saya enggak bisa menceritakannnya, bisa jadi itu salah satu sebabnya. Tapi karena saya kalut ketika itu. Saya sedih dan sampai pada titik di mana kesedihan itu sudah enggak bisa saya rasakan lagi. Kebas. Saya takut, kalau saya harus bercerita, maka garis antara fiksi dan fakta itu akan saya lewati. Atau lebih parah lagi; saya enggak tahu di mana garisnya. Jadi saya enggak bercerita—dan buat saya, enggak bercerita itu bukan berbohong. Itu hanya kebenaran yang saya tahan. Versi cerita itu yang saya pahami adalah yang ada di kepala saya saja. Itu yang saya anggap kebenaran walaupun untuk orang-orang yang paham apa yang terjadi waktu itu, bisa jadi, mereka punya cerita lain.

Ada tiga versi dalam setiap cerita, kata Rupaul Charles; your version, my version, and The T (The Truth).

Kadang saya mempertanyakan ini; apa batasnya sehingga your version bukan versi benar dari my version (yang bohong)? Vice versa. Atau; apa mungkin ketika dilihat dari The T, dua cerita yang lain itu bohong? Apa batasnya? Apa yang membedakan antara persepsi orang terhadap cerita—yang kemudian membuat cerita itu jadi berbeda—dengan straight-up lies?

Saya teringat film Rashomon. Di sana, ada beberapa versi cerita yang berbeda yang diceritakan oleh narator yang berbeda untuk satu kejadian yang sama. Setiap orang bercerita untuk kepentingannya sendiri. Ada yang memang sengaja menyembunyikan sesuatu karena dia memang enggak ingin hal itu diketahui. Ada yang memang sepertinya karena masalah persepsi. Dia melihat kejadian itu dari sudut pandang lain. Sampai di akhir film, mana cerita yang benar, penonton enggak tahu.

Pekan kemarin, saya baru menonton 13 Reasons Why (saya sedang menulis reviewnya sekarang) dan di akhir episode 13, ketika Jessica ditanya tentang kaset yang kabarnya tersebar di sekolah, dia menjawab, “Enggak tahu.” Ini bohong. Ini bohong yang jelas kelihatan dan alasan mengapa dia berbohong pun, penonton tahu. Tapi di kehidupan nyata, kan, enggak begini cara kerjanya.

Kemarin, saya menonton Westworld. Cerita tentang taman permainan (amusement park) dengan manusia buatan di dalamnya. Kamu datang ke sana, kamu bisa merasakan hidup di dalamnya dan menjadi apapun yang kamu inginkan. Ini juga kebohongan yang dibuat, kan? Kamu menjalani hidup yang bukan hidupmu karena kamu ingin merasakan yang lain. Tapi saya melihat ini bukan karena orang-orang yang datang ke taman permainan itu ingin berbohong; mereka hanya jenuh. Jenuh yang membuat mereka ingin merasakan hidup di tempat yang bukan realita.

Saya menjadi paham bahwa berbohong itu amusing memang. Bisa jadi ini alasan mengapa orang berbohong. Ini juga yang membuat saya menjadi memikirkan cerita-cerita yang saya katakan pada teman-teman saya dan melihat ulang, apa ada kebohongan di sana? Bisa jadi, ada. Saya yakin ada—walaupun saya enggak sadar melakukannya dan berpikir saya sudah menghindarinya. Enggak berbohong itu (jangan-jangan) lebih sulit dibanding berbohong. Saya ingat dengan pesan singkat yang saya kirim ke seorang teman dan bilang kalau saya baik-baik saja pekan lalu. Sepertinya saya berbohong karena waktu saya mengetikkan itu, saya baru saja berdiri dari jongkok beberapa lama di samping meja. Pandangan saya berkunang lalu menghitam karena darah rendah.

Ketika saya membalas pesannya, saya memang sudah enggak kenapa-kenapa; sudah duduk di bangku, di depan laptop, dan merasa baik-baik saja. Saya jadi mempertanyakannya lagi sekarang; yang saya lakukan bohong atau enggak? Tapi bisa jadi enggak karena saya menjawab persis seperti yang saya rasakan ketika menuliskan pesan itu—bukan sepuluh menit sebelumnya. Atau saya berbohong? Karena ketika mengetikkannya pun, darah saya masih rendah. Yang sudah hilang hanya gejalanya saja.

Sampai pulang dari pasar di hari itu pun, saya masih enggak bisa memutuskan di mana batas bohong dan enggak bohong. Saya juga belum bisa memutuskan bagaimana menarik garis di antara; bohong dengan sadar dan bohong karena persepsi atau sudut pandang. Sampai hari ini pun, ketika saya sedang membuat outline, saya masih memikirkan itu—dan karena saya ingin pikiran ini out of my system sementara waktu selagi saya mengerjakan tulisan lain, saya pun menuliskan ini. Saya ingin menjadi enggak seperti saya di kehidupan nyata; terlalu sulit berbohong karena sepertinya otak saya sudah dipenuhi oleh banyak cerita bohong (baca: fiksi) yang lebih perlu perhatian serius dibanding satu-dua hal yang ditanyakan orang dan saya enggak punya ruang lagi untuk meramu sedikit kebohongan untuk dicampurkan ke sana.

Beberapa waktu yang lalu, saya jengkel sekali dengan seseorang yang menarik kesimpulan salah tentang pertemanan saya dengan seorang cowok. Saya katakan padanya yang ada dan benar itu seperti apa. Tapi setelah itu, saya tertarik pada hal lain; persepsi. Betapa mudahnya persepsi itu dibentuk. Kalau saja orang ini lebih rajin kepo, dia akan menemukan banyak hal tentang saya yang membuat kesimpulannya salah. Dia enggak melakukannya. Dia lebih suka dengan persepsi dia sendiri karena imajinasi memang lebih menarik dibanding kebenaran yang ternyata sederhana dan membosankan. Saya pun menyesali langkah yang saya buat untuk langsung menghancurkan semua yang dia pahami tentang hubungan itu. Saya bisa memakai ini untuk melihat sejauh mana batas pikirannya; apa sampai ke ranjang seperti yang dulu itu? Saya ingin menakar imajinasi orang yang dibangun dari interaksi sekedarnya di sosial media. Ah, sayangnya, saya langsung terbawa perasaan waktu itu. Sayangnya. Hahahaaa.

Otak saya sudah lelah dengan kebohongan fiksi yang saya buat. Ini juga yang membuat saya enggak sanggup untuk berkata yang lain selain yang memang terjadi atau yang sedang saya rasakan; kangen, sedih, marah, dan sebagainya. Saya akan mengatakan yang sebenarnya kalau ditanya karena menyembunyikannya membutuhkan tenaga, ruang, dan daya ingat yang kuat agar ketika cerita itu ditanyakan lagi, saya punya jawaban yang persis sama. Sama seperti jawaban bahwa saya mencintai seseorang sama besarnya selama sepuluh tahun lebih. Itu kalimat bohong. Di sepanjang waktu itu, ada bulan-bulan di mana saya enggak merasakan itu atau merasakan lebih dari itu. Tapi untuk menyederhanakan pernyataan, kalimat itu bisa diterima. Tapi, itu jadinya bohong, kan?

Hmm, bisa jadi enggak begitu juga, sih.

Ah, sudahlah. Ini rumit. Kali ini, di kebohongan fiksi itu, saya masih ingin berbohong. Sayangnya, itu pun sulit.

Mungkin saya harus mencari tahu lebih jauh tentang urusan bohong-enggak bohong ini. Ditambah lagi tentang persepsi. Atau perlu sampai ke bagaimana otak bekerja memproses realita? Bagaimana dengan orang yang punya halusinasi? Atau delusi? Atau pikun?

Ini jadi tambah rumit.

Saya pun merasa jadi unreliable narator bahkan untuk tulisan ini. Jangan percaya semua yang saya tulis karena persepsi saya bermain di dalamnya dan bisa jadi, itu mengaduk batas antara bohong dan enggak bohong.

Ah!