Mungkin enggak teman atau sahabat mencampakkanmu? Ini pertanyaan yang kadang saya tanyakan ketika saya menyadari bahwa ada beberapa teman dekat yang sudah lama enggak bertukar kabar dan bukan karena ada perubahan ini-itu di dalam hidup kami, tapi karena dia menghilang begitu saja. I’m ghosted.

Yang akan saya bicarakan di sini bukan romantic relationship karena, percayalah, itu lebih sulit. Orang biasanya bersikap lebih buruk, lebih tanpa dipikir, dan kadang enggak masuk akal kalau menyangkut cinta dan hubungan percintaan karena ada emosi yang primal di situ. Ini pula yang membuat dua orang teman atau sahabat dekat, yang kemudian salah satunya jatuh cinta, akhirnya kebanyakan enggak baik. Walaupun kamu bisa saja ghosted by romantic partner tapi biasanya ini lebih kelihatan dan lebih bisa diselesaikan dibanding dengan teman atau sahabat. Pasangan kamu tiba-tiba menghilang, kamu akan cepat tahu. Sahabatmu menghilang dari hidupmu, kamu perlu beberapa lama untuk sadar karena tuntutannya beda.

Saya menulis tentang ini karena kemarin saya baru saja mendengarkan podcast Dear Sugar yang membahas tentang Haunted By Ghosting.

Ketika cinta masuk ke persahabatan, pihak yang jatuh cinta tercekat karena memang dasar dari hubungan persahabatan dan percintaan itu sama sebenarnya—ketika kita bicara kedekatan emosional—tapi di dalam hubungan cinta, ada satu lagi unsur yang masuk; nafsu (lust). Di sini rumitnya. Nafsu ini minta dipuaskan—itu sudah sifatnya. Ini kita bicara bukan hanya tentang nafsu yang berhubungan dengan fisik, ya, tapi juga emosional. Nafsu ini yang membuat kamu meminta pernyataan cinta lima kali dalam sehari—misalnya, yang membuat kamu menuntut kesetiaan, dan lain sebagainya. Dalam persahabatan ini enggak ada. Kamu hanya merasa sayang, itu saja.

Pertanyaannya sekarang; mana yang lebih baik?

Buat saya sama saja, sih. Yang satu lebih primal dengan emosi dan perilaku purba. Yang satu lebih murni karena menuntut pengertian dan kedekatan. Bisa dicampur? Bisa. Tentu saja, bisa. Masukkan hukum agama dan negara, maka kamu akan punya trio yang namanya; pernikahan.

Dalam dua hubungan ini, kamu bisa dicampakkan. Kamu bisa ditinggalkan. Hal paling buruk yang bisa terjadi dalam persahabatan, proses dicampakkannya itu kadang enggak kelihatan dan baru terasa setelah beberapa bulan karena dalam dua hal itu, enggak ada tata-cara bagaimana mengakhiri hubungan. Tapi dalam percintaan, ada dan jelas. Bilang, “Kita putus.” Selesai sudah. Enggak perlu dua pihak setuju—satu saja cukup.

Saya pikir enggak ada kata yang menjelaskan tentang hilangnya seseorang dalam hidup kita. Tapi ternyata ada. Belum ada padanan kata Bahasa Indonesianya, ternyata, jadi saya pakai istilah aslinya saja; ghosting.

Ghosting is a new word. Padahal konsepnya sudah lama ada. Hanya saja sekarang menjadi lebih kasual karena adanya internet dan ponsel; kamu bisa diraih tanpa susah payah. Kamu jadi lebih accessable. Membuat ekspektasi tentang komunikasi menjadi berubah. Impact-nya beda dengan jaman dulu dengan surat yang perlu waktu lebih lama. Kalau kamu enggak membalas surat, kamu bisa bilang, “Sibuk.” Surat lebih butuh usaha; menulis, memasukkan ke amplop, membeli perangko, pengiriman, dan sebagainya. Masuk akal kalau itu merepotkan dan memakan waktu.

Ghosting ini istilah yang dipakai untuk pasangan dan sahabat (orang yang punya hubungan dekat denganmu, bukan cuma kenalan) yang tiba-tiba menghilang dari hidupmu, enggak bisa dihubungi, dan enggak membalas email, chat, atau apapun yang kamu kirimkan, tanpa kamu tahu alasannya. Kalau untuk orang-orang yang sekadar kenal, saya rasa ini sering terjadi. Tapi enggak ada akibat dan impact apapun karena terasa biasa. Tapi untuk sahabat yang punya kebiasaan komunikasi denganmu, ketemu, dan sebagainya, ini menjadi menyakitkan. Kata ‘ghosting’ ini menjadi tepat untuk menjelaskannya karena kamu bukan saja merasa ditinggalkan—dan dia menghilang seperti hantu—tapi kamu dihantui oleh rasa kehilangan dan pertanyaan.

Kamu dihantui pertanyaan; mengapa dia menghilang? Kamu akan berpindah dari pertanyaan; what’s happened to him/her? Jadi; what’s wrong with him/her? Ke; what’s wrong with me (that made him/her did that)? Pertanyaan terakhir ini akan jadi racun karena kamu akan membuat cerita untuk menutupi ketiadaan cerita sehingga kamu akan lebih paham dengan apa yang terjadi. Ini disebut cognitive closure. Kalau dalam pembahasan tentang plot dan narrative, kamu jadi semacam mengisi plot hole dengan narrative yang kamu buat sendiri sehingga otak kamu bisa mencernanya.

Di cerita yang kamu buat itu, kamu akan jadi yang bersalah. Yang enggak pernah dirasakan ghoster adalah; hal yang mereka lakukan membuat ghostee menjadi berpikir bahwa kehadirannya enggak berharga.

Saya pernah jadi ghostee dan rasanya campur-aduk. Pertamanya, ego saya yang merasa diserang. Setelah semua yang kami lalui bersama, dia menghilang begitu saja. Lalu rentetan pertanyaan yang berapapun banyaknya, enggak akan ada jawabannya karena memang kadang enggak ada jawabannya. Kalaupun suatu ketika kami bertemu lagi, jawaban yang dia berikan untuk pertanyaan ini bisa jadi ada, tapi enggak pernah bagus. Never good enough. Apalagi kalau saya sudah kadung terluka.

Saya pernah jadi ghoster dan alasannya kadang bukan karena sahabat saya itu melakukan hal buruk pada saya—walaupun ini beberapa kali terjadi. Saya menghindari orang-orang karena enggak ingin disakiti lagi. Beberapa kali alasannya karena saya merasa bahwa di waktu itu, saya enggak akan jadi sahabat yang baik buatnya. Kadang lagi, karena dia punya banyak cerita yang dia bagikan ke saya dan enggak bisa saya tanggung. Tapi satu yang pernah terjadi dan yang ini sangat saya sesali; karena saya jatuh cinta padanya.

Seperti yang saya tulis di atas; orang yang sedang jatuh cinta itu kemasukan segala emosi primal yang kadang mereka sendiri enggak paham. Mereka meminta pemuasan. Itu yang terjadi. Saya pun tercekat dan kabur—sejauh dan secepat yang saya bisa. Menghancurkan apa yang sudah dibangun bertahun-tahun. Padahal bisa saja, ini dibicarakan. Bisa saja saya bicara untuk membentuk ulang hubungan kami. Sayangnya, itu enggak saya lakukan. Hal ini juga pernah terjadi kebalikannya pada saya dan ketika itu, saya bisa memahami dia. Saya membiarkannya pergi karena memang hubungan itu sudah terlalu rusak.

Kadang saya pikir, seharusnya pertemanan dan persahabatan itu juga punya sebentuk aturan yang bisa dibicarakan dan dinegosiasikan. Tentang apa yang masing-masing harapkan agar ekspektasinya bertemu. Di pertengahan 20-an, saya merasakan memang di umur itu, saya paling dekat dengan teman-teman saya. Tapi beberapa tahun kemudian, mereka punya pacar, menikah, pindah, dan sebagainya sehingga kadang saya yang masih sangat membutuhkan mereka jadi enggak mendapat apa yang saya harapkan. Pernikahan teman kita—dan juga pernikahan kita—memang membuat persahabatan menjadi berbeda. Ini tentang waktu dan kebutuhan. Ketika kamu punya suami atau istri (bahkan dalam tahap pacaran), bisa jadi kamu mengabaikan sahabatmu karena kebutuhanmu untuk bercerita dan sebagainya, sudah dipenuhi oleh pasanganmu. Memang ada yang enggak tergantikan.

Seberapapun dekatnya saya dengan Sinung, dia enggak akan bisa menggantikan beberapa orang sahabat dalam hidup saya karena ada yang saya enggak dapat dari Sinung—dan kebanyakan ini saya dapatkan dari sahabat perempuan. Itu juga yang membuat saya merasa bahwa untuk menjaga hubungan saya dan Sinung tetap ‘waras’, saya harus menyeimbangkannya dengan hubungan lain—termasuk dengan hubungan yang baik dengan diri saya sendiri.

Ekspektasi ini yang kadang enggak dibicarakan sehingga perubahan keadaan enggak ada antisipasi sebelumnya dan terasa menyakitkan. Seperti dokter yang bilang, “Enggak sakit, kok, cuma kayak digigit semut.” Saya tahu dokter itu mengumpamakan enggak tepat karena digigit semut kadang lebih sakit dan sesudahnya bengkak dan gatal pula, tapi karena sudah diantisipasi sebelumnya, saya jadi lebih bisa menerima. Kalau seseorang pergi begitu saja, menghilangkan dirinya, itu ghosting namanya.

Tapi di sini lain, saya juga kadang merasakan sedikit ketakutan karena saya bisa diakses setiap waktu. Ada kalanya saya enggak ingin diganggu apapun; chat, email, telepon, apapun. Tapi saya pastikan orang yang biasa menghubungi saya mengerti ini. Saya memberitahukannya sebagai bentuk antisipasi. “Kembalilah, lagi,” kata saya, “kembalilah setelah draft ini selesai atau masalah ini selesai.” Karena saya tahu, di beberapa hubungan, ada ketergantungan yang bisa jadi muncul karena kebiasaan mengirim chat dan telepon setiap hari, misalnya. Tapi kadang saya menambahkan, “Kalau kamu rindu sekali, hubungi saja.” Rindu enggak ada penawarnya selain orang yang kamu rindukan itu ada.

Semoga saya enggak jadi ‘hantu’ untuk hubungan apapun. Entahlah. Saya sudah banyak jadi ‘hantu’ sepertinya. Padahal saya tahu, dibanding hantu sesungguhnya, dihantui perasaan yang belum terselesaikan itu lebih menyakitkan dan menakutkan. Apalagi kalau ditambah dengan pertanyaan tentang apa dan mengapa.

Saya sedang suka membaca dan mendengar podcast tentang relationship akhir-akhir ini. Sebagian alasannya karena saya ingin bisa lebih memahami dan kalau saya ada kesempatan untuk membuat cerita fiksi, saya bisa menggali sedalam yang saya pahami sehingga cerita itu bisa menyentuh bagian yang paling dalam juga dari yang membaca. Sisanya, karena saya merasa bahwa punya hubungan yang sehat dengan orang lain itu menjadi kebutuhan sekarang. Mungkin karena umur. Mungkin karena di kepala saya ada ruang yang dulunya penuh dengan anak-anak dan sekarang ingin saya isi dengan yang lain. Mungkin juga karena saya lebih ingin memahami manusia. Itu saja.

Saya ingin membuat rubrik khusus tentang love and relationship di blog ini. Bukan karena saya ahli dalam hal itu, percayalah. Banyak hubungan saya dengan orang lain yang terseok-seok dan buruk. Tapi—seperti yang saya tulis di atas—saya ingin lebih memahaminya. Biasanya, saya menulis untuk lebih memahami hal tertentu. Hal ini pun akan saya berusaha pahami dengan cara yang sama.

Mungkin akan ditulis secepatnya. Mungkin…. ^^