Pagi ini, saya membaca tulisan Michelle Phan di TeenVogue tentang social media detox yang dia lakukan selama setahun belakangan. Dia kembali lagi untuk launching EM Cosmetic—yang mana, seingat saya dulu brand kosmetik ini enggak terlalu bagus penjualannya. Banyak produknya yang kalau dibaca reviewnya, mengecewakan. Tapi saya enggak mau ngomongin makeup sekarang. Saya mau bicara tentang social media detox.

Di pertengahan 2014, saya menghapus akun Facebook saya. Alasannya banyak sih, waktu itu. Salah satunya karena akun ini rajin dimasuki entah siapa—saya enggak pernah menemukan tersangkanya—yang enggak melakukan apapun tapi rajin sekali membaca inbox message saya. Alasan kedua; anxiety. Alasan ini enggak pernah saya tulis dengan jelas sebelumnya. Saya selalu memakai alasan pertama karena lebih mudah diterima. Ketika saya baru menghapus akun itu, ada beberapa orang yang bertanya saya ke mana dan mereka curiga saya mem-block mereka. Jadi memang seperti kedatangan, kepergian pun harus dijelaskan, sepertinya. Hahahaaa.

Kalau diingat lagi, tahun-tahun itu, saya merasa level anxiety saya sudah mengkuatirkan. Saya masih tinggal di Selayar ketika itu dengan tiga anak, tanpa pengasuh, dan anehnya, di tempat seperti itu—yang luar biasa terpencil dan sulit dijangkau—saya merasa bahagia dan tenang. Satu hal yang menghancurkan itu semua; sosial media.

Memang di satu sisi, Facebook bisa mengurangi kesepian saya. Saya bisa mengobrol dengan teman-teman, bisa mengetahui keadaan mereka, bisa melihat apa yang mereka lakukan, membaca apa yang mereka pikirkan. Tapi di sisi lain, itu semua membuat saya cemas. Kecemasan ini macam-macam penyebabnya. Kadang karena debat tentang pola pengasuhan, makanan anak, pendidikan anak, pilihan politik, dan semuanya itu kalau dibaca, saya selalu ada di pihak yang salah. Pola pengasuhan anak saya … salah menurut yang dishare teman-teman saya. Bagaimana ceritanya saya mengasuh anak-anak dan enggak peduli dengan apakah mereka masuk les ini atau itu, pilihan sekolahnya bagaimana (hanya ada satu sekolah dasar di kota tempat saya tinggal, enggak ada pilihan), metode belajar dan sebagainya? Semua yang saya lakukan salah dan itu membuat saya kuatir. Memang kalau saya curhat di sana menceritakan kondisi saya yang sebenarnya, mereka maklum, “Ah, kamu kan, di tempat terpencil.” Tapi frekuensi artikel itu dishare, lalu saya baca, lalu setelah itu saya menyalahkan diri saya sendiri akan keadaan saya waktu itu, membuat saya enggak bahagia. Enggak bersyukur.

Saya ingin pindah. Tapi Tuan Sinung enggak setuju dengan ‘minta pindah’. Dia lebih suka dengan pindah—yang menurut istilahnya—enggak terelakkan lagi. Misalnya, sekolah. Alasan lain; di tempat itu, kami bahagia. Ini perasaan kami aja sih, memang, karena banyak yang ditugaskan di tempat kami dan merasa enggak betah. Tapi ini bukan urusan mereka salah dan saya benar. Ini juga bukan tentang ketahanan hidup. Buat saya, itu tentang kecocokan aja, sih. Ada tempat yang memang kita merasa enggak cocok ada di sana. Kami pun pindah karena si Tuan sekolah. Sekarang kami di Jakarta. Itu pun enggak terelakkan lagi. Dia enggak meminta (tanyakan padanya bagaimana ceritanya karena saya merasa bukan saya yang berhak menceritakan ini), tapi diberikan pilihan dan itu berbeda dengan meminta.

Kamu tahu enggak, apa yang kamu share di sosial media itu belum tentu tentang kamu tapi tentang bagaimana kamu ingin diidentifikasikan oleh orang lain. Apa yang kamu tampakkan, share, dan katakan itu lebih karena kamu sendiri ingin memahami dirimu. Ini yang enggak saya pahami waktu itu. Saya bergabung dengan beberapa grup kepenulisan yang kemudian juga membuat level kecemasan saya meningkat lebih dari yang bisa saya tanggung. Perdebatan tentang teknik kepenulisan, mana yang bagus mana yang enggak, dan ditambah dengan bagaimana rumitnya hati ketika salah seorang anggota naskahnya diterbitkan dan yang lain enggak atau belum, membuat suasana menjadi enggak nyaman. Diterbitkan saja belum cukup karena setelah itu akan ada pertanyaan, “Kenapa naskah kayak gitu aja bisa diterbitkan?”

Setelah itu masih ada lagi urusan review dan saya merasa ketika itu, yang namanya review itu adalah kesempatan untuk berkomentar lebih pintar dibanding penulisnya sendiri. Saya menghindari cara mereview seperti ini sekarang. Saya lebih suka melihat lebih dalam apa yang penulisnya ingin sampaikan, berterimakasih karena mereka sudah menyelesaikan naskah itu dan membuat saya bisa membacanya, dan mengatakan bahwa saya menunggu naskah selanjutnya. Saya sudah melihat berapa banyak penulis pemula yang berguguran diterjang peluru penulis lainnya. Saya katakan; kita berkarya, bukan sedang saling membunuh untuk bertahan hidup.

Lalu, saya juga bergabung di komunitas blogger. Ini komunitas paling menyenangkan dan paling sehat yang pernah saya ikuti. Anggotanya lebih beragam sehingga lebih, apa ya istilahnya … lebih toleran? Salah satu penyesalan saya ketika menghapus akun Facebook adalah keluar dari grup komunitas ini. Walaupun saya masih mengikutinya di Twitter, tapi di sana enggak ada diskusi. Lebih ke share link tulisan saja.

Itu yang sebenarnya saya inginkan; diskusi.

Let’s have a drink or two. Let’s have conversation.

Tapi saya juga enggak kuat kadang dengan keharusan untuk saling berkunjung ke blog satu sama lain. Bukan karena saya enggak suka datang ke blog lain. Saya suka. Ada beberapa blog yang sampai sekarang masih saya ikuti. Saya hanya kadang merasa enggak terlalu tertarik dengan tulisannya. Keharusan untuk ‘datang ke blogku ya, nanti aku datang ke blogmu’ di umur saya sekarang ini, saya rasa sudah terlalu menuntut rasanya. Ada yang memang ingin menulis dan ada yang memang hanya ingin membaca. Saya ingin keduanya dan saya enggak bisa menulis kalau kepala saya enggak jernih. Untuk membuat kepala saya jernih, saya memilih bahan bacaan. Sungguh, saya pemilih sekali.

Di salah satu episod PMJ (Podcast Malam Jum’at), saya bilang bahwa saya bisa membaca esai kalau bentuknya longform (sekitar 5.000 kata). Itu benar. Saya enggak suka membaca click bait dan tulisan alakadarnya tentang hal yang sebenarnya remeh-temeh dan enggak penting—walaupun standar tentang remeh-temeh ini berbeda untuk setiap pembaca. Saya ingin in-depth. Ini yang membuat saya sangat pemilih ketika membaca portal berita. Saya ingin pemikiran saya ditantang dan itu enggak cukup dengan hal remeh-temeh. Atau begini deh, remeh-temeh boleh, tapi berikan perspektif baru. Saya pun lebih banyak membaca esai dari portal berita luar seperti The Atlantic, Salon, atau The New Yorker, Buzzfeed (khusus untuk yang longform) dan Brainpicking. Bukan untuk gaya-gayaan, tapi karena memang tulisannya bagus. Membacanya membuat saya memahami hal baru. Itu yang saya inginkan.

Setahun belakangan, saya juga mengubah pola komunikasi saya dengan teman-teman dekat. Ada beberapa teman baru yang saya temui dari sosial media. Mereka terasa nyata tapi buat saya, enggak cukup rasanya kalau hanya chat. Untuk beberapa orang seperti ini, saya minta mereka berhenti chat (kalau bisa) dan langsung menelepon saja. Let’s talk. Let’s have conversations. Saya ingin mendengar suara mereka, memahami kalau mereka ada dan nyata. Punya hati dan sebagainya sehingga saya akan sangat berhati-hati untuk enggak memecahkannya.

Salah satu hubungan pertemanan saya dengan Tutut, namanya, juga seperti ini. Kami chat nyaris setiap hari, telepon kalau kangen dan ada sinyal yang memadai, dan—ini anehnya—saya enggak peduli dengan update sosial medianya. Hahahaaa. Kami saling follow di Twitter tapi saya enggak mencari twitnya. Kalau kebetulan saya buka Twitter dan saya melihat twitnya, kadang saya samber. Tapi lebih banyak enggak. Saya bisa menanyakan langsung keadaannya, apa yang dia pikirkan, apa yang sedang dia baca, apa buku yang dia baca bagus, dan sebagainya. Blognya saya baca karena tulisannya lebih personal dibanding sekedar twit.

Di awal tahun kemarin, saya juga punya bentuk pertemanan yang lain; sahabat pena. Lewat email, sih. Setelah empat bulan berlalu, saya dan sahabat saya ini masih juga belum sampai di tahap saling bertukar nomer ponsel dan saya merasa ini yang membuat hubungan kami berharga lebih. Saya memang follow Twitter-nya dan kadang mention satu-dua kali. Tapi saya lebih suka membaca suratnya yang kalau sampai di inbox saya, akan langsung saya baca. Pernah suatu kali saya habis mandi dan saya melihat ada surat masuk di layar laptop saya, surat darinya. Saya menunda memakai baju hanya demi untuk membaca surat itu sampai selesai. Lalu memakai baju dan mengulagi membaca. Suratnya—selalu—luar biasa indah. Jadi semacam harta karun buat saya.

Saya juga mengerti ada orang yang enggak nyaman dengan telepon, saya salah satunya—dulu. Tapi makin ke sini, ketika kamu dekat, mendengar suara dan langsung bicara itu lebih menyenangkan dibanding chat. Selain karena saya bisa mengamati intonasi, mendengar langsung tawa (bukan dengan membaca ‘hahahahaaa’ atau ‘heheheee’), dan buat saya itu terasa lebih nyata, lebih dekat. Ini juga yang kemudian menjadi salah satu alasan saya membuat podcast; agar saya terdengar lebih dekat karena medium suara itu lebih kuat.

Saya masih ada di Facebook—Facebook gabungan saya dan Tuan Sinung, lebih tepatnya. Saya ke sana hanya untuk mengecek pesan, share link blog, membalas komen, tapi jarang sekali komen. Bukan karena saya enggak ingin seperti dulu yang kelihatannya aktif sekali di sana, tapi saya harus mengistirahatkan pikiran saya karena saya enggak kuat membaca status keluhan, perdebatan, dan juga quotes nonsense. Hahahaaa. Hidup enggak sesederhana quotes bijak yang sepertinya berhasil mengambil esensi arti hidup.

Ada yang orang lupa ketika bersosial media; bahwa apa yang terlihat di sosial media itu semuanya dikurasi—dipilih-pilih. Kamu enggak bisa menilai kehidupan seseorang hanya dari sosial medianya saja. Banyak yang enggak terlihat. Bisa jadi itu; suaminya, anak-anaknya, depresi, kecemasan, kesepian, dan lainnya.

Setelah saya menghapus akun Facebook, saya merasa level kecemasan saya menurun. Begitu juga ketika saya mencoba untuk bicara jujur dengan beberapa teman dekat, “Please call. Let’s talk. Let’s have conversations.” Kalau membaca blog ini dan jadi salah satu yang saya minta begitu, berarti kamu satu dari beberapa yang saya beri akses untuk jadi lebih dekat karena kamu penting buat saya. Memang pada akhirnya saya enggak seterkenal dulu, sih, hahahaaa. Tapi anehnya, pembaca blog saya masih sama saja statistiknya dengan sebelum saya menghapus akun Facebook. Mungkin mereka datang lagi dan lagi ke sini karena saya bicara hal yang berbeda. Entahlah. Yang lebih penting dari itu; saya enggak secemas dulu.

Saya enggak lagi peduli dengan Alexa Rank, job untuk mereview, pendapat kebanyakan (karena kadang saya takut untuk berpendapat enggak sama dengan yang lain), dan saya juga enggak kuatir dengan karir menulis saya sendiri. Melihat update status tentang seberapa banyak seseorang menulis sehari, berapa banyak buku yang terbit, review, dan sebagainya, itu membuat saya cemas. Sungguh. Membuat saya merasa enggak sebaik mereka. Padahal—lagi-lagi, saya katakan—kita sedang berkarya, bukan sedang bermain Hunger’s Game atau Battle Royale.

Semua notifikasi di ponsel saya mati. Jadi saya hanya akan tahu pesan yang masuk kalau saya membuka aplikasinya. Ini juga yang kemudian membuat saya lambat membalas, kadang. Tapi ini yang membuat saya bisa bertahan di keheningan kepala saya sendiri kalau saya memang perlu. Tanpa diganggu.

Hanya saja, beberapa waktu belakangan, saya seperti merasa perlu untuk detoksifikasi lagi. Semacam membentuk ulang bagaimana hubungan saya dan sosial media. Di awal tahun lalu, saya meng-unfollow banyak sekali akun. Meninggalkan yang memang saya anggap penting. Tapi ini rasanya enggak cukup.

Beberapa orang yang ada di kondisi enggak baik, bisa jadi menulis tulisan yang baik karena dorongan emosional. Tapi saya enggak seperti itu. Saya perlu ketenangan, kejernihan, ruang, waktu, dan jauh dari kecemasan. Termasuk mencemaskan segala rupa isu di sosial media. Bukan berarti saya ingin menarik diri. Kalau ada yang menelepon atau chat, saya akan membalas. Kalau saya rindu mereka pun, saya akan menghubungi mereka dengan bertubi-tubi dan itu pasti sangat menjengkelkan mereka, saya tahu. Hahahaaa.

Ini bukan tentang itu. Bisa jadi, ini semua tentang saya yang bisa jadi sudah terputus koneksinya dengan diri saya sendiri karena saya lebih banyak melihat keluar. Bisa jadi saya perlu setahun seperti Michelle Phan. Lalu kembali lagi dengan pandangan dan diri yang baru.

Pekan ini, saya mengajak Tuan Sinung untuk berkereta. Ke Kota Tua atau ke Kebun Raya Bogor. Bisa jadi, ini karena saya kurang piknik. Hahahaaa.

Tapi bisa jadi juga karena saya tahu kalau saya sudah terlalu keruh dan sudah enggak bisa melihat jelas lagi.