Kalau saya boleh memilih, saya lebih suka membaca buku dengan hujan gula, badai cokelat, dan pelangi dari harum manis setelahnya. Bukan karena hidup sudah berat jadi saya ingin mencari pelarian. Bukan. Saya suka baca cerita yang mendalam tentang penderitaan tapi enggak dengan dua topik khusus; perkosaan dan bunuh diri. Ini tema yang kadang saya enggak kuat baca. Enggak cuma di novel, di portal berita pun, saya enggak baca.

Saya ingat salah satu buku Malcolm Galdwell, Tipping Point, di bab yang khusus membahas tentang bunuh diri. Dia mengatakan bahwa bunuh diri itu menular.

One chapter, for example, deals with the very strange epidemic of teenage suicide in the South Pacific islands of Micronesia. In the 1970’s and 1980’s, Micronesia had teen suicide rates ten times higher than anywhere else in the world. Teenagers were literally being infected with the suicide bug, and one after another they were killing themselves in exactly the same way under exactly the same circumstances. We like to use words like contagiousness and infectiousness just to apply to the medical realm. But I assure you that after you read about what happened in Micronesia you’ll be convinced that behavior can be transmitted from one person to another as easily as the flu or the measles can. In fact, I don’t think you have to go to Micronesia to see this pattern in action.

Sebenarnya bukan hanya bunuh diri. Kebaikan pun menular dengan cepat. Tapi di buku itu, Gladwell mencontohkan bunuh diri dan mengkajinya lebih jauh sebagai contoh yang kuat. Kebaikan juga menular dengan gerak yang enggak kalah cepatnya. Ambil saja contoh akun di Instagram yang mendatangi orang-orang terlantar yang membutuhkan pertolongan. Akun itu dengan cepat di-follow banyak orang. Bukan karena kita suka melihat penderitaan mereka, tapi karena kita ingin melihat banyak orang yang membantu mereka. Kita suka perasaan itu; perasaan senang telah membantu. Kita pun senang ditularkan perasaan itu; perasaan senang kita bisa membantu. Ini sebenarnya sederhana sebabnya, menurut saya; kita suka dan ingin menjadi orang baik. Kita—kadang—menolong orang lain sebagai jalan untuk menolong diri sendiri. Saya kadang memeluk orang lain untuk memberikan perasaan nyaman dan hangat pada mereka dan juga untuk merasakan perasaan yang sama. Saya mencari hal itu pada mereka.

Ini juga yang membuat saya merasa enggak sanggup membaca atau menonton sesuatu yang seperti ini. Saya enggak suka nyerinya. Saya enggak suka perasaan yang ditinggalkan setelah saya menyelesaikannya. Suatu ketika, saya banyak mendengar curhat tentang perselingkuhan, yang saya pikirkan di banyak hari kemudian; bagaimana pernikahan saya bisa bertahan? Saya jadi sedikit ragu bahwa apa yang saya punya bisa dipertahankan padahal enggak ada masalah di dalamnya. Pernikahan saya, setelah melewati sepuluh tahun yang seperti rute trans Medan sulitnya, sekarang ada di fase yang lebih baik dan lebih sehat. Bukan karena enggak ada masalah, tapi karena kami makin kuat untuk menghadapinya.

Membaca atau menonton sesuatu yang sugar coated atau yang memperlihatkan standar kebaikan terlalu tinggi, saya pun enggak kuat—sebenarnya. Berapa banyak dari kita yang menonton Friends atau How I Met Your Mother dan berharap bisa punya persahabatan semacam itu? Di luar dua series itu luar biasa bagus dan menghibur, menurut saya, mereka juga memberikan unrealistic standards about friendship, marriage, and life—in general. Ketinggian. Padahal wajar pertemanan memudar setelah beberapa tahun karena circle pertemanan kita pun sebenarnya berubah setiap lima tahun sekali, katanya. Memang lebih sulit untuk mencari teman ketika kamu sudah enggak sekolah atau kuliah, tapi bukan berarti enggak mungkin. Beberapa sahabat baik saya sekarang bukan dari teman sekolah atau kuliah. Bukan pula tetangga. Mereka datang dari mana, kadang saya pun bingung. Hahahaaa.

Balik ke 13 Reasons Why, saya juga merasa bahwa apa yang diperlihatkan di series ini, enggak seperti yang terjadi di sini, di Jakarta setidaknya. Beda kultur antara Amerika dan Jakarta (atau Indonesia) membuat masalah remaja pun berbeda. Di sini, saya masih melihat remaja masih menghargai temannya. Mereka mudah berteman, terbuka, dan suka bersenang-senang bersama. Di sisi lain, ini jadi hal yang kadang enggak saya sukai; semua dianggap teman. Bahkan orang yang kamu baru temui sekali dan ini pun dikenalkan oleh temanmu yang lain, sudah kamu anggap teman saja. Kita enggak punya kasta pertemanan; colleague, acquaintance, friend, best friend, atau BFF. Semua teman. Tinggal nanti ada yang dekat atau yang dekat banget. Berpisah bertahun-tahun pun, tanpa komunikasi, kalau bertemu masih dengan status teman.

Hal seperti ini memang kadang membuat hidup jadi sulit. Orang—dan teman-teman itu—mengendus-endus kehidupanmu seperti kelinci penasaran. Tapi ada saat mereka juga memberi social supports yang luar biasa. Setidaknya membuat hidupmu enggak semenyedihkan, semengerikan, dan kesepian seperti yang mungkin bisa terjadi di 13 Reasons Why ini. Standar realistis di series ini dengan di kehidupan nyata saya menjadi beda. Tapi saya berusaha juga memahaminya.

Oh, sebelum saya lupa, di buku Gladwell yang sama juga ada esai tentang mengapa tinggal bersama dengan beberapa generasi membuat tingkat harapan hidup dan kegembiraan jadi lebih tinggi. Di sini masih seperti itu; tinggal dengan orangtua, nenek, kakak, dan adik. Kalau liburan, bisa dipilih rumah siapa yang mau dijadikan pelarian. Hal seperti ini, buat saya, sesuatu yang baik. Mendekatkan sepupu, menjadikan keluarga besar itu sebagai social support—bukan sekumpulan orang yang jadi lawan dan obyek nyinyir karena hidupnya berbeda. Ini masih dengan banyak catatan tentang urusan seberapa dalam kita bisa mencampuri urusan orang lain, bahkan yang dekat dengan kita, sih, tapi setidaknya di sini masih seperti itu.

Tapi toh, dengan segala alasan yang saya tuliskan di atas, saya menonton juga series ini di hari pertama rilis. Saya lihat episodenya—tiga belas, seperti judulnya—dan saya pun berencana untuk menyelesaikannya dalam dua hari saja. Tapi ternyata mulur sampai empat hari karena beberapa episod terakhir perlu sekedar hati yang kuat untuk melihatnya. Saya bisa melihat adegan potong leher, cincang, tusuk, bacok atau apalah di series lain seperti Dexter. Saya bisa nonton Dexter sambil makan malam, bahkan. Tapi untuk isu bunuh diri dan perkosaan, saya perlu menyiapkan hati yang kuat. Ini isu sensitif buat saya. Episod terakhir pun saya tonton setengah saja, saya skip langsung ke bagian terakhirnya karena saya enggak bisa melihat adegan Hannah bunuh diri.

Saya bisa memahami kenapa orang membunuh orang lain. Mungkin karena dendam, rasanya yang enggak tertahankan, dan sebagainya. Tapi saya enggak bisa juga memahami mengapa orang bisa sampai ada di keadaan di mana dia bisa menahan sakit seperti itu (bunuh diri, kan, sakit) untuk menghilangkan nyawanya sendiri. Apa alasan yang membuat bisa jadi sekebas itu? Setengah dari ini sebenarnya juga karena saya takut menemukan alasannya dan saya lebih takut kalau alasan itu masuk akal di saya, kemudian saya pun meromantisasi itu. Bunuh diri bukan opsi karena yang kamu lakukan hanya memindahkan sakit yang kamu punya dari dirimu ke orang terdekatmu yang kamu tinggalkan.

Series 13 Reasons Why ini bercerita tentang Hannah Baker, anak tunggal dari orangtua yang pindah ke kota kecil dan membuka toko setelah kota sebelumnya tempat mereka tinggal, dimasukin Walplex (hypermarket besar dengan harga murah) dan mematikan bisnis kecil. Saya belum membaca bukunya tapi saya sudah antri untuk meminjam audiobooknya jadi mungkin saya akan membandingkan antara series dan bukunya nanti, enggak sekarang. Di awal tahun, Hannah enggak punya teman tapi dia bertemu dengan dua orang, Jessica dan Alex. Tapi dari situ semua hal yang mendorong dia untuk bunuh diri dimulai.

Clay menerima kiriman paket yang isinya tujuh kaset (total ada empat belas sides tapi hanya tiga belas yang terisi) dan sebuah peta. Kaset-kaset itu menjelaskan tentang alasan mengapa Hannah bunuh diri. Ada tiga belas alasan yang dibuat oleh tiga belas orang. Ada aturan di kaset itu; setiap orang yang namanya disebut, harus mendengarkan. Kaset ini diedarkan berdasarkan nomer urut nama yang disebutkan. Clay ada di urutan sebelas. Ketika dia mendengarkan kaset itu, sudah ada sepuluh orang yang mendengarkan lebih dulu dan masalahnya ternyata enggak semudah itu.

Clay enggak bisa hanya mendengarkan dan kemudian mengambil inti sari, alasan, atau apapun yang diceritakan Hannah. Dia jatuh cinta pada gadis itu dan kenyataan bahwa dia mendengar kaset itu, bahwa dia adalah satu dari tiga belas alasan Hannah bunuh diri, membuat Clay jadi berantakan. Yang kemudian dia jelaskan di akhir sebagai; kesalahan bahwa dia takut mencintai gadis itu karena bisa saja, kalau dia lebih berani, dia bisa memberikan hidup yang lain, yang enggak seperti sekarang ini. Tapi semua terlambat. Hannah sudah mati.

Setiap nama yang disebutkan di kaset itu punya kontribusi yang membuat Hannah bunuh diri. Hal ini sebenarnya bukan tanpa perdebatan. Apalagi bila dihubungkan dengan mental illness. Seorang penulis yang punya bipolar, Hannah Mozkowitz, mempermasalahkan alasan Hannah yang menurutnya agak enggak masuk di akal untuk bunuh diri. Begini katanya:

I’m a bipolar chick. I’m a girl who has struggled with suicidal thoughts since she was nine years old at the very latest. And I just do not buy 13RW’s representation of a suicidal girl. The very premise of the book is flawed to me; you don’t kill yourself for REASONS, you kill yourself because there is a bug in your brain gnawing at you and sucking out any valuable thought you’ve ever had, and I never saw that kind of bug in Hannah. I saw a girl who killed herself because boys were mean to her, and I think that if you reversed the sexes and made it a boy who killed himself for Hannah’s reasons, no one would have bought it.

It’s a symptom of a larger epidemic you see all the times in discussions of girls with mental illness. Boys are legitimately fucked up and have genuine struggles with mental health, but girls are hysterical. Hannah’s depression is entirely circumstantial, as is her suicide, and I just do not buy it.

Banyak review di Goodreads yang bilang kalau Hannah ini hanya lemah dan enggak ingin melawan. Saya belum membaca bukunya—antrian pinjamnya panjang sekali—jadi saya enggak bisa berkomentar tentang bukunya. Tapi di seriesnya, semua alasan itu terpenuhi buat saya. Semua karakter yang punya masalah dan karakterisasinya enggak hitam-putih. Mereka menyakiti orang lain karena mereka sendiri tersakiti. Hannah juga enggak seperti Clay yang anak orang baik-baik, nerd, dan sepertinya enggak peduli dengan apapun yang terjadi di sekitarnya—bagaimana bisa dia baru paham kalau Hannah diperlakukan buruk setelah Hannah mati? Yang ternyata, hanya perlu tiga belas alasan dan dia sendiri masuk jadi salah satu alasan di dalamnya.

Satu-satunya karakter yang terlihat get his life together hanya Tony Padilla. Dia mengikuti Clay ke mana-mana untuk memastikan kalau Clay baik-baik saja ketika mendengarkan semua kaset itu. Dia enggak punya masalah berarti. Dia punya jawaban untuk semua pertanyaan Clay; mengapa Hannah membuat rekaman kaset itu? Mengapa dia harus mendengarkan? Ada banyak mengapa yang lain dan Clay enggak paham tapi Tony paham. Pertanyaan saya jadi; mengapa anak-anak itu enggak sekuat Tony?

Alur series ini bolak-balik. Tapi kamu enggak akan bingung karena ada tanda yang membedakan mana scene flashback dan mana yang present. Ini yang membuat saya menontonnya tanpa kebingungan. Ngomong-ngomong tentang urusan ini, di Westworld yang punya konsep sama, scenesnya enggak ada penanda sehingga sekali menonton, kamu enggak akan bisa merekonstruksi scenes-nya dengan mudah dan menyambungkan alur mana yang past dan mana yang present. Ini sebenarnya permainan penceritaan saja. Hahahaaa. 13 Reasons Why enggak ingin terlihat lebih pintar dari penontonnya dan ingin semua terlihat jelas karena yang menjadi inti ceritanya bukan tentang sebaik apa series ini akan jadi mind blowing. Tapi Westworld kebalikannya; ini thriller dan sebaiknya memang mind blowing. Dua-duanya adalah pilihan penceritaan.

Ini juga yang kemudian ingin saya nasehatkan kepada penulis yang mungkin membaca tulisan ini; pilih senjatamu. Jangan gunakan senjata yang salah; jangan pakai palu untuk membuat irisan sashimi. Jangan pakai samurai untuk potong kuku—walaupun, siapa, sih, yang enggak bakalan kelihatan keren luar biasa ketika sedang memegang samurai? Tapi ingat, itu kuku dan kamu bisa memotong jarimu sendiri nanti.

Sampai mana saya tadi? Sampai penanda, ya?

Hmm, baiklah.

Ada penanda yang membuat scenes past dan present mudah dibedakan; luka di wajah Clay. Semua scenes present, wajah Clay luka. Luka ini—dengan segala perkembangannya; luka baru, luka dengan band aid, luka yang mulai kering, luka yang mulai kering dan berdarah lagi, sampai terakhir; luka babak-belur karena dipukuli Bryce—jadi simbol yang memperlihatkan bagaimana Clay mengunyah semua yang dia dengar dari cerita Hannah di kaset-kaset itu. Di episod awal, ketika Clay baru mulai mendengar, dia naik sepeda dan menabrak mobil yang sedang parkir; dia shock. Dia jatuh, keningnya terluka. Makin hari, luka ini makin sembuh. Tapi luka itu terbuka lagi ketika dia dan Tony memanjat tebing—terkena batu yang enggak sengaja dijatuhkan Tony. Tony pun enggak sengaja menjatuhkan hal lain yang sekuat tenaga berusaha dipahami Clay; tentang mengapa Hannah ingin memberitahu alasan bunuh dirinya setelah dia mati. Tony memahami itu. Clay enggak.

Tentang scene perkosaannya … itu lebih dari yang bisa saya tonton. Memang enggak vulgar karena yang terlihat hanya wajah Hannah. Tapi itu membuat semua jadi semakin enggak nyaman dan sulit ditonton. Begitu juga dengan scene bunuh dirinya. Ini lebih sulit lagi karena enggak ada sugar coated di sana. Bunuh diri itu melankolis, indah, dan semacam usaha terakhir apalah yang membuat penonton bersimpati pada karakter yang melakukannya? Lihat dulu scene itu di sini; sulit dilihat, gruesome, apa-adanya, dan sebenarnya … saya baru menonton untuk keperluan menulis ini saja. Sebelumnya, saya enggak menonton karena saya tahu kalau—bisa jadi—saya enggak akan kuat melihatnya.

S eries ini jadi salah satu favorit saya di Netflix. Saya sudah menyangka sebelumnya setelah melihat ada Brian Yorkey (pemenang Pulitzer untuk Next To Normal), lalu Tom McCharty (pemenang Oscar untuk Spotlight), dan Selena Gomez sebagai eksekutif produsernya. Jajaran pemainnya pun berakting dengan sangat bagus.

Walaupun saya perlu hampir seminggu untuk menonton tiga belas episodnya—prestasi baru karena saya kuat binge-watch series biasanya dalam satu-dua hari—karena di akhir-akhir, saya harus berhenti, berpikir, dan melanjutkan kalau suasana hati sudah memungkinkan. Hahahaaa.

Tentang ending—bolehkah saya cerita sedikit tentang ending-nya? Memang Hannah mati, bunuh diri, itu sudah jelas. Tapi banyak teori yang kemudian beredar karena ada kabar kalau series ini dibuat season duanya. Tyler, fotografer yang membawa kamera ke mana-mana untuk ‘melihat’ kehidupan orang lain, ternyata punya kumpulan senjata di kamarnya. Lalu Alex yang kelihatan paling terpukul dengan kematian Hannah, berakhir dengan luka tembak di kepala. Walaupun ayah Alex polisi dan dia punya akses ke senjata, tapi banyak yang memperkirakan kalau Alex dibunuh Tyler. Mungkin lebih dari itu; Tyler ingin membunuh semua yang ada hubungannya dengan kematian Hannah karena dia menggantung foto mereka di kamar dan di episod akhir, foto Alex dia turunkan—entah untuk apa. Mungkinkah karena Alex sudah keluar dari daftar?

Justin pergi entah ke mana. Rekaman Bryce yang diambil Clay tentu akan membuat Bryce ditangkap. Jessica yang mengakui perbuatan Bryce pada ayahnya—Jessica juga diperkosa Bryce dan Justin yang waktu itu jadi pacarnya enggak bisa melakukan apapun—juga sepertinya akan ada kelanjutannya. Begitu juga tentang Justin yang pergi menghindari itu semua dan rasa bersalahnya pada Jessica. Cerita ini memang rumit dan silang-sengkarut tapi di akhir, semua terurai dengan baik.

Kalau ada season duanya, saya akan menonton. Saya juga akan berharap kalau penulisnya enggak menghancurkan season dua seperti penulis True Detective menghancurkan season duanya demi mengejar artistik dan penceritaan yang lain. Padahal saya bisa dibilang terobsesi sekali dengan True Detective season satu dengan segala gaya unreliable narrator-nya itu.

Ya, saya akan membaca bukunya atau mendengar audiobook-nya. Mana yang lebih dulu saya dapat pokoknya. Mungkin saya akan buat reviewnya juga nanti.

* * *