The Corrs bukan band favorit saya. Sebenarnya, entah mengapa saya enggak terlalu suka dengan banyak lagunya padahal saya sangat suka melihat vokalisnya yang berdiri saja, diam, seperti patung lilin, tapi sudah kelihatan seksi. Tapi ada satu lagu The Corrs yang saya suka; The Hardest Day. Ini pun ternyata bukan lagu yang ditulis oleh The Corrs, tapi oleh Alejandro Sanz dan The Corrs hanya featuring-nya saja.

Tuan Sinung suka The Corrs dan sepertinya, tingkat kesukaannya ini mulai mengkuatirkan saya. Dia menjadikan salah satu lagu The Corrs—entah yang mana—sebagai suara alarm di pagi hari. Lalu mendengarkan satu album sambil mengerjakan sisa pekerjaan kantor yang dibawa pulang ke rumah. Mungkin karena ada rasa-rasa Irish di setiap lagu mereka yang membuat saya agak enggak suka. Entahlah. Padahal saya ini lemah sekali dengan Brit Pop—rasanya jadi agak minder juga karena kebanyakan orang yang saya kenal suka dengan K-Pop tapi aliran musik yang satu itu, enggak juga saya mengerti. Saya suka J-Pop, sih, tapi entah mengapa K-Pop enggak mencuri hati saya. Jadi pertanyaan juga ini.

Selama seminggu belakangan, saya mendengar The Hardest Day ini karena saya suka, itu saja. Enggak ada banyak cerita di belakangnya karena memang sepertinya lagu ini enggak punya kenangan untuk saya—yang spesifik. Saya mendengarkannya sekitar tahun 2001 kalau saya enggak salah ingat. Jadi satu-dua lagu yang ikut saya nyanyikan ketika saya mengerjakan PR sepulang sekolah sambil menonton MTV. Saya suka video klip dan cerita di dalamnya. Dulu, rasa-rasanya, video klip dijadikan medium untuk cerita pendek yang membuat lagunya jadi ‘kuat’ dan terjelaskan. Misalnya saja, yang paling saya suka; video klip Animal Instinct-nya The Cranberries.

Sekitar tahun 2006-an kalau saya enggak salah ingat, saya menonton In the Mood of Love-nya Wong Kar Wai dan waktu itu, saya ingat lagu ini dan video klipnya. Dua hal itu sepertinya mirip. Memang benar ternyata, bukan hanya ceritanya yang mirip, tapi juga seting dan pengambilan gambar. Bahkan pencahayaannya pun mirip. Kalau dilihat dari tanggal rilis lagu dan video klipnya yang berjarak setahun lebih lambat dari filmnya, bisa jadi video klip ini terinpsirasi.

Ada dua hal yang saya suka dari video klip The Hardest Day ini; seting (hujan, lampion, jalanan basah, rumah jahit) dan cheongsam.

CHEONGSAM!

Saya lemah banget sama baju yang satu itu. Kalau saja saya enggak pakai jilbab dan harus memilih satu model baju untuk dipakai seumur hidup, saya akan memilih cheongsam. Semua yang saya inginkan di sebuah baju ada di situ; membentuk badan, color block (saya suka baju yang warnanya satu dan kalau pun ada motifnya, enggak ramai), dan seksi. Cheongsam ini enggak vulgar tapi membuat yang memakai jadi seksi sekali. Sama seperti kebaya, sebenarnya. Tapi kebaya lebih sulit dipakai karena ada dua potong. Cheongsam cuma satu potong dan tinggal dimasukkan ke badan begitu saja. Karena dada saya nyaris rata—dan ini jadi masalah kalau saya memakai kebaya yang lebih bagus dilihat kalau dipakai oleh perempuan yang dada dan badannya berbentuk—cheongsam ini sebaliknya; lebih bagus dipakai kalau dadamu enggak besar dan badanmu enggak berlekuk.

Saya menonton In the Mood of Love dengan segala iri pada Maggie Cheung yang tinggi, kurus, dadanya kecil, dan kalau dia memakai cheongsam, body language-nya kelihatan feminin dan seksi sekali. Padahal model baju seperti ini menutup dada. Hmmm, ini juga yang mau saya bilang, kamu mau kelihatan seksi; jangan pakai baju yang minim karena seksi itu datangnya dari body language dan aura, bukan seberapa banyak kulit yang kamu tampakkan. Beberapa kali saya bertemu dengan cewek yang memakai jeans panjang dengan kemeja panjang tapi saya enggak bisa menahan kalau mereka kelihatan seksi.

Ini juga yang membuat masuk akal mengapa pakaian muslimah itu yang jadi aturan pentingnya; enggak membentuk badan. Jilbab panjang sampai pinggang atau pendek sampai dada enggak terlalu memberi banyak perbedaan menurut saya. Tapi bagaimana bahan pakaian itu jatuh dan seberapa dia membentuk tubuh, itu lebih dekat ke urusan seksi atau enggak. Kalau untuk cowok, ini beda urusannya.

Saya enggak tahu bagaimana cewek yang lain, tapi saya enggak melihat cowok dari apa yang kelihatan, sih. Ini bukan lagi tentang seberapa ganteng mereka walaupun easy to the eyes tentu enggak jadi masalah. Syarat minimum memang ada; wangi, rapi, dan bersih. Tapi saya punya kebiasaan lain; melihat tangan dan jari-jarinya. Saya suka cowok yang tangannya bagus. Ini juga yang membuat saya suka dengan cowok yang bisa bermain gitar atau drum (tapi entah mengapa saya enggak suka melihat yang bermain piano). Tapi pernah suatu kali, saya suka dengan cowok hanya karena saya berkali-kali melihatnya mengetik di laptopnya; gerakan jarinya membuat saya terpesona. Oke, ini bodoh—tapi tangan si Tuan kukunya bagus sekali. Makin ke sini, saya makin tertarik dengan satu jenis cowok lain; yang sangat ahli—apapun bidangnya. Saya sangat suka melihat si Tuan kalau sedang mengerjakan hal yang sangat dia suka, computer’s related.

One more day, one last look
Before I leave it all behind
And play the role that’s meant for us
That said we’d say goodbye

One more night by your side
Where our dreams collide
And all we have is everything
And there’s no pain there’s no hurt
There’s no wrong it’s all right

If I promise to believe will you believe
That there’s nowhere that we’d rather be
Nowhere describes where we are
I’ve no choice, I love you
Leave, love you wave goodbye

And all I ever wanted was to stay
And nothing in this world’s gonna change

Never wanna wake up from this night
Never wanna leave this moment
Waiting for you only
Never gonna forget every single thing you do
When loving you is my finest hour
Leaving you, the hardest day of my life
The hardest day of my life

I still breathe, I still eat
And the sun it shines the same as it did yesterday
But there’s no warmth, no light
I feel empty inside

But I never will regret a single day
I know it isn’t going to go away
What I’m feeling for you
I will always love you
Leave, love you wave goodbye

And all, and all I ever wanted was to stay 
Nothing in this world’s gonna change …

Saya suka melihat salah satu seniman yang saya ikuti akunnya di Instagram bekerja; dengan segala cat berantakan, kuas berhamburan, dan baju yang mirip kondisinya seperti kanvasnya. Saya juga suka melihat salah satu dosen yang punya bidang keilmuan yang agak langka; politik kelautan. Melihat dia bicara dari seminar ke seminar, menurut saya, keren sekali. Melihat cowok yang sedang melakukan hal yang jadi passion mereka itu seksi sekali buat saya. Satu lagi, oh, satu lagi; melihat cowok sedang melihat ke arah cewek yang mereka sukai. Padahal bukan saya yang sedang dilihat, tapi saya merasa meleleh sekali kalau menjumpai hal seperti ini. Begitu juga kalau melihat mereka mengobrol.

Saya juga suka tato. Enggak semua tato, sih. Ada satu chef yang saya suka sekali karena ketika memasak, saya melihat tatonya yang ada di sepanjang kedua tangannya. Tato itu bercerita tentang kematian dan upacara ngaben—dalem banget, ya? Tato itu ada di tangannya, yang mana, setiap kali dia bisa lihat. Ini juga membuat saya meleleh. Kalau tato enggak dilarang, mungkin saya sudah punya beberapa sekarang. Bukan untuk sekedar fashion, sih, saya ingin itu jadi pengingat.

Saya enggak bisa membedakan kanan dan kiri, untuk penanda, saya memakai satu cincin di tangan kanan dan dua cincin di tangan kiri. Suatu ketika, ada yang bertanya tentang cincin ini. Pertanyaannya; mana yang cincin kawin? Sayangnya, sampai hari ini pun saya enggak pakai cincin kawin (ketiga cincin itu; cincin tunangan orangtua saya yang diberikan ke saya, cincin yang diberikan Mama saya sebagai pengingat kalau saya sudah baligh, dan yang satu lagi dari Ibu Mertua saya). Cincin kawin hanya si Tuan yang pakai. Lalu dia bilang; cincin-cincin saya itu seksi. Cara saya memegangnya untuk mengingatkan arah, juga unik dan seksi—katanya.

Tapi saya enggak mau ngomongin ini. Lain kali, mungkin. Bakalan panjang soalnya. Ini saja sudah panjang. Kapan-kapan saya akan menulis yang seperti ini; tentang apa yang saya temukan menarik dari seseorang. Habisnya bagaimana ya, lagu The Corrs ini bukan tentang kenangan sih, buat saya. Tapi mengingatkan tentang banyak hal yang saya suka. Termasuk tentang jahit-menjahit.

Di video klipnya, cewek yang jadi model pekerjaannya penjahit dan dia bertemu dengan cowok di dekat rumah jahitnya. Mereka saling suka dan karena di sepanjang video klip selalu hujan, entah mengapa rasanya sendu sekali. Cowok ini, akhirnya memberanikan diri untuk datang ke rumah jahit itu dan—pura-pura?—minta dibuatkan satu set jas. Adegan mengambil ukuran badan cowok itu, saya mau bilang apa lagi … seksi sekali. Tensionnya menghancurkan apa yang saya pahami sebagai profesi penjahit selama ini; jauh dari kata seksi.

Saya menulis tentang lagu ini juga karena beberapa waktu belakangan saya ingin mengatur ulang hidup saya; tentang siapa yang akan saya pertahankan dekat, siapa yang saya biarkan menjauh. Saya sudah lama melempar sauh dan lupa mengangkatnya kembali. Bahwa ini tentang perjalanan, rasanya saya harus ingatkan diri saya sendiri lagi. Lagu ini jadi pengingat bahwa memulai berjalan dan pergi itu sulit. Kalau ada satu keadaan yang saya inginkan sekarang, tentu saja homeostasis. Tapi ada banyak yang harus ditinggalkan karena—bisa jadi—saya memberikannya titipan rasa terlalu banyak sehingga hanya memberat langkah pada akhirnya.

Satu hal lagi yang ingin saya tinggalkan—ini yang paling penting—adalah tentang menuliskan apa yang orang harap akan mereka baca dari saya. Banyak yang bilang mereka suka ketika membaca saya menuliskan tentang cinta dengan segala hujan gula dan pelangi harumanis di dalamnya. Saya memang menuliskan itu. Tapi ada banyak hal yang ingin saya tuliskan dan enggak juga berani saya lakukan sampai hari ini karena … entahlah. Bukan takut kritik. Saya biasa dengan kritik. Hanya saja, beberapa kali saya kena nasehat dari teman yang membaca tulisan saya dan menganggap apa yang saya tulis enggak memberikan ‘pesan moral’ atau ‘mengajarkan hal enggak baik’. Itu membunuh banyak hal, sebenarnya. Termasuk kreativitas dan apapun yang membuat tulisan saya jadi genuine, jadi ungkapan yang memang apa-adanya.

Kalau saya saja enggak bisa melarang anak-anak saya mengambar pohon dengan daun berwarna ungu karena itu cara mereka mengekspresikan apa yang mereka rasakan—daun ungu ternyata itu ada cerita di baliknya—mengapa saya membiarkan diri saya jadi semacam pabrik kata-kata yang menuliskan pesanan cerita yang orang lain suka? Kalau mereka enggak suka dan enggak mengerti (kita selalu takut dengan hal yang enggak kita mengerti, sepertinya—semisal, hantu dan makhluk astral), mulai saat ini, saya ingin meyakinkan diri saya bahwa itu bukan salah saya dan itu tidak mengapa. Akan ada yang suka dan enggak menghakimi karena menulis juga sama seperti gelombang radio; hanya yang bisa menangkap frekuensi yang kamu pancarkan yang bisa menerimanya. Itu tidak mengapa.

Mengambil posisi di tengah dan menuliskan banyak hal aman memang akan menyelamatkan saya dari semua nasehat itu. Tapi, bagaimana kalau saya ingin berhenti mendengarkan semua dan mulai mengorek dalam luka saya sendiri dan meletakkannya di atas kertas? Bagaimana kalau saya sudah lelah menahan dan ingin membebaskannya saja? Karena saya punya banyak cerita dan hanya sedikit yang indah—dan yang indah-indah ini melenakan. Hidup enggak selalu seindah itu—dan itu tidak mengapa.

Memutuskan kalau semua itu sudah cukup, jadi the hardest day in my life.

Ah, saya pun ingin menjahit cheongsam untuk dipakai di rumah…. 

* * *