Pernah enggak kamu menyesali satu-dua hal kecil yang membawa ke hal besar? Perumpamaannya mungkin seperti butterfly effect; satu kepakkan sayap kupu-kupu di tempat dan waktu yang tepat, bisa menggerakkan udara dan membuat atau mengagalkan badai di tempat lain, beberapa waktu kemudian.

Ini yang saya pikirkan ketika mendengarkan lagu ini beberapa hari belakangan. Saya enggak ingin berandai-andai untuk kembali ke waktu di mana seharusnya saya bisa menghindari kekacauan di hari ini dengan enggak melakukan satu-dua hal kecil beberapa bulan sebelumnya. Sama sekali enggak. Bukan karena saya masokis dan menikmati rasa sakit, bukan itu. Tapi karena rasa sakit yang belakangan datang itu enggak sebanding dengan banyak waktu menyenangkan yang seperti dua sisi koin. Bedanya; rasa sakitnya datang enggak perlahan-lahan. Itu saja. Agak kewalahan rasanya.

Tapi, mungkin akan lebih baik kalau saya punya kemampuan untuk memprediksi apa yang akan terjadi kemudian. Seperti ketika saya membalas satu-dua twit, lalu saya bisa melihat bagaimana akhirnya. Kalau ternyata enggak menyenangkan, saya akan mengabaikan semua yang akan membawa ke sana. Seperti suatu hari saya menjatuhkan buku-buku dari tas saya ketika akan membayar belanjaan di minimarket, seandainya saya tahu kalau orang yang membantu mengambilkan buku-buku itu, beberapa waktu kemudian akan bertukar nomer telepon dengan saya, lalu kami menghabiskan banyak waktu berbicara, dan kemudian entah bagaimana akhirnya malah saling menyakiti. Kalau saya bisa tahu itu, mungkin saya akan sekedar mengucapkan terima kasih lalu berlalu. Saya enggak akan membiarkan dia membayarkan belanjaan saya—yang hanya sedikit, hanya dua kotak kecil jus mangga—lalu mendengarkan cerita tentang betapa bodohnya saya pagi itu; terburu-buru dan meninggalkan dompet di meja makan.

Mungkin bukan dia yang salah. Mungkin saya yang salah karena dompet saya tertinggal. Kalau dompet itu enggak ketinggalan, saya enggak perlu mencari ke dalam tas dan menjatuhkan buku-buku itu, lalu enggak akan membuat orang yang berdiri di belakang saya merasa kasihan, dan kemudian membantu. Mungkin juga seharusnya saya enggak membeli jus mangga karena merasa sedikit lapar siang itu dan sarapan lebih banyak. Mungkin juga seharusnya saya enggak tidur terlalu malam dan bangun agak kesiangan. Mungkin juga seharusnya saya enggak menonton film malam itu. Mungkin juga seharusnya….

I am not the only traveler
Who has not repaid his debt
I’ve been searching for a trail to follow again
Take me back to the night we met
And then I can tell myself
What the hell I’m supposed to do
And then I can tell myself
Not to ride along with you

Ketika saya berteriak di telepon dengan pilihan kata-kata yang memang sengaja untuk menyakitinya, ingin rasanya saya kembali ke minimarket itu. Ingin rasanya tahu lebih dulu kalau kata-kata pertama yang keluar dari mulut saya akan sangat berbeda dengan kata-kata yang terakhir. Bahwa pada akhirnya ini semua akan berantakan dan mustahil dirapikan.

Mungkin seharusnya saya berteman dengan Heptapod dan belajar bahasa mereka agar bisa memahami waktu seperti mereka; enggak linier—semua sudah selesai dituliskan dan tinggal dijalankan. Saya ingin menghindari pilihan-pilihan yang salah. Walaupun kadang, saya belajar dari kesalahan, tapi … saya mempelajarinya sambil menangis di kamar, mengetik dengan mata kabur, mendengarkan lagu ini berulang-ulang, dan merasa hari ini jalannya pelan sekali—bahwa rasa sakit ini membuat waktu melambat, seperti sengaja untuk menyiksa.

Tapi saya juga enggak ingin kembali ke malam itu—yang saya ingat dengan cahaya warna-warni bergantian di luar jendela, bunyi kembang api, dan terompet, sementara saya masih juga duduk di depan laptop mengetikkan satu-dua kalimat yang pada akhirnya akan membawa ke hari ini. Bisa saja, malam itu saya keluar dari apartemen, melihat keramaian sampai dini hari, lalu lelap sampai siangnya karena kelelahan. Sayangnya, saya enggak ingin kembali ke malam itu. Saya ingin malam itu tetap terjadi. Hari ini tetap seperti ini. Sayangnya.

* * *