“Di situ ditulis; it’s often said that whatever you lose during Mercury retrograde will come back to you.

“Gue benci bilang ini—” Arya meletakkan secangkir latte di hadapan Gya, mendekatkan kotak kayu tempat meletakkan berbagai macam gula—gula palem, gula merah, gula putih, dan gula tanpa kalori—lebih dekat ke hadapan gadis itu. Arya tahu Gya tidak akan mengambil satu pun bungkusan gula itu karena dia membuatkan latte yang persis seperti kesukaan Gya dengan manis yang pas dari sirup gula yang ditakar baik-baik, bukan dari gula butiran. Tapi dia dekatkan juga kotak itu karena terbiasa melakukan itu kepada pelanggan lain. Dia lalu mendaratkan piring ceper putih berisi lima buah croissant yang baru saja diangkat dari oven. Uap panasnya bahkan belum hilang.

“Di situ ditulis; it’s often said that whatever you lose during Mercury retrograde will come back to you.Arya menekankan telunjuknya ke majalah yang sedang dibaca Gya.

“Apa itu Mercury retrograde?” Gya bertanya sambil mengangkat kepalanya. Mengalihkan pandangan dari halaman majalah ke wajah Arya yang berkeringat. “Lo keringetan,” sambung Gya, “muka lo jadi berkilau.” Kalimat yang terakhir itu diucapkan dengan nada mengejek.

Arya tersenyum sinis lalu mengambil dua lembar tisu yang tertumpuk rapi di dalam keranjang rotan di bawah konter. Dia menghapus keringat di keningnya lalu mengambil lagi dua buah tisu dan meletakkannya di samping cangkir latte milik Gya.

“Mungkin semacam planet Merkurius yang masuk ke rasi Libra, mungkin…. Gue bukan pemerhati astrologi dan enggak percaya begituan soalnya,” jawab Arya.

“Tapi lo baca ramalan bintang di majalah ini sebelum gue?” tanya Gya sinis.

Arya tertawa. Kali ini lepas dan terbahak.

“Itu bisa jadi pembuka pembicaraan,” kata Arya setelah tawanya reda. “Misalnya ada cewek duduk di sini, terus gue ajak ngobrol dengan satu-dua ramalan bintang, mereka bakalan suka. Biasanya gue mulai dengan menebak mereka zodiaknya apa.”

“Lo menggenaskan!” Gya menggelengkan kepalanya pelan dan melihat Arya dengan sedikit menyipitkan matanya. “Benar-benar kasihan. Menyedihkan.”

“Itu berhasil!” Arya tidak peduli dengan tatapan Gya yang dia tangkap, meremehkan. “Ada juga yang enggak. Tapi lebih banyak yang berhasil. Yah, lima puluh persen berhasil, deh.”

Gya membaca lagi tulisan di depannya; ramalan bintang yang tidak pernah dia percaya tapi hari ini, entah mengapa, dia membuka halaman itu dan ingin membacanya.

“Jadi apapun yang pergi darimu ketika Mercury retrograde akan kembali lagi?” tanya Gya pada dirinya sendiri. Tapi Arya mendengar pertanyaan itu. Dia memasukkan satu loyang croissant lalu menekan tombol pengatur waktu di oven agar berhenti di menit ke lima puluh dan kembali berdiri di depan Gya.

“Kenapa masih menunggu?” tanyanya dengan suara pelan.

Gya menutup majalah itu dan menggesernya menjauh. Di meja bar yang panjang ini, hanya dia yang duduk sejak tadi walaupun penunjung Magnolia cukup ramai sejak siang. Hanya orang yang datang sendirian seperti dia yang duduk di sini dan bercakap-cakap dengan barista yang sambil bicara sibuk mengatur potongan apel setup di atas loyang yang sudah dilapisi kulit pai. Beberapa barista yang lain mondar-mandir melayani pelanggan; membuat kopi, mengambil irisan kue dari rak, membersihkan meja, membawa cangkir-cangkir kotor ke belakang untuk dicuci. Hanya Arya yang tidak melakukan itu. Dia membuat pai dan bicara dengan Gya.

“Itu ada yang jatuh,” tunjuk Gya pada satu potongan kecil apel yang berlumuran saus kental kecokelatan.

Arya melihat ke arah yang ditunjukkan Gya dan bukannya mengambil potongan itu dari meja lalu membuangnya, dia malah memasukkannya ke mulutnya. “Enak,” ujarnya, “kayu manisnya pas.”

“Gya,” panggil Arya, dia sudah berdiri lagi di depan Gya—mengabaikan pekerjaannya di meja. “Kenapa masih juga menunggu?”

Gya menarik napas. Sepertinya ini pertanyaan yang harus dijawab karena dia tahu Arya—lelaki ini tidak akan berhenti sampai mendapat apa yang dia inginkan. Kali ini, dia ingin jawaban.

“Gue enggak menunggu,” jawaban itu tersendat keluar dari tenggorokannya.

“Lo masih menunggu.”

Arya membuka sarung tangan plastik dari kedua tangannya dan membuang barang yang berlumuran tepung itu ke tong sampah. “Ini Sabtu, lo ada di sini sejak jam sepuluh pagi, memesan latte dan croissant, duduk di sini agar bisa dengan leluasa melihat ke arah pintu.”

Meja ini memang langsung menghadap pintu di sebelah kanan. Tapi bukan itu saja yang membuat Gya memilih untuk duduk di sini; dia memang ingin bicara dengan Arya.

Arya menghilang ke dapur dan muncul beberapa saat kemudian dengan satu keranjang apel Granny Smith yang hijaunya mengingatkan Gya pada ulat bulu yang sering ada di batang mawar milik mamanya. Arya mengambil satu pasang sarung tangan plastik baru dari kotak di bawah konter dan memasangnya dengan cepat. Dia sudah sangat terbiasa dengan pekerjaan ini dan bisa melakukannya bahkan tanpa harus melihat tangannya. Dia pun mulai mengupas kulit apel itu.

“Lo masih menunggu,” katanya lagi. “Mungkin dia akan kembali, mungkin juga enggak. Satu hal yang harus dia tahu ketika dia kembali, semua yang ada di sini enggak lagi sama.”

“Apa yang enggak lagi sama, Ya?” tanya Gya. Dia ingin tahu, apa yang dilihat Arya berbeda dari dirinya sekarang ini—setelah beberapa waktu berlalu.

“Hati,” jawab Arya.

Gya menarik napas karena dadanya mendadak terasa sesak.

“Karena sudah pecah—“

“—berkali-kali,” sambar Gya.

Arya memotongnya tipis apel itu lalu memasukkan satu potongan ke mulutnya. Sisanya potongannya, dia letakkan di mangkok kaca besar.

“Jadi, ramalan bintang yang tadi itu salah menurut lo?”

“Apa ada ramalan yang benar?” jawab Arya sambil mengunyah. Dia lalu melirik ke arah Gya yang sedang menyesap latte, “Atau lo mau ramalan itu jadi benar?”

Gya meletakkan cangkirnya.

“Kalaupun benar, gue enggak tahu apa yang gue harapkan kembali, Ya; dia, perasaan gue, kebahagiaan gue, atau … entahlah.”

Arya mengambil satu apel lagi untuk dikupas. “Harusnya yang kembali itu hati lo,” ujarnya.