“Hmmm … tapi dosis yang disarankan untuk ketemu sama lo itu cuma sehari sekali. Lebih dari itu, efeknya enggak bagus buat kesehatan mental gue.”

Tapi Arya lupa bahwa hati yang sudah dibawa pergi tidak akan mungkin kembali. Orang yang membawa pergi tidak akan mengembalikannya karena kadang mereka tidak sadar kalau mereka membawanya serta, di suatu hari, ketika mereka berkata bahwa semua sudah cukup; cukup sampai di sini. Mungkin hati itu tersangkut di ujung bajunya. Mungkin juga karena sudah terlalu lama memegangnya, mereka sudah terlalu terbiasa; tidak lagi menyadari kalau benda itu ikut terbawa.

Gya tidak mendebat Arya siang itu—mungkin dia akan mendebatnya lain waktu kalau dia punya sisa tenaga. Gya pulang dengan membawa banyak pikiran; kebanyakan sekarang bentuknya kalimat-kalimat panjang dengan tanda tanya di ujungnya. Semacam; mengapa aku ditinggalkan? Pertanyaan yang Gya tahu, jawaban apapun tidak akan pernah cukup baik.

Lampu merah di perempatan ini membuat Gya hampir kehilangan kesabarannya. Rasanya, sudah hampir setengah jam dia ada di sini, berjalan sebentar lalu berhenti lagi. Bunyi klakson bersahut-sahutan ketika lampu di depannya menjadi hijau. Gerombolan motor menerabas tengah jalan dengan cepat. Dia menekan pedal gas pelan. Dia tidak sedang terburu-buru—dan kehilangan kesabaran tidak ada hubungannya dengan kamu sedang terburu-buru atau tidak.

Ponselnya berbunyi. Gya sedikit terkejut. Seandainya bukan nama Arya yang tampak di layar itu—lengkap dengan foto mereka berdua ketika awal tahun lalu mereka mendadak ke Dufan setelah ujian akhir semester—mungkin Gya tidak akan mengangkatnya. Tapi ini Arya dan karena itu, dia harus. Gya mengusap layar ponselnya beberapa kali, meletakkan benda itu di pangkuannya, dan memasang loudspeaker.

“Di mana, Nda?” suara Arya terdengar lantang. Arya tidak memanggil Gya dengan ‘Gya’ seperti banyak temannya yang lain. Mereka besar bersama, Arya memanggilnya dengan panggilan kecilnya, Nda, dari nama depannya; Gyanda.

“Di jalan,” jawab Gya.

“Di jalan mana?”

“Hmm … setelah Pasar Rebo. Belok ke Taman Mini. Kenapa?”

“Lo belum sadar kalau dompet lo ketinggalan?”

Gya melirik ke arah bangku kosong di sebelahnya. Di sana ada tasnya. Seingatnya, dia sudah memasukkan dompet ke dalam tas itu setelah selesai membayar.

“Gimana?” tanya Arya lagi.

“Hmmm, terserah.”

“Terserah itu susah,” ujar Arya. “Jawaban semacam ‘putusin aku’ atau ‘ayo kita kawin aja’ itu lebih mudah.” Lelucon itu tidak terdengar lucu karena Gya baru ingat kalau dia harus mampir warung sayuran di depan pasar—yang masih buka di sore hari—untuk belanja bahan makan malam.

“Gue harus belanja buat masak.”

“Gue free setelah jam enam sore. Jadi, gue enggak bisa nganterin sekarang kecuali lo balik ke sini. Sekarang masih jam tiga.”

Balik ke Magnolia bukan pilihan yang bagus karena sebentar lagi, jalanan akan lebih padat dan Gya tidak ingin terlibat dengan apapun yang ada hubungannya dengan jalanan ini. Dia ingin sudah ada di rumah sebelum sore. Memasak makan malam sambil mendengarkan musik atau menonton film. Lalu menunggu Mama yang pulang menjelang jam tujuh malam.

“Gue enggak mau balik,” jawab Gya. “Macet banget sebentar lagi.”

“Kalau gitu, lo ngutang dulu sana di warung.”

Bukan pilihan bagus dan tidak akan pernah dipertimbangkan oleh Gya.

“Ada saran lain?” tanya Gya sambil melirik beberapa kali ke arah spion dalamnya. Ada mobil yang berjalan sedikit cepat di belakangnya tapi tidak juga ingin mendahului. Membuat Gya sedikit kesal. Dia menekan klakson dua kali dan memberikan tanda untuk mendahului dengan tangannya—tidak ditambah senyum karena dia kesal dan dia ingin siapapun yang mengemudikan mobil itu tahu kalau dia kesal.

“Undang gue ke rumah lo buat dinner nanti malam,” jawab Arya.

Mobil itu berjalan di samping mobil Gya dengan cepat. Setelah mobil itu berlalu, Gya merasa lebih santai sedikit. Dia bisa melepaskan tangan kirinya yang mulai terasa pegal dari kemudi.

“Hmmm … tapi dosis yang disarankan untuk ketemu sama lo itu cuma sehari sekali. Lebih dari itu, efeknya enggak bagus buat kesehatan mental gue.”

Terdengar suara Arya tertawa.

“Undang gue ke rumah lo nanti malam, gue bawain dompet lo dan juga makan malam. Lo boleh pilih.”

“Apa lo bisa datang lebih cepat? Jam tujuh sampai sini, misalnya? Terus lo masak sebentar buat makan malam?” tawar Gya.

Dia menunggu Arya yang sepertinya sedang mempertimbangkan pilihan itu karena Gya mendengar Arya beberapa kali ber-‘hmmm’ panjang.

“It’s doable,” jawab Arya.

“Kweetiaw goreng?”

“Itu juga bisa.”

“Pedas. Banyakin bok choi-nya.”

“Hmmm….”

“Terus kalau ada sisa pai apel, bawain juga, ya.”

“Beneran mau sisa atau lo mau gue bawain satu loyang yang baru dioven?”

“Pilihan kedua kedengarannya lebih lezat.”

“Oke. Bisa diatur dan setengah isi dompet lo pindah ke dompet gue. Isinya enggak sampai dua ratus ribu begini—”

“Jangan buka dompet gue!” teriak Gya.

“—gue enggak jadi datang, nih!”

“Buka-buka dompet orang itu enggak sopan tahu!”

“Nyuruh-nyuruh orang datang ke rumah buat nganterin dompet yang ketinggalan, belanja buat masak makan malam, terus masih ditambah dengan ngebawain pesanan pai apel yang baru dibakar itu juga enggak sopan. Painya panas, susah bawanya. Lo harus tahu itu.”

“Kenapa enggak bawa pai mentah aja. Tapi yang udah ditata di loyang terus dibakar di oven rumah gue?”

“Enggak bisa. Nanti cairannya rembes. Kulitnya jadi enggak renyah lagi. Terus—”

“Oke … oke! Terserah lo.” Gya memotong ucapan Arya karena dia tahu, Arya bisa menjelaskan panjang-lebar mengapa hal itu tidak mungkin dilakukan dengan segala macam teori kalau tidak cepat dihentikan. Dia hanya ingin dompetnya kembali. Juga kweetiaw buatan Arya … dan pai apel, tentu saja.

Gya membiarkan saja ponselnya tetap tergeletak di pangkuannya setelah Arya memutuskan telepon. Jalanan di depannya tidak lagi padat. Dia bisa menambah kecepatan laju mobilnya. Kalau seperti ini terus, setengah jam lagi, dia akan sampai di rumah. Tidak perlu belanja karena Arya akan datang. Dia hanya perlu menyiapkan beberapa alat masak agar tidak perlu repot mencari-cari lagi nanti. Mungkin juga dia akan mandi.

Gya menarik napas dan menghembuskannya pelan. Mematikan pendingin udara di mobilnya dan membuka sedikit kaca jendela. Suara deru jalan raya masuk dengan debu yang terbang di bawa angin. Bagian samping rambutnya yang terurai bergerak pelan.

Seandainya lelaki itu bisa melakukan apa yang Arya lakukan; menelepon untuk memberitahukan kalau dompetnya sudah tertinggal lalu menawarkan untuk mengantarkannya pulang. Lelaki itu tidak pernah melakukannya. Mungkin juga karena dia tidak pernah membiarkan lelaki itu tahu kalau dia diam-diam sudah meletakkan hatinya di tangan lelaki itu jauh sebelum dia meninggalkannya.

Mungkin lelaki itu tidak pernah tahu.