Gya merasa ada satu lagi yang kembali ketika dia memegang tengah dadanya dengan tangan kanan; sakit di sana.

Arya meminta iron skillet—semacam penggorengan dengan dasar rata terbuat dari besi—dan Gya lupa meletakkannya di mana. Mungkin rumah ini tidak pernah menyimpan barang seperti itu, Gya sendiri tidak yakin. Setengah jam yang lalu, Arya mengirimkan pesan yang meminta Gya untuk menyiapkan iron skillet. Pesan itu diakhiri dengan tiga tanda seru. Berlebihan memang. Tapi apa yang tidak berlebihan dari Arya? Termasuk yang paling Gya suka; perhatiannya.

Gya menemukan teflon dengan ukuran cukup besar. Tapi suatu kali, Arya pernah memberikan kuliah singkat tanpa diminta sekadar untuk menjelaskan kalau teflon itu tidak bagus untuk … entahlah, Gya sudah lupa. Mungkin untuk kesehatan atau untuk cita-rasa masakan. Bagi Gya, itu tidak penting. Kenyang, itu lebih penting.

Dia berhenti mencari dan meletakkan saja teflon itu di atas konter dapur lalu berjalan ke kamarnya. Mengecek ponsel dan tidak menemukan apapun di sana. Dia berharap Arya akan menghubunginya lagi untuk mengabarkan kalau dia sudah berangkat ke sini. Tapi pesan seperti itu tidak ada dan Gya merasa sedikit kecewa karena bisa saja, Arya belum jalan ke sini. Masih melakukan entah apa di Magnolia sementara dia sudah kelaparan dan kurang dari satu jam, Mama akan pulang. Gya sudah berjanji untuk masak makan malam hari ini. Dia sudah tidak punya alasan lagi untuk tidak melakukannya karena dua hari sebelumnya, Gya sudah mangkir. Alasannya cukup baik dan bisa diterima akal, sih; tugas kuliah. Tapi ini hari Jum’at, malam Sabtu. Besok libur dan alasan tugas kuliah hanya cocok untuk mahasiswa pekerja-keras. Gya tidak seperti itu. Hari ini alasan itu jadi tidak relevan lagi.

Gya menyalakan laptop dan menonton Gilmore Girls di Netflix. Hampir habis satu episod ketika Arya datang. Gya tahu dari suara sepeda motornya dan dari usaha tidak kenal lelah dan berisiknya membuka pagar rumah—dia selalu gagal karena dia tidak juga paham kalau pagar itu harus diangkat sedikit sebelum dibuka. Gya berlari ke teras dan mengambil sendal jepit dari rak. Memakainya asal dan membukakan pagar untuk Arya. Yang dia lihat berikutnya adalah wajah Arya dengan bulatan-bulatan merah bercampur hijau. Lalu ada juga sisa darah di hidung dan tepi bibirnya.

Arya membuka helm pelan-pelan sambil mengaduh. Dia lalu menuntun sepeda motornya masuk dan memarkirnya di samping mobil Gya.

“Jatuh?” tanya Gya cemas. Arya mundur selangkah ketika Gya ingin memegang pipinya. Di bagian yang paling besar bulatannya—dan juga yang paling merah.

“Bukan,” jawab Arya singkat.

Dia mengambil plastik belanjaan yang tersangkut di bagian depan sepeda motornya dan berjalan ke arah pintu ruang tamu sementara Gya mengikutinya dari belakang.

“Terus kenapa bentuk lo jadi kayak begini?”

Arya tidak menjawab. Dia langsung menuju dapur. Mengambil teflon yang Gya letakkan di atas konter dan memandang ke arah gadis itu dengan mata menyipit.

“Teflon? Really?”

“Enggak ketemu yang lain.”

“Penggorengan aluminium ada?” Arya menyimpan teflon itu di rak dapur.

“Ada … entah di mana,” jawab Gya. Dia tidak yakin juga kalau barang semacam itu ada di rumah ini.

“Gue cari sendiri, deh.”

Arya mulai membuka satu persatu tutup rak dapur dan memeriksa alat yang dia bisa pakai. Gya berdiri di sampingnya. Menyikut perut Arya tapi lelaki itu malah meringis menahan sakit.

“Aduh!” teriaknya.

“Lo kenapa, sih?” tanya Gya. Kali ini agak memaksa. “Jawab atau gue sikut lagi?”

“Sikut aja lagi,” jawab Arya cuek.

“Pakai pisau boleh?”

“Samurai ada?” tantang Arya, “atau parang?”

Gya mundur. Dia mengeluarkan jurus terakhirnya.

“Ya, udah. Gue ke kamar aja. Enggak makan malam. Langsung tidur,” ancamnya dengan suara sedikit merajuk. Biasanya, Arya mudah terpancing umpan yang satu ini. Tapi entah mengapa, kali ini, Arya hanya berbalik—dengan penggorengan aluminium di tangannya—dan menatap Gya beberapa lama tanpa bicara.

“Kenapa, sih?” tanya Gya lagi.

Arya masih terdiam. Gya melihat masih ada darah menetes dari hidungnya. Arya menjepit hidungnya dengan telunjuk dan ibu jari sambil mengadahkan kepala sementara Gya mengambil tisu dari meja makan. Buru-buru dia berikan tisu itu ke tangan Arya.

“Darahnya buat penyedap rasa?” tanya Gya sinis.

Arya masih terdiam. Dia menatap lagi Gya berlama-lama. Tisu yang tadinya putih, berubah jadi merah.

“Ada lagi yang kembali hari ini selain dompetmu,” kata Arya. Pelan dan terbata.

“Apa?” tanya Gya penasaran dan tidak sabar.

“Bukan apa, tapi siapa.”

Gya menarik satu tisu dari kotak panjang berlapis kain songket yang dibelinya tahun lalu ketika dia ke Bukittinggi.

“Jangan bilang….”

“Jangan bilang apa?” tanya Arya. “Dia kembali.”

“Terus ini?” Gya menunjuk wajah Arya yang babak-belur.

“Menurutmu apa lagi?”

Gya menarik napas panjang. Dia teringat ramalan bintang di majalah yang dia baca tadi siang; mercury retrograde. Apa yang hilang dan pergi ketika mercury retrograde akan kembali. Gya merasa ada satu lagi yang kembali ketika dia memegang tengah dadanya dengan tangan kanan; sakit di sana.