Ada yang jadi bahan pikiran saya akhir-akhir ini dan cukup mengganggu; membuat sulit tidur, sulit untuk melakukan hal lain, walaupun punya pengaruh positif juga yang membuat saya banyak makan. Orang yang kenal saya, tentu tahu, kalau saya jarang makan. Sekali sehari kadang sudah cukup. Sebulan belakangan, saya makan—kadang—sampai tiga kali sehari. Saya bangga pada kebiasaan baru ini.

Saya enggak mau membicarakan itu.

Beberapa malam lalu, saya mengkonfrontasi Tuan Sinung. Berkata dengan marah padanya, “Mengapa lo enggak melindungi gue dari hal-hal semacam ini? Sekarang kalau sudah begini, mau apa?”

‘Hal-hal semacam ini’ yang akan saya jelaskan.

Ada satu hal yang saya pahami tentang diri saya sejak lama; saya mudah dekat, lekat, dan jatuh sayang pada orang lain. Apalagi kalau mereka punya luka atau sisa luka yang sama—yang kadang jadi bahan pembicaraan. Saya enggak judgemental. Ini juga yang sepertinya membuat banyak surat dan pesan panjang berisi curhat. Saya kadang menyebut surel saya sebagai kotak darah karena terlalu banyak luka disimpan di sana. Saya bisa mendengarkan cerita perselingkuhan orang lain dan membuat orang itu enggak merasa dihakimi. Selingkuh itu salah, demi Allah itu salah. Tapi saya mencari hal lain di balik itu yang membuat mereka mengerti bahwa itu bukan hanya sekedar salah; tapi itu juga pertanda tentang banyak hal. Selingkuh bukan penyakit, dia hanya gejala kalau ada penyakit di dalam hubungan itu. Penyakit ini yang mau dicari tahu dan disembuhkan sehingga gejalanya bisa hilang juga.

Kadang, mendengar cerita tentang satu-dua hal yang pernah saya alami sebelumnya dan saya enggak melaluinya dengan selamat—saya keluar dari sana dengan berdarah-darah—membuat saya ingin ada di sana dengan orang itu. Setidaknya menemaninya bicara. Lalu bagaimana dengan kondisi ketika luka orang lain sudah terlalu merasuk ke dalam diri saya sendiri, saya enggak hanya menyisihkan waktu tapi juga tenaga dan hati, lalu orang ini kemudian memperlakukan saya seperti gangguan yang harus dihilangkan? Sakit. Sakit sampai ke tulang. Ini terjadi baru-baru ini dan terjadi berkali-kali.

Biasanya, saya enggak peduli. Biasanya.

Tapi kemarin, saya berteriak juga dan memutuskan bahwa saya enggak bisa menolong semua orang. Setiap orang punya tanggung-jawab sendiri. Mereka seharusnya menyembuhkan luka sendiri karena kadang mereka enggak sadar bahwa mereka sebenarnya kuat. Lalu saya memutuskan untuk menyelamatkan diri saya sendiri. Meninggalkan apa yang perlu ditinggalkan dan entah akan kembali atau enggak.

Satu hal yang membuat saya tersadar bahwa kondisi seperti itu malah hanya membuat saya selangkah lebih dekat untuk lebih dari sekedar patah hati; saya terus-menerus mempertanyakan my worthiness. Saya mempertanyakan apa saya cukup baik atau saya ini hanya iblis berwajah manusia? Mempertanyakan apa keberadaan saya enggak akan menyakiti orang lain? Atau sebenarnya saya ini membawa parang ke mana-mana dan menyapa orang lain dengan menusuk jantung mereka? Saya enggak akan pernah tahu jawabannya karena saya pun enggak pernah bertanya pada mereka. Seperti yang sudah-sudah, saya mengambil jawaban terburuk untuk dipercaya. Lalu menyelamatkan diri sambil berpikir bagaimana caranya untuk menyelamatkan mereka juga—memutuskan apapun yang mereka punya dengan keberadaan saya—karena saya hanya akan menyakiti mereka.

Tapi mana yang lebih menyakitkan orang lain? Menjawab cerita mereka dengan berkata, “That’s your business, not mine.” Atau dengan mendengarkan dan meminjamkan bahu, kepala, hati, dan tangan? Lalu dari dua pilihan itu, mana yang lebih menyakitkan untuk diri saya sendiri?

Saya seringkali menulis cerita tentang hati, jantung, jantung-hati, dan berkali-kali berharap bahwa saya enggak memiliki benda satu itu. Rasanya lebih baik enggak punya hati karena enggak akan merasakan apapun. Lebih baik enggak merasakan apapun karena banyak sakit yang enggak bisa saya tanggung.

Satu kalimat yang akhirnya saya ucapkan juga pada seseorang beberapa waktu lalu, yang sekuat tenaga saya tahan agar enggak pernah dia dengar dari saya—karena saya pun benci kalimat ini, “You take me for granted.”

Kalimat itu berarti; kamu menganggap keberadaan saya enggak penting karena bisa jadi; saya kurang baik, kurang memuaskanmu, atau saya ini plain evil.

Lalu setelah saya mengatakan itu, saya pun memutuskan pergi.

Malamnya, saya bercerita pada Tuan Sinung dan dia bilang, “Lo hanya terlalu sensitif. Lo terlalu terbuka untuk membiarkan orang masuk ke hati lo dan berbuat kerusakan di sana.”

Lalu, teriakan itu yang dia dapatkan, “Mengapa lo enggak melindungi gue dari hal-hal semacam ini? Sekarang kalau sudah begini, mau apa?”

“Tutup pintu,” jawabnya.

Suatu ketika, saya pernah sangat suka dengan komik Clover keluaran Clamp. Bercerita tentang seorang gadis yang punya tanda empat clover, yang artinya dia punya kekuatan paling kuat dari semua manusia yang diburu karena punya kekuatan tertentu. Komik itu sayangnya bercerita bukan tentang apa yang dia bisa lakukan dengan kekuatan itu, semacam; menyelamatkan kota atau yang lainnya. Gadis itu ingin mati. Sesederhana bahwa dia tahu pada suatu ketika, kekuatan sebegitu besar, hanya akan menyakiti banyak orang. Ini masih ditambah dengan kenyataan bahwa enggak ada yang bisa membunuh dia kecuali dirinya sendiri. Suatu ketika, dia melarikan diri ke taman bermain dan duduk di sana, meledakkan diri. Semuanya demi untuk tidak menyakiti lebih banyak orang lagi.

Tapi saya enggak ingin seperti itu.

Entah apa yang saya inginkan sekarang. Mungkin menulis karena ini salah satu cara untuk membuat banyak hal jadi masuk akal untuk saya dan juga menyembuhkan. Mungkin di rumah yang tertutup pintunya. Tapi … saya begitu suka melihat langit, hujan, dan pelangi setelahnya.

Mungkin saya akan membuka jendela.

… dan jendela itu; blog ini dan tempat saya meletakkan tulisan saya yang lain.

Mungkin untuk beberapa pekan saja sampai saya bisa melogika ini semua. Mungkin saya perlu hitungan bulan. Mungkin sampai … entahlah. Sebanyak waktu yang saya perlukan.

* * *