“Ya, ini memang pertaruhan. Gue akan mempertaruhkan apa yang gue punya dan sanggup letakkan di atas meja. Karena, Ya … kalau gue enggak mempertaruhkan sesuatu, gue akan kehilangan lebih banyak lagi.”

“Gue membayangkan hari ini, Ya,” ujar Gya setelah menelan tegukan kecil teh tanpa gula. Kebiasaannya setelah makan malam sejak lama.

Arya berdiri di sampingnya, mungkin memandang ke arah lampu-lampu dari kamar-kamar di perumahan ini—entahlah. Dia tidak juga bicara. Ketika makan malam tadi, dia banyak bicara dengan Mama, seperti biasa. Dia juga berbohong dan bilang kalau dia jatuh dari motor ketika menuju ke sini. Mama yang curiga—tentu saja curiga, dia jatuh dari motor tapi memakai helm dan luka lebih banyak ada di wajahnya?—tidak bertanya banyak. Dia menunjukkan wajah pengertian dan mengiyakan saja semua cerita Arya. Termasuk bumbu dramatis di bagian tengah; Arya menghantam pagar pembatas jalan demi menghindar dari kucing yang lewat. Ketika menceritakan itu, Gya membelalakkan mata ke arah Arya.

“The devil is in the details,” katanya Gya memberi alasan sambil mencuci piring sementara Arya membantunya merebus air untuk menyeduh teh. Mama sudah pergi ke kamarnya. Mungkin melanjutkan pekerjaan kantor yang diabwa pulang atau tidur karena lelah. “Tapi lumayan, sih, cerita lo. Lumayan katro!”

Lagi-lagi, Arya tidak memberikan tanggapan yang diinginkan Gya. Dia ingin Arya jahil dan sinis, seperti biasanya. Tidak seperti sekarang yang lebih banyak diam seolah berpikir.

Gya memegang buku jari Arya yang memar. Arya menolak memakai plester atau apapun.

“Biarkan saja,” katanya, “besok aku ke dokter. Mungkin tulang rusukku ada yang patah.”

Arya menangkap jari-jari Gya dan menggenggam tangan gadis itu beberapa lama.

“Apa yang lo bayangkan?” tanyanya.

“Banyak,” jawab Gya. “Apa yang gue lakukan, katakan, pikirkan. Entahlah. Ada banyak skenario di kepala gue. Semuanya gue buat sambil berharap dia kembali. Tapi sekarang, gue menyesalinya.”

“Kenapa?”

Gya melepaskan tangannya dari genggaman Arya.

“Mungkin lebih baik kalau dia enggak pernah kembali.”

Gya bisa mendengar suara napas Arya. Lalu desah sedikit kesakitan lelaki itu—yang sudah menjadi sahabatnya sejak mereka bertemu di hari pertama Sekolah Dasar.

Arya berbalik. Menyandarkan pinggangnya di pagar balkon. Gya menyesap lagi tehnya yang mulai dingin.

“Lo tetap enggak mau cerita?” tanya Gya dengan penasaran yang semakin membunuhnya.

“Gue enggak mau lo luka lagi,” ujar Arya. “Sakit, kan.”

“Ini juga sakit, kan?” Gya menunjuk lagi wajah Arya.

“Apanya yang lain?”

“Gue membela diri.”

“Jadi kalian baku-hantam?” tanya Gya tidak percaya.

“Di parkiran Magnolia.”

“Serius?”

Arya mengangguk. Gya lalu tertawa.

“Lo ingat enggak, waktu lo kita kelas dua SMP dan ada anak kelas tiga yang usil sama gue?”

Arya tersenyum. Bagaimana mungkin dia melupakan kejadian itu? Dia sok berani ingin menolong Gya yang berakhir dengan mereka berdua dikejar sampai ke jalan buntu dan yang membuat mereka selamat; tangisan pura-pura Gya yang menyayat hati. Juga ancaman untuk melaporkan ke Kepala Sekolah.

“Lo enggak seberani itu,” Gya memberikan penilaian.

Arya tersenyum lagi.

“Dia datang menjelang kafe tutup. Gue lagi beberes,” Arya memulai ceritanya. Gya tahu Arya akan cerita juga cepat atau lambat. Dia hanya perlu bersabar dan menghabiskan tehnya yang sudah dingin. “Dia nyari gue, bukan lo. Terus gue nanya, ‘Ada perlu apa?’ Dia ngasih gue kartu ini.” Arya mengeluarkan kartu putih yang sudah lecek dengan tulisan angka-angka berwarna biru tua. Arya mengulurkannya. Gya memperhatikan angka-angka itu dengan seksama tapi dia tidak tahu itu apa.

02518311362

“Apa ini kode tertentu?” tanya Gya.

“Kode apa? Kode rahasia untuk meluncurkan bom nuklir?” ejek Arya.

“Gue pikirin nanti. Terus?” Gya lebih penasaran dengan cerita Arya.

“Dia minta kartu itu disampaikan ke elo. Waktu gue tanya, kenapa dia enggak ngasih sendiri, dia enggak jawab. Gue emosi. Gue tarik kerah bajunya dan gue seret dia ke parkiran. Gue pukulin di sana,” lanjut Arya bercerita.

“Jadi … lo yang mukulin dia?” tanya Gya memastikan.

Arya mengangguk.

“Yakin?” tanya Gya sekali lagi.

“Kenapa emangnya?”

“Dari luka-luka lo, kelihatan kalau lo yang dipukulin.”

Arya berdehem sebelum menjawab, “Iya, gue cuma bisa mukulin dia beberapa kali, terus balik gue yang dipukulin.”

“Itu menjelaskan kenapa buku-buku jari lo enggak terlalu parah keadaannya dibanding muka lo.”

“Makasih analisanya.”

Tidak ada yang tertawa setelah Arya mengatakan itu. Biasanya, Gya akan membalas lagi dengan komentar yang tidak kalah sinis. Tapi sekarang, otaknya penuh dengan berbagai pertanyaan.

Mama keluar dari kamarnya menjelang jam sembilan malam. Memastikan kalau Arya baik-baik saja dan menanyakan apa dia ingin menginap di sini. Seperti biasa, dia bisa tidur di kamar tamu yang letaknya di lantai bawah. Kamar itu sudah lama tidak dibersihkan. Kalau Arya mau menginap, tentu Gya punya pekerjaan tambahan lain malam ini; membersihkan kamar tamu.

Tapi Arya menolak untuk menginap. Memberi alasan kalau dia harus ke Magnolia pagi sekali. “Weekend selalu ramai,” ujarnya.

Mama berkeras untuk tidak membiarkan Arya pulang sendirian dengan sepeda motor. “Kamu bisa jatuh lagi nanti,” katanya.

Gya yang ada di antara mereka tahu kalau ujung dari semua ini; dia harus melakukan sesuatu. Karena itu, dia menawarkan untuk mengantar Arya pulang. Rumah Arya tidak jauh, hanya tiga kilometer dari sini yang bisa ditempuh kurang dari setengah jam kalau jalanan tidak macet. Ini malam Sabtu, jalanan pasti macet dan Gya malas sekali menyetir.

Berat hati, dia tawarkan juga penyelesaian itu, “Gue anterin lo pulang. Besok, suruh Bona ambil motor lo ke sini.”

Arya dan Mama setuju—Arya sedikit tidak enak tapi entah mengapa Gya yakin kalau itu karena ada Mama saja. Begitu dia masuk ke mobil dan memasang sabuk pengaman, Arya langsung tersenyum lebar. “Thanks, yah.”

Gya cemberut.

“Ya,” panggil Gya. “Gue harus gimana?” tanyanya.

“Dia kembali untuk mempermainkan lo lagi,” jawab Arya.

“Dia minta gue mengejarnya. Ini semacam undangan untuk permainannya yang lain. Yang baru,” ujar Gya. “Gue harus gimana? Gue mau tahu jawaban dari semua pertanyaan gue. Ini kesempatannya. Kalau gue bisa bertemu dengan dia lagi.”

“Apa semua pertanyaan lo itu harus dijawab?” Arya bertanya balik. “Bagaimana kalau memang enggak ada jawabannya? Atau lebih parah, bagaimana kalau jawabannya menyakitkan? Bagaimana kalau jawaban itu bukan sesuatu yang ingin lo tahu?”

Arya menatap Gya. Menyentuh ujung rambutnya yang belum berapa lama dipotong pendek sebahu. Arya masih ingat ketika rambut itu panjang dan berkali-kali digunakan untuk menghapus airmata ketika Gya bercerita tentang lelaki itu. Rambut itu membuat pipi Gya lecet dan gadis itu tidak peduli. Arya tidak ingin hal seperti itu terjadi lagi.

“Yang di ramalan bintang itu—“ Arya sudah memotong perkataan Gya sebelum dia menyelesaikannya.

“Kenapa jadi balik ngomongin itu, sih? Itu cuma ramalan bintang. Enggak penting.”

“Karena enggak penting itu makanya gue omongin,” jawab Gya.

“Karena yang penting menyakitkan?” tanya Arya serius.

“Bukan,” jawab Gya. “Karena yang penting….” Gya pikir, dia bisa menjawab pertanyaan sederhana seperti itu. Ternyata tidak. Dia pun terdiam. Beberapa lama. Mobil yang dia kendarai menembus kemacetan. Berjalan di bawah lampu penerang jalan yang makin tidak kelihatan karena lebih banyak lampu lain di sekitarnya yang lebih terang.

“Lo mau bilang apa tadi tentang ramalan bintang?” tanya Arya setelah mereka terdiam beberapa lama.

Gya melirik ke arah Arya. Mencari apapun yang bisa membuatnya tenang di sana. Dia menemukan senyum kecil Arya. Gya pun menjawab, “Ramalan itu bilang kalau apapun yang pergi ketika Mercury retrograde akan kembali lagi.  Hari ini Mercury retrograde. Dompet gue nyaris hilang dan kembali. Tapi, ketika dia pergi, mungkin bukan hari di mana Mercury retrograde. Mungkin Jupiter atau Saturn. Entahlah.”

“Bisa jadi begitu,” Arya dengan cepat menyetujui, “tapi dia tetap kembali.”

“Tapi, kan, lo selalu ada, Ya.”

Arya mengatupkan mulutnya. Menahan jawaban apapun yang akan keluar dari sana.

“Ya, kan?” desak Gya.

Arya tidak tahan untuk tidak mengatakannya.

“Ini bukan tentang gue ada atau enggak, Nda,” jawab Arya, pelan dan perlahan.

“Tapi?” Gya tidak sabaran.

“Ini tentang lo yang akan terluka lagi dan—“ Arya menghembuskan napas panjang. “—dan gue enggak mau melihat lo kayak gitu lagi.”

“Ya, ini memang pertaruhan. Gue akan mempertaruhkan apa yang gue punya dan sanggup letakkan di atas meja. Karena, Ya … kalau gue enggak mempertaruhkan sesuatu, gue akan kehilangan lebih banyak lagi.”

Gya menatap Arya.

“Nda … sudahlah,” pinta Arya.

Tapi dari sorot mata gadis itu, Arya tahu, dia tidak akan berhenti. Apapun yang coba dia katakan.

“Nda….”

Tapi Gya tidak menjawab lagi.