Pertama, Papa sudah pulang. Mungkin dini hari tadi dia baru pulang. Kedua, dia harus menyiapkan diri dan otaknya karena amplop ini—dan apapun isinya—akan membutuhkan kedua hal itu.

Tahun Lalu

Gya menyadari kalau hari sudah menjelang siang ketika dia membuka mata dan melihat cahaya matahari yang masuk melalui bagian atas jendela kamarnya tidak lagi berwarna kekuningan. Cahaya itu terlihat lebih putih dan jatuh dengan sudut yang nyaris vertikal dengan lantai. Dia bangkit, menyibakkan gorden lebar-lebar, dan membuka jendela. Panas dari luar menyerang masuk mengenai kulitnya.

Dia bertahan untuk berdiri di depan jendela itu beberapa saat. Menatap ke luar—ke halaman belakang yang ditumbuhi pepohonan dan rumput. Tidak terlalu terawat tapi cukup mengurangi gersang. Membuka jendela seperti ini akan lebih menyenangkan kalau dilakukan di pagi hari; ketika sinar matahari belum terlalu panas dan udara pagi yang sejuk bisa dihirup dalam-dalam. Siapapun akan merasa lebih baik kalau bangun pagi, tentu saja. Sayangnya, tadi malam dia baru tertidur setelah jam tiga pagi dan itu bukan salahnya. Novel yang dia beli minggu lalu jadi penyebabnya. Dia tidak bisa berhenti membaca sampai selesai dan ketika sudah selesai pun, ceritanya masih menghantui pikiran.

Tidak. Novel itu tidak pernah selesai dia baca; ceritanya tidak pernah selesai.

“Cerita yang bagus itu, yang tidak pernah selesai. Yang desah napas tokohnya pun masih bisa kamu dengar jauh setelah novel itu kamu simpan kembali di rak buku,” kata Papa beberapa waktu yang lalu—Gya sudah lupa kapan tepatnya. Gya pun sudah lupa dalam konteks apa Papa mengatakan itu. Tapi dia bisa mengingat dengan jelas setiap kata dengan tepat.

Gya melirik jam dinding dan benar saja, sudah lewat dari jam sebelas. Dia berbalik ke arah tempat tidur, mencari ponselnya. Itu adalah hal yang selalu dia lakukan di pagi hari sebelum melakukan hal lain. Tapi kemudian dia melihat ada amplop putih tergeletak di atas nakas. Diganjal dengan ponsel di bagian bawah dan vas bunga di belakangnya agar amplop itu bisa berdiri. Dia mengurungkan niat untuk mengecek ponsel karena amplop itu lebih menarik. Gya mengambil dan memperhatikan tulisan namanya di permukaan amplop itu. Dia mengenalinya; tulisan tangan Papa—cara menulis ekor huruf ‘g’ dan ‘y’-nya khas sekali; panjang dan lancip di ujungnya. Amplop itu menjelaskan tentang dua hal, bahkan sebelum dia membukanya. Pertama, Papa sudah pulang. Mungkin dini hari tadi dia baru pulang. Kedua, dia harus menyiapkan diri dan otaknya karena amplop ini—dan apapun isinya—akan membutuhkan kedua hal itu.

Gya mengeluarkan kertas yang yang dilipat rapi di dalamnya, membuka lipatannya, dan kemudian membacanya:

Di tempat ketika yang kamu suka menghitam di 232,778 derajat. Di waktu matahari warnanya jingga.

Tapi sebelumnya, apa warna bisa mengusir haus?

Gya mengerenyitkan dahi. Mencoba berpikir dan gagal. Dia tahu kalau dia tidak akan bisa berpikir jernih sebelum suplai kafeinnya terpenuhi. Gya melipat kembali kertas itu dan memasukkannya ke amplop lalu meletakkan dengan asal di atas tempat tidur yang belum dibereskan.

Dia berjalan ke luar kamar, menoleh sebentar ke dalam kamar Mama dan Papa sambil lewat. Kamar itu kelihatan rapi dan tidak ada seorang pun di sana. Dia lalu turun dan langsung menuju dapur. Sebelum dia membuka kulkas untuk mengambil air minum, dia melihat sebuah post-it berwarna kuning pias tertempel di sana. Kali ini, tulisan tangan Mama. Jauh lebih rapi dibanding tulisan Papa dan juga lebih banyak lekuk dengan huruf-huruf yang lebih gendut.

Pergi sama Papa. See you….

Mama

Dia sudah mengira kalau Mama dan Papa pergi berdua. Menghabiskan waktu seperti waktu mereka masih pacaran tanpa gangguan anak semata wayang mereka. Mungkin ke bioskop atau jalan-jalan. Membayangkan itu, Gya jadi tersenyum sendiri.

Gya membuka kulkas, mengambil botol air mineral, membuka tutupnya, dan minum beberapa tenguk. Lalu dia teringat kalimat terakhir dari petunjuk itu;

Tapi sebelumnya, apa warna bisa mengusir haus?

Tentu saja bisa, pikir Gya, kalau….

Dia mencari ke bagian bawah kulkas. Tempat di mana kotak jus disusun dengan rapi. Mamanya selalu menyetok kotak jus berukuran sedang di sana yang bisa Gya masukkan ke tas untuk dibawa ke kampus. Mama pun membawa satu atau dua kotak ke kantornya. Ada beberapa jenis jus di sana. Gya sudah tahu apa yang dia cari; jus mangga. Dia mengambil kotak jus mangga yang paling depan lalu memeriksa sekeliling kotak itu. Tidak ada apapun di sana. Dia mengambil kotak yang lain dan melakukan hal yang sama sampai semua kotak jus mangga dia periksa.

Dia lalu terdiam. Berpikir.

“Oranye!” teriaknya. “Ini bukan tentang jus apa yang aku suka tapi jus nama buah untuk jusnya!”

Gya mengambil kotak jus jeruk dan melihat satu post-it tertempel di sana. Hampir lepas lemnya karena lembab udara di dalam kulkas. Di sana tertulis:

Di balik jendela kaca. Hari ini. Ditunggu sampai tenggelam.

Dia yakin ini petunjuk terakhir karena sudah tidak ada lagi tanda untuk mencari petunjuk tambahan di petunjuk yang ini.

Gya mengedarkan pandangannya. Dapur dan rumah yang lengang membuatnya tidak berselera sama sekali untuk membuat kopi. Gya mengurungkan niat untuk sarapan di rumah walapun mungkin ada sarapan yang disisakan Mama untuknya dan tinggal dihangatkan di microwave. Dia lalu kembali ke kamar dan mengambil ponsel yang tadi sempat dilupakannya. Ada sebuah pesan dari Arya. Memintanya untuk datang ke Magnolia sebelum jam dua siang dan membawa novel yang ingin dia pinjam. Gya lalu meletakkan ponsel itu di atas nakas.

Sarapan di Magnolia aja, pikirnya sambil berjalan menuju rak buku yang berhadapan dengan tempat tidurnya. Menutupi satu bagian tembok kamar dengan panjang lebih dari empat meter. Rak itu terbuat dari kayu jati yang dipesan khusus oleh Papa ke pengrajin langganannya. Tinggi rak itu sampai mengenai langit-langit kamar dan penuh terisi dengan buku. Pemandangan indah yang membuat Gya selalu merasa bahagia ketika melihatnya. Ada beberapa post-it berwarna-warni yang sengaja ditempelkan di tutup kacanya untuk mengingatkan buku apa saja yang dipinjam oleh teman-temannya—terutama Arya. Dia sering sekali meminjam buku.

Gya melihat dengan seksama buku-buku yang ada di sana dan dengan cepat menemukan novel yang ingin dipinjam oleh Arya. Papa pernah memberikannya sebuah buku yang menjelaskan bagaimana seharusnya mengatur penyimpanan buku untuk perpustakaan pribadi. Dia mengikuti langkah-langkah yang ada di sana dan hasilnya lebih dari yang dia bayangkan. Selain mudah menemukan buku ketika dia mencarinya, buku-buku itu pun seperti lebih terstruktur dan rapi. Gya meletakkan novel yang dia ambil di atas tempat tidurnya yang masih berantakan sambil merencanakan untuk merapikan seprainya nanti saja, setelah mandi.

Dia lalu memilih pakaian yang akan dia pakai di lemari dan mengambil handuk bersih di rak paling bawah. Setengah jam kemudian, Gya sudah berjalan ke luar dari rumah. Dia masuk ke mobilnya dan sebelum menyalakan mesin mobil itu, dia ingat kalau dia belum merapikan seprai. Gya pun mengatur ulang rencananya; dia akan merapikannya nanti saja, setelah pulang.