“Oke. Kalau lo dan mantan pacar lo itu putus karena lo bilang antara kalian berdua enggak ada chemistry atau gue lebih suka dengan istilah, reaksi kimia.” Gya menyambung kalimatnya yang terpotong dan tidak lupa memberikan penekanan pada kata ‘mantan pacar’. “Dan sekarang lo mau ngajak cewek yang baru lo kenal kurang dari seminggu….”

Gya memarkir mobilnya di bawah pohon mangga di bagian dengan Magnolia, lalu turun, meraih postman bag-nya, dan berjalan cepat menuju pintu masuk. Dia membalikkan papan kayu dengan tulisan ‘Close’ yang tergantung di depan pintu itu agar terbaca ‘Open’ sebelum akhirnya masuk. Suara denting lonceng kecil yang diletakkan di atas pintu membuat seorang lelaki muda dengan celemek cokelat bergambar secangkir kopi dan tulisan ‘Magnolia’ di bawahnya, menoleh. Dia tersenyum. Gya tidak membalas senyum itu, dia terlalu tidak bersemangat untuk melakukannya karena perutnya lapar. Gya duduk di salah satu kursi di meja bar dan memandang ke sekelilingnya; hanya ada beberapa meja yang terisi.

“Udah buka, kan?” tanyanya ketika cowok bercelemek itu mendekat. “Di pintu tadi tulisannya masih ‘Close’. Tapi udah gue balik.”

“Oh, thanks. Gue lupa ngebalik lagi. Udah jam segini, jelas udah buka lah.”

“Tapi tumben sepi,” komentar Gya. Memang kafe itu terlihat lebih sepi dibanding biasanya. “Jangan-jangan karena ada yang mengira masih tutup.”

“Oooh…. Bisa jadi,” ujar lelaki itu pelan—mungkin sambil menyesali kecerobohannya. “Tapi kalau Jum’at selalu begini, emang biasa sepi sampai sore. Mulai sore nanti baru, deh, mulai ramai.”

Lelaki itu duduk di hadapan Gya. Rambut dipomade dan disisir ke arah belakang dengan rapi, matanya cokelat dan sinar matahari yang menimpa wajah lelaki itu membuat iris matanya terlihat lebih muda dari aslinya. Gya selalu melihat mata itu setiap kali dia berhadapan dengan lelaki itu tapi dia tidak pernah bosan. Selalu ada yang menarik di iris yang coklat itu. Sesuatu yang —mungkin—puitis. Lelaki itu menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi dan sedikit meluruskan kakinya. Dia sudah bekerja sejak pagi; menyiapkan meja-meja, membuat kue, memastikan semua persediaan kopi, teh, susu, krim, dan cokelat tersedia dan memadai.

“Really? Pomade?” Gya menunjuk rambut cowok itu sambil tersenyum—mengejek. “Karena cewek atau lo udah tobat?”

“Kenapa, sih? Jelek?”

“Enggak. Tapi itu bukan lo banget.”

“Yah, namanya juga usaha. Gue bikin pai apel, tapi masih dibakar. Bentar lagi, ya.” Dia lalu mengambil papan kecil bertuliskan namanya, Arya, dari saku jeans-nya lalu menyematkan benda itu di kaos berkerah warna hitam yang sedang dia pakai. Sedikit lebih ke atas dari bagian dadanya yang tertutup celemek agar mudah terlihat.

“Ya, espresso dong,” kata Gya sambil mengeluarkan sebuah buku dari tasnya. “Nih, gue bawain novel yang mau lo pinjem.”

“Hari gini udah main espresso aja. Latte, ya?”

“Emang kenapa, sih? Lo jadi barista nyebelin banget!” Gya merajuk. “Espresso, dong!”

Arya tersenyum tipis—tapi jahil. “Latte dan ya, gue nyebelin.” Arya menatap Gya lekat-lekat sambil mengatakan kalimat yang berikutnya, “Tapi lo sayang, kan?”

Gya mendengus. “Terpaksa!”

“Oh, ya? Mana novelnya?” tanya Arya. Tidak lagi peduli dengan ekspresi wajah Gya.

Gya meletakkan novel itu di meja dan memberi isyarat dengan tangannya kalau dia baru akan memberikan novel itu setelah Arya membuatkannya kopi. Arya bangkit dan berjalan ke arah konter. Dia mengecek oven lalu mengambil bubuk kopi dari toples di rak yang ada di hadapannya. Dia beranjak ke depan espresso machine dan lampu merah di bagian sampingnya pun menyala. Arya lalu membuka bagian atas mesin, mengeluarkan tempat air transparan segiempat dari dalamnya dan mengisinya sampai penuh dengan air dari dispenser dan memasukkannya kembali ke tempat asalnya. Dia mengambil post-it note dari laci konter dan menuliskan ‘pesan air’ di atasnya dengan tulisan bersambung yang berantakan, lalu menarik lembaran post-it berwarna kuning itu dan menempelkannya ke galon air yang isinya hampir habis. Dia harus melakukan itu agar tidak lupa untuk memesan air nanti.

Dia lalu menyiapkan susu dan membuatnya berbuih untuk dijadikan campuran kopi, meletakkan cangkir di bagian bawah mesin dan menunggu sampai setengah penuh sebelum akhirnya dia mengambil cangkir itu dan mengisinya pelan-pelan sampai penuh dengan susu. Dia belum terlalu pandai membuat latte art dan kali ini yang coba dia buat adalah bentuk daun. Tapi hasilnya lebih mirip bulatan aneh dengan salur-salur kecil yang berantakan. Terdengar bunyi ‘ting’ dari oven. Dia membukanya, memindahkan satu loyang pai apel ke piring kayu besar tanpa mengeluarkannya dari loyang, dan meletakkannya di atas nampan kayu beserta secangkir latte dan dua bungkus kecil gula. Arya memasukkan lagi satu loyang croissant ke dalam oven sebelum mengantarkan isi nampan itu untuk Gya.

“Satu loyang begini?” tanya Gya ketika Arya meletakkan nampan itu di hadapannya.

“Cuma delapan potong,” jawab Arya sambil mengeluarkan pisau dari saku celemeknya dan mulai memotong pai itu jadi delapan potongan yang sama besar.

Dia kembali duduk dan mengambil satu potongan pai yang masih panas, meniupnya beberapa kali, dan kemudian menggigitnya. “Gue juga belum makan siang,” katanya.

“Latte art lo jelek banget,” kata Gya sambil memilih potongan pai mana yang ingin dia makan. Tapi melihat kue itu masih mengeluarkan asap panas, dia mengurungkan niatnya untuk memakannya sekarang.

“Gue bakalan latihan lebih keras. Tenang aja.”

Terdengar suara lonceng dari atas pintu kafe diikuti oleh beberapa orang yang masuk dan mengambil meja dengan enam buah bangku.

“Enggak ngelayanin pelanggan?” tanya Gya karena dia melihat Arya masih duduk di tempatnya.

Arya menggeleng. “Istirahat dulu. Gantian sama Bona yang energy bar-nya masih penuh. Ada enam pelayan lagi kok, di belakang.”

Yang dipanggil Arya dengan Bona adalah lelaki yang beberapa tahun lebih tua dari mereka berdua—Gya dan Arya seumuran—dengan kemampuan latte art yang di atas pelayan lain di kafe ini. Dia sudah bekerja di sini sejak kafe ini baru dibuka dan punya daftar pelanggan yang hanya mau minum latte buatannya. Dia sekarang berdiri di depan espresso machine sambil tersenyum dan bercakap-cakap dengan pelayan lain. Arya bukan pemilik kafe ini, dia hanya pewaris. Sepuluh tahun yang lalu, orangtua Arya membuka kafe ini sebagai usaha sampingan dan Arya membantu mereka sambil sekolah, dan sekarang, sambil kuliah.

“Jadi lo nyuruh gue dateng, ada apa?” tanya Gya. “Mau ngenalin gue ke cewek yang lagi lo gebet?”

Arya mengangguk. “Ada cewek yang gue sukaaa … banget ngeliatnya.” Arya mengatakan ‘suka’ dengan ekspresi yang membuat Gya yakin kalau dia memang benar-benar menyukai gadis yang sedang dia ceritakan ini. Pupilnya kelihatan mengembang dan wajahnya lebih berbinar. “Hari ini gue mau ngajak dia ngedate. Dia biasanya datang ke sini pas jam makan siang. Menurut lo gimana?”

“Menurut gue apanya? Ceweknya apa ngajak ngedate-nya? Atau kondisi rambut lo yang enggak enak dilihat itu?” Gya menunjuk rambut Arya dengan dagunya.

“Dua yang pertama dan rambut gue oke, kok.” Arya menyentuh bagian samping kepalanya sambil mengedipkan sebelah mata pada Gya. “Gimana?”

“Fail.” Gya berdehem sebelum melanjutkan lagi jawabannya. “Lo baru putus dari pacar lo sekitar dua minggu yang lalu dengan alasan absurd kalau lo dan pacar lo itu—“

Arya menyambar, “Mantan pacar.”

“Oke. Kalau lo dan mantan pacar lo itu putus karena lo bilang antara kalian berdua enggak ada chemistry atau gue lebih suka dengan istilah, reaksi kimia.” Gya menyambung kalimatnya yang terpotong dan tidak lupa memberikan penekanan pada kata ‘mantan pacar’. “Dan sekarang lo mau ngajak cewek yang baru lo kenal kurang dari seminggu….”

“Dari mana lo tahu kalau gue kenal kurang dari seminggu?” tanya Arya bingung.

“Minggu lalu lo masih menye-menye nyeritain mantan pacar lo itu. Yah, jelaslah waktu itu lo belum ketemu sama cewek ini.”

“Hmmm….” Arya mengangguk kecil. Apa yang dikatakan Gya benar.

“Lo mau ngajak cewek yang baru lo kenal buat ngedate? Lo yakin di antara lo berdua udah ada … reaksi kimia?” tanya Gya.

“Hmmm….” Arya terdiam sejenak lalu menjawab dengan ragu, “Gue akan memikirkannya, nanti.”

Gya mengambil satu potong pai yang sepertinya sudah mulai dingin dan memakannya dengan cepat. Seperti biasanya, pai apel buatan Arya ini enak sekali. Dia lalu menyeruput latte yang rasanya sudah jauh lebih baik dibanding ketika pertama kali dia membuat minuman itu dan meminta Gya mencicipinya.

“Ngomong-ngomong, lo kenal angka ini enggak? Sebentar.” Gya membuka tas dan mengeluarkan amplop berisi tulisan papanya. Dia menunjuk ke deretan angka yang tertulis di sana.

“Puzzle dari bokap lo lagi, ya?”

“Ho-oh.”

“Seru nih, kayaknya! Mungkin enggak sih ini, derajat kemiringan?” tanya Arya. Dia sendiri tidak yakin dengan apa yang dikatakannya.

“Berarti gue harus nyari tempat dengan kemiringan segini besar? Rasanya enggak mungkin. Ini lebih dari 180 derajat,” ujar Gya. Dia sudah memikirkan kemungkinan itu sebelumnya.

“Bukan. Derajat kemiringan tempat itu dari rumah lo, misalnya? Atau kamar lo?”

“Enggak ada keterangan atau clue tentang jarak. Jadi gue rasa enggak mungkin juga.”

Mereka berdua lalu terdiam. Berpikir.

“Apa lagi sih, yang pakai ukuran derajat?” tanya Gya setelah beberapa lama dia memperhatikan deretan angka itu lagi.

“Suhu?” jawab Arya. Lagi-lagi terdengar tidak yakin. “Kegilaan? Cinta?” Mendengar jawaban itu, Gya melotot.

“Serius!”

Ponsel Arya berbunyi. Gya hapal dengan bunyi itu; bunyi pesan masuk. Arya mengambil ponsel dari saku jeans, melakukan beberapa gerakan mengusap, dan kemudian menatap Gya.

“Kenapa?” tanya Gya.

“Dia udah dateng!”

Arya berjalan cepat ke arah pintu masuk. Terdengar suara lonceng yang membuat Gya menoleh dan melihat cewek itu berdiri di samping Arya, memegang tangannya, dan kemudian mereka tertawa kecil malu-malu. Arya mengantarkan cewek itu ke meja Gya dan dengan cepat, Gya berdiri sambil mengulurkan tangan.

“Gyanda,” ujarnya sambil tersenyum ramah.

“Nita,” cewek itu mengucapkan namanya.

Mereka lalu berbasa-basi. Gya menceritakan kalau dia teman Arya dari kecil dan Maya menceritakan tentang kopi racikan Arya yang sangat enak—yang mana Gya tidak setuju tapi dia juga tidak ingin berdebat. Gya merasa lega ketika Arya akhirnya berkata kalau dia akan mengantarkan Nita ke mejanya. Itu berarti dia tidak perlu berbagi meja dengan gadis itu. Arya terlihat kembali tertawa-tawa dengan Nita sebelum akhirnya kembali lagi ke meja Gya.

“Kok ditinggal sendirian itu gebetannya?” tanya Gya menggoda Arya. Dia tahu Arya terlihat gugup tapi berusaha sekuat tenaga untuk menyembunyikannya.

Dia duduk di tempatnya semula dan menatap Gya lekat-lekat. “Gimana menurut lo?”

“Cantik, kelihatan baik, sopan….” Gya berhenti sebentar. Dia ingin melihat reaksi Arya sebelum dia melanjutkan. Arya tersenyum senang dan itu membuat kalimat berikutnya menjadi lebih sulit diucapkan, ”Tapi kayaknya kalian kurang cocok.”

“Kurang cocok gimana?” Arya penasaran.

“Kalau dengan lo yang kayak sekarang, dia cocok banget. Kalau dengan lo yang asli, yang gue tahu dan gue kenal, enggak cocok.”

Arya terdiam beberapa lama.

“Tapi bukan berarti lo berdua nggak bisa ngedate dan jatuh cinta, ya. Siapa tahu dia yang asli juga bukan seperti yang lo lihat sekarang.”

Arya terdiam lagi.

“Ya?” panggil Gya.

“Apa?”

Gya jadi kuatir dengan Arya yang menurutnya terdiam terlalu lama dan ketika dia menoleh ke arah Nita yang berjarak beberapa meter darinya, dia melihat cewek itu sedang memandang ke arahnya dengan tatapan curiga. Tentu saja dia curiga, dia sedang dibicarakan di sini. Gya mendorong novel yang sejak tadi tergeletak di meja ke arah Arya dan meminum latte-nya sampai habis.

“Inget ya, jangan sampe kotor, robek, jatuh, kegigit, kemakan, ketelan.” Gya berusaha bercanda tapi wajah Arya tidak berubah. Gya tidak melihat Arya lama-lama karena kemudian dia teringat sesuatu. Dia mengeluarkan ponselnya, melihat kembali deretan angka di kertas yang masih terbuka di hadapannya, menghitung sesuatu sebentar, dan senyumnya merekah. Dia mengeluarkan dompetnya dan menyerahkan selembar uang lima puluh ribuah kepada Arya.

“Lo udah tahu itu apaan?” tanya Arya.

“Lebih dari itu, gue tahu ini di mana. Kembaliannya sekalian nanti juga aja, ya!” katanya sambil bangkit dengan cepat dari duduknya, menyambar amplop dan kertas yang ada di meja, dan kemudian setengah berlari menuju pintu. Dia berhenti sebelum membuka pintu, berbalik, lalu kembali berlari ke arah Arya yang sekarang juga sudah bangkit dari duduknya.

“Good luck!” katanya sambil menepuk bahu Arya. Gya lalu berlari ke pintu, keluar dari kafe, dan masuk ke mobilnya.