“Where are you?”

Pertanyaan yang beberapa waktu belakangan saya dapat dan jawabannya sebenarnya enggak berubah; masih di sini.

Masih menulis dan terus menulis. Menghilangkan patah, sakit, dan nyeri di hati dengan menulis sampai lelah—sampai tidurmu bisa pulas sekali. Kadang saya menyusuri Jakarta untuk keperluan riset atau membaca seharian kalau sedang enggak ingin menulis. Saya hanya ingin kembali ke rutinitas sebelum beberapa waktu lalu saya sibuk mengurus hal-hal yang enggak esensi—untuk saya.

Hari ini, tepat hari kesepuluh saya enggak menggunakan ponsel dan keluar dari sosial media. Tapi enggak begitu juga, sih, keadaannya. Kemarin seorang teman mencari saya di Facebook Sinung dan saya ke sana untuk membalas pesannya. Tapi hanya itu yang saya lakukan. Jadi, itu enggak termasuk ‘mainan sosmed’, kan? Selama enggak pegang ponsel, yang jelas; saya bisa lebih disiplin tidur dan mengerjakan hal lain.

Kemarin saya belajar Adobe Audition untuk mengedit podcast. Saya perlu software yang lebih reliable sepertinya. Jadi saya mencari yang paling mungkin bisa saya pakai. Enggak masalah agak sulit tapi saya ingin hasil akhirnya lebih baik.

Apalagi yang saya lakukan sepuluh hari belakangan, yaaa….

Hmmm. Oh, saya memikirkan bagaimana hubungan saya dan sosial media setelah ini. Juga bagaimana pendekatan saya dengan tulis-menulis. Saya perlu cara baru karena—sepertinya—banyak hal yang membuat saya memandang dua hal itu dengan cara berbeda. Enggak berkeliaran di sosial media pun, saya masih membalas dua sampai tiga email setiap hari. Ini membuat saya berpikir; bahwa hubungan personal yang jelas dengan siapa dan bagaimana merawatnya, punya arti jauh lebih penting daripada sekedar satu-dua sapaan sok kenal di sosmed. Tapi … saya enggak bisa memungkiri bahwa sosmed itu perlu untuk promosi karya. Tapi (lagi) karya yang bagus lebih penting dibanding promosinya—ada dulu karya yang bagus itu jadi enggak terelakkan. Promosinya bisa belakangan.

Untuk pertanyaan; kapan balik ke sosmed?

Hmmm … saya belum bisa jawab karena saya belum tahu.

Untuk pertanyaan; so … you’re pulling your inner Murakami right now?

Hahahaaa. Kalau itu bisa membuat saya menulis sedalam dan sebaik Murakami, kenapa enggak? Jangan marah. Saya alpa di sosmed dan enggak menyapamu, bukan berarti saya berhenti peduli, kan. Itu cuma sosmed. Itu bagian kecil dari saya yang dikurasi dan ditampakkan untuk keperluan tertentu.

Saya menyadari bahwa sepertinya saya enggak punya kemewahan yang dipunyai generasi sebelum saya; out of sight, out of mind. Itu yang saya lakukan sekarang; mencoba mengembalikan kemewahan itu dan bersyukur bahwa saya masih punya banyak teman yang baik. Itu saja.

* * *