terungku

Angin menyebarkan garam lebih pekat menjelang badai datang, katamu.

Kita pernah tinggal di dekat pantai. Bertahun. Kita tahu ini. Langit dan angin kadang gagal menjadi pertanda. Tapi pekat asin di lidahmu tidak pernah ingkar.

Kau bertanya, mengapa kau masih berdiri di sana? Mengapa tidak lantas pergi sebelum badai datang? Menyelamatkan diri sebelum gelegar pecah dan segaris terang merekah menjadi penanda sebelum hujan menderas? Mengganas?

Aku tidak tahu. Aku ingin menjawabnya. Percayalah.

Tanyamu lagi, mengapa badai harus ditunggu? Apa karena pantainya begitu indah sehingga untuk pergi rasanya sulit walaupun menunggu pasti akan membawa sakit?

Tapi aku tidak pernah pergi, jawabku. Pertama setelah sekian lama. Aku selalu di sini. Angin berputar, badai menghantam … aku tetap di sini. Tidak pernah pergi. Sampai kemudian hancur dan bangkit kembali—menjadi tidak  sama lagi karena luka seolah jadi peta; pengingat di mana nyeri. Aku selalu yang ditinggalkan.

Pagi ini, kau bilang, kau rapuh dan berongga, seperti batang bambu tua.

Tapi aku masih juga tidak ingin pergi.

Karena aku batang bambu tua yang berongga, harusnya tidak merasakan lagi apapun juga, kilahku, harusnya.

Tanyamu, apa benar kebas?

Aku memegang tengah dadaku. Berharap tidak ada detak atau apapun terasa di dalamnya.

Tidak, jawabku, aku masih punya hati dan sekarang hancur lagi.

Tanyamu, lalu, mengapa tidak juga pergi? Apa karena rasanya begitu manis sampai-sampai untuk pergi rasanya sulit walaupun menunggu tidak pernah ingkar membawa sakit?

Karena di tempat lain, jawabku, aku terterungku.

Credit of all images: www.freepik.com