Once you’ve looked at enough aggregate search data, it’s hard to take the curated selves we see on social media too seriously. Or, as I like to sum up what Google data has taught me: We’re all a mess.

Sekarang lewat tengah malam dan saya belum juga bisa tidur. Dua pekan belakangan, insomnia saya kambuh lagi. Saya itu lembam—ini salahnya. Kalau sudah melakukan sesuatu sulit berhenti dan kalau sudah berhenti, sulit memulai. Itu juga yang kemudian jadi jawaban dari pertanyaan, “Buset, masih ngeblog aja lo, cuy?”

Masih. Masih enggak bisa berhenti.

Jadi, lebih dua pekan saya enggak berkeliaran di sosial media. Ada pekerjaan, sih. Tapi sebagian besar memang karena ingin. Saya ingin tahu; seberapa saya bisa kuat hidup tanpa sosial media. Saya juga ingin mengerti; bagaimana sosial media membentuk pola hidup saya. Hasilnya, hmmm … saya enggak bisa cerita banyak karena ini baru dua pekan lebih sedikit dan yang saya lakukan setiap hari masih berkutat di seputar; mempertanyakan sosial media—seperti yang saya lakukan sekarang ketika menulis ini.

Seperti yang saya tulis di satu post sebelum ini, tentang social media detox, dua pekan ternyata cukup untuk paham racun apa yang harusnya saya bersihkan. Sederhana dan mematikan, sayangnya; racun perbandingan.

SOSIAL MEDIA DETOX

Pagi ini, saya membaca tulisan tentang Michelle Phan di TeenVogue tentang social media detox yang dia lakukan selama setahun belakangan. Dia kembali lagi untuk launching EM Cosmetic—yang mana, seingat saya dulu brand kosmetik ini enggak terlalu bagus penjualannya. 

Selama ada di sosial media, saya kadang lupa kalau apapun yang ada di sana dikurasi. Saya tahu, tapi kadang—benar-benar—lupa. Saya sendiri paham konsep itu dan saya tahu bagaimana memainkannya. Saya sedang melakukan hal enggak keren di pagi hari, anggaplah menyetrika pakaian sambil upload foto throwback tentang liburan indah di Bali. Sebagian dari itu memang keinginan untuk kembali ke Bali dan liburan lagi. Tapi—ini yang sulit diakui—sebagian juga keinginan untuk—ya Tuhan ini sulit—memperlihatkan; saya ke Bali, loh!  Pakai business class! Business class yang didapat dari random upgrade, tapi enggak ditulis, kan, hahahaaa….

Saya belajar moto jadi saya tahu bagaimana mengambil point of view. Saya mengerti bagaimana ‘memotong’ sesuatu yang awalnya enggak indah, menjadi indah. Saya ini berbahaya … untuk orang yang melihat sosial media saya dan belum mengenal saya dan juga berbahaya untuk diri saya sendiri, sebenarnya. Saya jadi punya standar yang saya tahu—bisa jadi—enggak akan bisa saya capai tapi saya membuat seolah-olah itu bisa saya capai. Standar ilusi. Yang kalau dilihat orang lain, bisa jadi mereka menganggap itu memang standar yang sudah saya capai dan membuat mereka ingin mencapai juga. Bahaya.

Ini juga yang kemudian membuat saya jadi ingin menata ulang hubungan saya dengan sosial media. Mau dibawa ke mana? Caranya seperti apa? Bagaimana caranya saya menunjukkan sesuatu yang nyaris mendekati kehidupan saya yang apa-adanya tapi enggak sampai nelangsa banget juga, gitu. Misalnya, pagi ini saya dibelikan bubur ayam oleh si Tuan. Lalu saya sibuk ini-itu dan lupa makan sampai sore. Saya makan sambil menelepon (karena luangnya hanya waktu itu) dan bubur ayamnya mungkin sudah menjelang basi. Saya lapar. Saya makan juga. Kalau tadi saya upload foto di Instagram, pastilah foto itu akan jadi foto bubur ayam yang menggoda selera—percayalah. Saya punya kemampuan mengambil foto seindah itu. Yang enggak terlihat difoto itu; bubur ayamnya baru dimakan setengah hari kemudian, menjelang basi, dingin, dan saya sekarang cemas bakalan sakit perut besok. Lebih banyak nelangsanya, kan? Hahahaaa.

Ada artikel di New York Times yang menarik sekali. Saya baca menjelang malam tadi dan karena enggak bisa saya keluarkan dari kepala saya—dan ini sepertinya jadi salah satu penyebab saya susah tidur; banyak mikir yang enggak-enggak—jadi saya tulis post ini.

As our lives increasingly move online, I propose a new self-help mantra for the 21st century, courtesy of big data: Don’t compare your Google searches with other people’s Facebook posts.

Artikel itu menjelaskan bahwa si penulis sudah melakukan penelitian bertahun-tahun untuk melihat bagaimana kehidupan seseorang dengan cara membandingkan history Google search-nya dengan sosial medianya. Beda. Sangat beda. Yang pertama lebih jujur.

Di sosial media, orang kebanyakan terlihat bahagia, get their life together, liburan tiada henti, menikmati pekerjaan seperti hobi, kumpul sana-sini dengan teman-temannya (yang kelihatan sangat akrab), masak enak-enak (karena yang gagal enggak di-upload), dan mereka bijak dengan quotes yang berhasil menyarikan esensi hidup dan kebahagiaan. Ditambah dengan tagar #JanganLupaBahagia. Ini tagar paling enggak masuk akal yang pernah saya lihat. Ada sih, satu lagi, tagar #12HariTanpaPengaman—tapi ini lain kasus. Hahahaaa.

Bagaimana kamu bisa lupa bahagia. Bahagia itu rasa. Memang ada yang bilang kalau bahagia itu datangnya dari dalam. Tapi buat saya, bahagia bisa dibuat. Coba, deh, misalnya pagi ini kamu merasa agak suram dan ketemu dengan seorang teman yang tersenyum padamu dan bilang kalau lipstikmu bagus dan cocok dengan warna kulitmu. Kamu akan bahagia walaupun sebentar. Bahagia memang seperti itu; dia enggak menetap. Kamu harus menjemput kalau dia enggak datang.

Ini yang mau saya bilang juga sama kamu; kalau kamu enggak mau dia datang, enggak apa-apa. Ada masa di mana kamu sedih, cemas, dan depresi. Ini enggak apa-apa. Banyak hari kamu enggak bahagia dan enggak baik-baik saja. Ini sama sekali enggak mengapa. Enggak bahagia itu enggak apa-apa. Semua rasa itu ada untuk dirasakan. Beberapa rasa ada untuk pengingat. Misalnya rasa takut yang membuat kamu jadi hati-hati. Beberapa lagi ada untuk menyembuhkan. Misalnya sedih yang berlangsung berhari-hari. Bayangkan kalau kamu sedih dan semua rasa sedih itu dirasakan dalam satu jam saja, misalnya. Bisa mati sedih kamu.

Buat Hiburan

Lalu pertanyaannya; bagaimana caranya untuk lupa bahagia sampai ada pengingat untuk #JanganLupaBahagia? Kalau mau koreksi sedikit, tagarnya bisa dibuat jadi #UsahakanBahagiaHariIni. Gitu, sih, menurut saya yang bawel ini. Itu lebih masuk akal. Hahahaaa. Atau sekalian aja #LaTahzan. Jangan bersedih—jangan lama-lama bersedih.

Jangan sampai kamu lupa bahwa apapun yang kamu lihat di sosial media itu dikurasi, diedit, dibuat indah, behind the scene-nya … bisa jadi enggak begitu. Memang ada orang yang dapat apapun yang mereka inginkan—atau dapat apa yang kamu inginkan? Tapi ingat juga bahwa itu perlu perjuangan. Setiap perjuangan enggak sama dan di-customize sesuai dengan kebutuhanmu.

Kalau kamu mau tahu apa yang sejujurnya dikuatirkan dan dirasakan orang, liat autofill Google search. Itu lebih jujur. Kalau kamu mau tahu tentang seseorang, mungkin juga bisa dengan cara minta printout history Google search-nya setahun terakhir. Hahahaaa. Kamu bakalan ngeri melihat punya saya karena malam ini, saya coba lihat, isinya kebanyakan tentang pembunuhan, bunuh diri, kanibalisme, mutilasi, depresi dan … sedikit tentang cara menyiksa paling sadis. Itu … riset.

Percayalah.

Atau … jangan percaya? Hahahaaa.

 

Once you’ve looked at enough aggregate search data, it’s hard to take the curated selves we see on social media too seriously. Or, as I like to sum up what Google data has taught me: We’re all a mess.

I’m a mess.

Jadi sebaiknya bagaimana di sosial media?

Sampai sekarang pun, saya belum tahu jawabannya. Entahlah. Mungkin lebih empati—pada diri sendiri. Mungkin juga lebih melihat semua itu sebagai permukaan dan kalau kamu ingin tahu lebih banyak tentang seseorang; jangan terlalu percaya sosial medianya. Atau … jadilah baik.

Jadilah orang baik.

Mungkin itu cukup.