In other words, if you’re writing a piece of fiction, I’d urge you not to try to show anything—instead, try to discover something. There’s no way to write anything powerful unless your unconscious takes charge.

Ethan Canin

Saya sedang menonton ulang Westworld ketika menulis ini. Berhenti sebentar karena ada yang menarik dan harus dituliskan atau bisa jadi nanti saya lupa. Rencananya, saya mau mereview Westworld karena ini series dari HBO yang—katanya, banyak yang bilang—akan menggantikan megah, mahal, dan jumlah penonton Game of Thrones. Saya enggak percaya—karena saya memang enggak mudah diyakinkan sebelum melihat sendiri. Jadi, saya pun mulai menonton. Memang Westworld ini semacam Game of Thrones; extreme nudity dan over the top violent. Tapi enggak seperti Game of Thrones yang lebih ke bercerita tentang Westeros dengan segala konfliknya, Westworld dibuat untuk menantang ide tentang kesadaran (consiousness).

Westworld ini tentang tuhan-tuhanan yang membuat taman bermain jadi dunia kecil untuk percobaan dan bersenang-senang.

Begini cerita sederhananya; ada taman bermain—bayangkan semacam Dufan—yang punya animatronik luar biasa mirip manusia asli dan bisa diapakan saja oleh pengunjung—dibunuh sekalipun. Mereka disebut host. Kalau pengunjung membunuh dan lukai mereka, tinggal dibetulkan, ingatan mereka di-restart, dan dipakai kembali. Host ini punya rangkaian cerita yang membuat pengunjung jadi punya petualangan. Ceritanya jadi menarik ketika pembuat host ini mulai mengusahakan agar mereka punya kesadaran. Padahal tanpa kesadaran, host ini akan jadi budak—saya mencoba mencari kata lain, tapi kata ini yang paling mendekati—yang melakukan apapun keinginan pembuatnya. Tapi, dengan kesadaran, dia akan jadi punya arti dan si pembuat akan jadi tuhan-tuhanan.

Dari sini, sungguh Westworld ini jadi mengganggu buat saya.

Kesadaran membuat host jadi mempunyai pilihan; membenci atau mencintai pembuatnya. Mereka jadi punya kehendak bebas. Tanpa kesadaran, mereka akan menurut tapi kepatuhan mereka jadi kepatuhan yang memang seperti itu adanya. Yaaa … patuh saja. Pilihan membuat kepatuhan itu punya arti karena mereka bisa memilih untuk enggak patuh, tapi mereka memilih untuk patuh. Dari sekedar budak, mereka bisa menjadi hamba. Hal ini yang membuat kesadaran jadi sesuatu yang besar, penting, dan inti dari penghambaan.

Semacam begini. Kamu suka cowok lalu kamu ambil jalan pintas dengan main pelet. Cowok ini memang cinta sama kamu, tapi apalah artinya? Dia enggak cinta sama kamu atas kehendaknya sendiri. Kalau kamu bisa membuat dia cinta sama kamu atas kehendaknya sendiri, itu yang membuat cinta si cowok ini jadi berarti; dia bisa memilih untuk enggak cinta padamu tapi dia mengambil jalan lain.

Ini juga yang kemudian jadi jawaban sederhana mengapa tuhan dan Tuhan menciptakan manusia dan memberikan kesadaran. Logikanya, tuhan dan Tuhan sudah tahu apa yang akan terjadi karena tuhan membuat naratif untuk host dan Tuhan pemilik waktu yang melihat waktu enggak dengan cara yang otak terbatas kita bisa pahami. Penghambaan jadi ada artinya kalau kamu bisa memilih jadi pembangkang tapi kamu enggak melakukannya. Kebaikan ada artinya kalau kejahatan itu ada dan memberikan makna dan batas apa itu baik dan enggak. Dua sisi dari satu hal itu diciptakan untuk memberikan perbandingan dan pemaknaan.

Yah, begitulah kira-kira.

Ini mengganggu saya sebagai penonton. Saya suka Jonathan Nolan karena dia seringkali mencoba untuk menantang ide tentang kecerdasan buatan, seperti di series Person of Interest. Di sini, dia melangkah makin jauh. Saya juga suka dengan kakaknya yang lebih terkenal, hahahaaa … Christopher Nolan. Yang satu ini punya ‘setan’ tentang waktu. Kalau kamu menonton film Christopher Nolan mulai dari Following, kamu akan lihat alur pemikiran dan perkembangan pemikirannya tentang konsep waktu. Tapi adiknya, si Jonathan Nolan, selalu lebih mengganggu saya. Bukan karena saya sendiri suka dengan segala konsep kesadaran dan kecerdasan buatan, tapi pendekatan Jonathan Nolan lebih bisa saya terima.

Beberapa waktu lalu, saya sempat bilang bahwa Makoto Shinkai mencapai konsep yang ingin dicapai Christopher Nolan lewat film animasi Voice of the Distant Star yang berbudget jauh lebih rendah dibanding Interstellar. Setelah saya menonton filmnya Shinkai, saya jadi paham, “Oh … ini toh, yang mau dikatakan Christopher Nolan di Interstellar.” Interstellar lebih rumit dan di luar gambarnya yang mengesankan itu, Christopher Nolan seperti kehilangan kendali atas konsep dan pikirannya sendiri di Interstellar—dengan karakter mengucapkan premis lantang-lantang, yang bener aja.

Kalau kamu mau nonton Westworld, tontonlah sebelum Ramadhan. Hahahaaa. Kadang, saya suka heran dengan kebiasaan saya menonton film yang ‘enggak-enggak’—kalau menurut standar teman yang mengharuskan film dan buku punya nilai moral—dan malah menemukan sesuatu di sana. Seperti di Silence saya menemukan bahwa memang seperti itu seharusnya kita memegang iman (duh, ini belum saya review, ya?) dan seperti di Westworld yang membuat saya paham mengapa manusia diberi kehendak bebas dan kesadaran. Seperti kebanyakan host di Westworld, memang pada akhirnya kehendak bebas dan kesadaran itu lebih  jamak membuat kerusakan—tuhan dan Tuhan sudah tahu itu. Tapi mereka berkeras karena sedikit yang memilih untuk menghamba atas kesadaran dan kehendaknya sendiri lebih berharga.

Christopher dan Jonathan itu dua kreator yang berusaha menantang ide dan membuat karya untuk menemukan, bukan untuk menunjukkan kalau mereka—sekedar—bisa membuat. Seperti apa yang dikatakan Ethan Canin di kutipan yang saya tulis sebagai pembuka tulisan ini. 

Saya suka mereka berdua. Tapi sejauh ini lebih suka adiknya, ding.

Segini dulu catatannya.

Saya mau lanjut nonton lagi.

* * *