‘There’s a continuity to it that’s interesting, because it means there isn’t an ending to the story; it means I continue to and am still looking for answers, whatever they may be,’ Ali Aiman admits.

Sepekan belakangan, ternyata saya jarang mendengarkan musik; iTunes dan Spotify lebih banyak menganggur. Sepertinya ini karena saya lebih sedikit menulis dan sedang keasyikan maraton Westworld, menonton ulang Orphan Black Season 4 yang baru diunggah di Netflix, dan menghibur diri dengan RuPaul Dragrace. Saya juga sedang mengejar ketinggalan mendengar S-Town Podcast yang fenomenal itu dan ingin sekali mereview karena … saya enggak paham kenapa banyak review yang simpati sama karakternya, John McLemore? Oh, come on … ini orang narsistik, jahat, dan enggak punya sisi manapun yang bisa bikin simpati. Enggak kayak Walter White di Breaking Bad.

Tapi ada satu lagu yang saya dengarkan berulang-ulang selama beberapa hari belakangan; Ali Aiman, Try.

Ali Aiman ini belum terlalu terkenal di sini, sepertinya—atau saya salah? Dibanding dengan penyanyi Malaysia lain seperti Yuna. Tapi ini pembanding yang enggak adil sepertinya karena Yuna kelasnya udah internasional begitu.

Duh, ini lagu yang saya jatuh cinta saat mendengar pertama kali. Saya tahunya sekitar Desember tahun lalu. Waktu itu ada yang share link Spotify-nya, Bang Arman Dhani kalau enggak salah. Saya termasuk orang yang suka ngeklik link lagu yang di-share di Twitter. Suka aja gitu lihat selera musik orang lain dan ini enggak ada judgement, ya. Saya cuma pengen tahu karena saya pengen dari sekian link yang saya klik itu ada yang saya suka. Ini sering terjadi, sih.

Jadilah lagu ini menemani malam-malam enggak bisa tidur saya.

Entah karena saya cewek, ya, jadi saya lebih suka mendengarkan suara cowok nyanyi. Jarang ada penyanyi cewek yang saya suka. Apalagi kalau suaranya berat dan berkarakter. Lagu ini pun jadi lagu yang saya enggak terlalu peduli liriknya karena emang enggak puitis atau gimana-gimana yang menarik. Biasa aja. Semacam kata-kata yang dibuat agar ada yang bisa dinyanyikan aja gitu. Tapi saya suka banget irama, ketukannya, dan feel yang dibawa. Rasanya kayak santai, chill, tapi bikin kerjaan selesai sedikit demi sedikit.

Semacam lagu yang kamu dengar di kafe dan ngebikin kamu enggak mau cepat beranjak dan malah pesan ulang satu cangkir kopi lagi. Semacam itu.

Saya juga dengerin lagu ini di perjalanan kedua saya ke Amerika tahun lalu. Membuat saya teringat akan ruang tunggu dan aroma bandara. Waktu itu, saya sampai di Narita ketika matahari terbit dan bandara sepi luar biasa. Hanya ada saya dan si Tuan sepertinya. Creepy dan rasanya enggak biasa. 

Saya merasa bersyukur juga, sih, bisa merasakan bandara yang belum ada orangnya sama sekali seperti itu. Apalagi bandaranya besar sekali. Saya lelah dan enggak mood mengobrol dengan si Tuan. Jadi saya keluarkan ponsel, pakai headset, dan mendengarkan lagu ini sambil mencari gate keberangkatan ke Chicago. Perasaan saya waktu itu; entahlah. Mungkin seperti perasaan kalian ketika mendengar lagu ini. Tambahkan kebas dan sedih sedikit ke campurannya.

Entah mengapa saya merasa setiap perjalanan punya soundtracknya masing-masing. Perjalanan saya yang pertama ke Amerika, soundtrack-nya Garota oleh Erlend Øye. Yang ini, saya mengingatnya dengan Ali Aiman, Try.

Mungkin sepekan belakangan ini saya ingin rasa itu lagi; perasaan ada di perjalanan, ketidakpastian, lengang, sepi, sedih, dan bercampur dengan desakan agar banyak pekerjaan bisa terselesaikan. Beberapa waktu lalu, saya mencoba mendengar lagu ini ketika saya sedang ada di kereta menuju Bogor. Enggak cocok. Enggak bisa. Lagu ini bukan untuk perjalanan semacam itu.

Pekan ini memang banyak yang selesai, banyak juga yang terbengkalai. Saya harus merapikan sistem, sepertinya. Bukannya menambah deadline dan target. Pekan ini adalah pekan dengan menyelesaikan sedikit demi sedikit, enggak cepat, tapi stabil—pekan dengan inertia yang saya suka. Tapi setelah tulisan ini selesai, setelah sore ini berganti jadi malam, playlist saya pun sudah ingin saya ganti. Salah satu lagunya; Rain oleh MIKA. Saya ingin pekan ini ketukannya lebih cepat, gerak saya pun lebih ligat.

* * *