Semalam—sampai pagi—saya membaca ulang A Temporary Matter dan menulis hasilnya di website Galeri Buku Jakarta. Buat saya, mengunjungi ulang novel, cerpen, atau puisi yang dulu pernah saya suka itu sama rasanya dengan ketika membaca pertama kali. Memang sudah tidak akan membuat penasaran karena saya sudah tahu ceritanya seperti apa. Tapi, ketika membaca dua kali—apalagi di selang waktu yang lama—akan ada satu-dua interpretasi saya yang berubah dari karya itu. ‘Teks’-nya tetap sama, saya yang berbeda—saya melihatnya dari kacamata yang berbeda.

Sesuai dengan nama rubrik baru ini, saya ingin menulis catatan yang saya ambil ketika membaca. Bukan catatan analisa yang berat, tenang saja. Hanya catatan kecil tentang apa yang terpikir, terasa, atau terlihat. Kali ini, ketika saya membaca dan menandai A Temporary Matter yang dulu sangat saya suka ini—dan sekarang saya tambah menyukainya—saya menemukan betapa rasanya deskripsi di sana hampa sekali. Plain. Vanila—kalau diumpamakan es krim.

Saya ini tipe penikmat narasi dan deskripsi selama menarik atau captivating. Beberapa narasi dan deskripsi yang saya temui kadang lebih untuk melayani napsu penulis yang ingin memasukkan sesuatu tentang dirinya (betapa dia bisa bermain dengan kata-kata dan diksi, dan sebagainya) bukan untuk kepentingan cerita, penceritaan, dan karakterisasi. Untuk yang semacam ini, sungguh, saya tidak tahan. Saya ingin melihat penulis bergelut, bercinta, dan menaklukkan ide, bukan melihat mereka memperkosa ide itu sampai babak-belur. Begitulah.

Iya, saya banyak maunya.

Balik ke urusan narasi dan deskripsi.

Pernah membaca tulisan yang datarnya luar biasa? Pernah membaca tulisan yang datarnya luar biasa tapi kemudian itu membuat kepala dan hatimu nyeri karena di bawah ketenangan dan kedataran itu, seolah ada yang berkecamuk tapi disembunyikan dan ditekan? Coba baca Jhumpa Lahiri.

“It’s good of them to warn us,” Shoba conceded after reading the notice aloud, more for her own benefit than Shukumar’s. She let the strap of her leather satchel, plump with files, slip from her shoulders, and left it in the hallway as she walked into the kitchen. She wore a navy blue poplin raincoat over gray sweatpants and white sneakers, looking, at thirty-three, like the type of woman she’d once claimed she would never resemble.

Lahiri, Jhumpa (2000-05-22). Interpreter of Maladies (p. 1). Houghton Mifflin Harcourt. Kindle Edition.

Ini adegan awal di cerpen ini. Penulisnya menggambarkan Shoba dengan cara yang sangat sederhana; tasnya yang penuh dengan berkas dia biarkan jatuh dari bahunya, dia biarkan tergeletak di lorong, lalu dia berjalan menuju dapur, dia memakai raincoat biru pelaut yang di lapisan bawahnya ada sweatpants dan sneaker putih, di umur tiga puluh tiga, dia seperti perempuan yang dulunya pernah dia katakan, kalau dia tidak akan pernah menjadi seperti mereka.

Saya membaca paragraf ini berulang-ulang. Ini datar—saya tahu. Tapi … ah, ini indah—kalau dimasukkan konteksnya. Dibaca sekali, ini hanya adegan seorang perempuan masuk ke dalam rumah dan cuek dengan dirinya. Kalau dimasukkan cerita di belakangnya; perempuan ini sudah lama lelah dengan pernikahannya, dia mungkin sudah berhenti mencintai suaminya karena mereka sudah lama tidak bicara, dia pulang tanpa antusias, berjalan ke dapur begitu saja. Bagian yang paling menarik; dia dulu menikah dan tidak pernah sekalipun terpikir bahwa setelah tiga tahun, pernikahannya akan seperti ini dan dia menjadi perempuan membosankan lainnya yang mati pelan-pelan di pernikahannya sendiri. Pernikahan yang seharusnya menumbuhkan dan menghidupkan. Sekarang jadi kuburan yang menimbun dirinya sendiri.

Membaca Ulang ‘A Temporary Matter’ Karya Jhumpa Lahiri

Saya masih mengingat kalau Selasa itu saya datang ke kos seorang teman untuk menumpang istirahat ketika saya melihat buku berwarna oranye; Interpreter of Maladies di kamarnya.

Tidak ada penjelasan tentang perasaan di sepanjang cerpen ini. Mungkin saya melewatkannya, tapi tidak ada metafora tentang rasa dan hati. Cerpen ini hampa, penulisnya menuliskannya dengan pilihan kata yang membuat pembacanya—saya—merasakan hampa yang sama.

Sekarang bagian ini:

The fourth night they walked carefully upstairs, to bed, feeling together for the final step with their feet before the landing, and making love with a desperation they had forgotten. She wept without sound, and whispered his name, and traced his eyebrows with her finger in the dark. As he made love to her he wondered what he would say to her the next night, and what she would say, the thought of it exciting him. “Hold me,” he said, “hold me in your arms.” By the time the lights came back on downstairs, they’d fallen asleep.

Lahiri, Jhumpa (2000-05-22). Interpreter of Maladies (pp. 19-20). Houghton Mifflin Harcourt. Kindle Edition.

Beberapa waktu belakangan, saya banyak membaca adegan ranjang. Dari yang pakai foreplay sampai yang detail luar binasa. Hahahaaa. Tapi ini jadi adegan ranjang yang cuma satu paragraf panjangnya, tapi membuat saya menarik napas. Ini sakit. Ini bercinta yang sambil menahan sakit—di hati. Tidak perlu dijelaskan tentang mata, napas, keringat, desah, bahkan rasa sakit itu sendiri.

Yang paling menyakitkan dari adegan itu; bahkan bercinta, menangis, dan kemudian tidur berpelukan, tidak bisa memanggil lagi cinta yang memang sudah tidak ada.

Kelihaian menulis semacam ini yang saya rindukan. Saya ingin membaca apa yang tersembunyi. Saya ingin bermain dengan teks. Saya ingin mencari-cari sendiri pertanda dan memasang-masangkannya agar jadi penanda. Saya sendiri bukan pembaca yang keberatan dengan adegan ranjang. Tapi tentu saya ingin membaca yang well written dan jelas dituliskan untuk apa. Aneh dan bizarre tidak mengapa selama memang memberi makna. Menuliskan ini, saya jadi teringat tentang banyaknya adegan seperti ini di novel Murakami. Tidak satu pun yang berhasil memancing napsu atau imajinasi liar saya. Membuat sesak, iya. Membuat sakit, kadang.

Jadi, karena catatan ini saya buat untuk saya sendiri tapi saya membiarkan yang lain membaca, saya ingin mengingatkan diri saya; kalau menulis adegan ranjang, tulislah dengan pertimbangan dan kelihaian. Menulis adegan ranjang dengan maksud untuk merangsang pembaca juga perlu kelihaian, percayalah. Hahahaaa. Tapi sejauh ini, saya belum ingin menulis yang seperti itu.

… and making love with a desperation they had forgotten. She wept without sound, and whispered his name, and traced his eyebrows with her finger in the dark.

Kalimat di atas membuat saya menghembuskan napas berkali-kali. Sesak.

* * *