“Mana gue tahu.”

Itu yang saya katakan pada si Tuan beberapa malam lalu, ketika kami bicara panjang dan lama sekali tentang banyak pertanda yang—bodohnya—tidak pernah saya baca dengan tepat dan jadikan penanda.

“Kamu, kan, penulis. Observant,” katanya. “Gimana bisa enggak peka?”

Pernyataan itu pun jadi pertanyaan saya setelah pembicaraan itu, bagaimana bisa?

Seharian ini, saya darah rendah lagi. Tiduran sepanjang hari karena kalau berdiri, pandangan saya menghitam. Sekarang jam dua belas malam dan rasanya, setelah banyak tidur di siang hari, saya tidak ingin tidur sampai pagi. Saya ingin menulis. Tapi obrolan itu terngiang lagi. Saya pun membuka Spotify, memutar satu lagu yang mengingatkan saya pada rentetan kejadian yang sampai hari ini pun, masih saya pertanyakan, bagaimana bisa?

Ini tentang cinta pertama dan banyak pertanda.

Lelaki ini adalah semua yang tidak pernah terbayang sebelumnya; tinggi, putih, dengan badan bagus—sekarang saya mengingatnya seperti itu. Dulu, saya mana paham mana badan lelaki yang bagus atau sebaliknya. Saya pernah melihatnya telanjang dada dan yaaa … mana saya peduli ketika itu dengan perut rata berotot dan tangannya yang kekar. Saya kurang dua belas tahun ketika itu, kelas satu sekolah menegah pertama. Dia satu tingkat dengan saya tapi sudah empat belas karena terlambat masuk sekolah, katanya. Ini jawaban yang saya dapat ketika beberapa waktu kemudian, saya menanyakannya.

Saya sepundaknya dulu. Terakhir saya bertemu dengannya ketika pertumbuhan badan kami sudah saya pastikan berhenti, saya sedikit di atas pundaknya. Itu artinya, dia seratus delapan puluh. Senyumnya manis dan dia punya gingsul—yang mana (lagi) ini tidak pernah saya lihat sebagai sesuatu yang menarik dulu. Sekarang, ketika beberapa teman perempuan bicara tentang betapa manisnya lelaki yang punya senyum dengan gingsul, saya jadi teringat padanya.

Lelaki ini adalah semua yang tidak pernah terbayang sebelumnya; dia ketua gank anak nakal di sekolah, saya murid baik yang kadang juara kelas. Ketika di kelas dua, guru Bahasa Indonesia saya selalu saja menganggap keberadaan saya di kelas tidak ada gunanya karena, “Nilaimu sembilan-sepuluh terus,” ujar beliau, lalu memerintahkan saya untuk ke perpustakaan di jam pelajarannya untuk merapikan buku, lelaki ini mengintip dari jendela dan meledek. “Bukan hanya anak nakal yang dihukum,” katanya, “Anak pintar pun begitu.”

Saying I love you
Is not the words I want to hear from you
It’s not that I want you
Not to say, but if you only knew
How easy it would be to show me how you feel
More than words is all you have to do to make it real
Then you wouldn’t have to say that you love me
‘Cause I’d already know

Waktu itu, saya sudah pacaran dengannya. Siang sepulang sekolah, dia membonceng saya dengan motornya dan kami ke tempat yang banyak pohonnya. Hutan kota di dekat rumah saya. Saya membaca dan dia melihat saya membaca. Katanya, “Enggak ngobrol pun enggak apa-apa. Lo baca aja terus. Asal gue boleh liatin lo terus.”

Ketika liburan datang, dia membuatkan saya mixtape. “Lagu-lagu yang bikin gue inget sama lo,” katanya. Salah satunya, lagu More Than Words dari Extreme. Dia tidak menelepon saya selama seminggu karena dia pergi entah ke mana—saya lupa. Ketika liburan berakhir dan kami bertemu di sekolah. Dia bilang, “Gue kangen banget sama lo selama liburan.” Saya pun bilang, “Gue juga.”

Saya ingin menambahkan kalau mixtape yang dia berikan itu jadi semacam racun yang membuat rindu jadi berlipat-lipat, tapi saya gengsi. Dia pernah bilang kalau saya tidak terlalu cantik dan dia sendiri bingung kenapa dia bisa suka sampai seperti itu pada saya. Saya katakan padanya, “Mungkin lo gue pelet.”

Dia jawab serius, “Bukan. Bukan itu. Ada yang lain.”

Sesuatu ‘yang lain’ itu jadi misteri sampai ketika kami lulus dan hubungan kami seolah berakhir begitu saja. Entah apa yang terjadi waktu itu, saya pun tidak ingat. Kami tidak pernah menelepon lagi. Rasanya, ada masalah yang membuat saya bilang, “Jangan telepon gue lagi.” Saya lupa masalahnya apa. Tapi, bukankah kenangan memang seperti itu? Kita masih juga mengingatnya karena rasanya masih tersisa. Detail tentang ingatan itu, mengabur seiring waktu.

What would you do if my heart was torn in two
More than words to show you feel
That your love for me is real
What would you say if I took those words away
Then you couldn’t make things new
Just by saying I love you

Lelaki ini adalah semua yang tidak pernah terbayang sebelumnya; kami tidak bisa bicara banyak karena terlalu berbeda. Dia akan bercerita tentang band rock kesukaannya, tentang sepak bola, tentang … entahlah. Semua itu hal yang saya tidak tahu. Saya lalu bercerita padanya tentang puisi-puisi yang saya tulis, tentang puisi-puisi yang saya baca, dan tentang banyaknya hari saya habiskan untuk membaca novel. Dia tidak pernah memberikan hadiah buku karena dia tidak tahu harus membeli yang mana. Dia memberikan saya bunga, hiasan kerang berbentuk kura-kura yang katanya mirip ekspresinya dengan dia yang hanya mengangguk-ngangguk bingung kalau saya sedang bicara, dan banyak waktu yang saya habiskan berdua dengannya tapi tidak lebih jauh dibanding bergandengan tangan. Suatu ketika, kami berjalan-jalan, dan turun hujan. Dia bertanya, “Suka hujan?”

Saya jawab, “Enggak.”

Lalu dia menarik tangan saya dan kami hujan-hujanan. Saya pulang sore itu dan demam beberapa hari. Dia menelepon setiap hari karena kuatir. Bodohnya, sejak saat itu saya suka hujan. Tapi kami tidak pernah hujan-hujanan lagi karena dia takut saya deman nanti.

Selama di sekolah menengah atas, saya masih juga mengingatnya. Masih juga berharap bertemu dengannya di jalan atau … entahlah. Saya enggak pacaran dengan siapapun selama tiga tahun di sekolah. Sebagian dari itu, seingat saya, bisa jadi karena saya masih juga merindukannya. Lalu, saya bertemu dengannya lagi. Di masa awal saya kuliah. Kami bertukar nomer ponsel, lalu dia menemui saya di dekat kampus. Ketika saya melihatnya pertama kali, saya terkejut sendiri karena saya sendiri tidak yakin kalau dulu, saya pernah mencuri hati orang seperti ini; dia masih tinggi, masih putih, masih ganteng, memakai kemeja merah hati yang kontras sekali dengan kulitnya, dilipat sampai ke siku, dan senyum gingsulnya, masih sangat manis.

Kami makan sate. Bicara tentang hal aneh; mengapa hubungan kami seperti ini, mengapa tiga tahun ini dia tidak pernah mencari saya, mengapa sekarang bisa bertemu lagi. Dia bilang, “Gue takut nelpon elo, takut lo marah.” Ingin rasanya saya bilang bahwa saya menantikan teleponnya dan kalau telepon rumah berbunyi, kadang saya berharap itu dari dia. Tapi saya urungkan. Saya gengsi.

Dia bilang kalau abangnya menanyakan saya. Iya, abangnya. Dia punya beberapa saudara lelaki dan salah satu dari mereka—yang satu di atasnya—pernah dengan sengaja mencari saya hanya untuk bilang, “Jaga perasaan adek gue!” Saya ceritakan itu padanya. Dia bilang sambil tertawa, “Itu karena waktu itu gue kayak orang gila. Enggak bisa berhenti ngomongin elo di rumah.”

“Kenapa bisa sampai begitu?” tanya saya.

“Gue enggak tahu. Lo bukan yang pertama, gue suka banyak cewek sebelum lo. Tapi, lo …,” dia berhenti, “yang pertama bisa buat gue tergila-gila.” Saya pun teringat kalau dia pernah bilang saya enggak cantik.

Lalu saya bertanya, “Kenapa? Bukan karena cantik, kan? Karena gue enggak cantik.”

“Bukan. Bukan itu,” jawabnya. “Karena … entah.”

Ini jawaban yang juga diberikan Tuan Sinung ketika saya bertanya hal yang sama.

Ketika makanan di depan kami sudah habis, tinggal setengah gelas jus—dan kami sengaja memesan dua gelas lagi agar bisa bicara lebih lama—saya pun memberanikan bertanya, “Sejak kapan lo suka sama gue?”

Dia jawab, “Sejak awal masuk sekolah.”

“Kenapa enggak bilang waktu itu dan malah menunggu setahun lebih sampai akhirnya kita pacaran?” Saya baru suka padanya di kelas dua. Itu artinya, ada beda waktu hampir setahun.

“Gue udah berusaha perlihatkan, lo yang enggak ‘ngeh’ kayaknya.”

‘Ngeh’.

“Perlihatkan bagaimana?” tanya saya lagi.

“Gue deketin lo, ajak ngobrol, nyamperin lo, nelpon lo, nganterin lo pulang, menurut lo?” dia balik bertanya.

“Mana gue tahu itu caranya cowok bilang suka sama cewek,” kilah saya.

Mana saya tahu. Ini juga yang kemudian saya bicarakan beberapa malam lalu dengan Tuan Sinung. Mana saya tahu kalau untuk bilang suka sama cewek, cowok menelepon si cewek setiap hari.

Atau bilang, “Kakak gue datang dari kota X besok, lo anterin gue jemput, ya. Mau gue kenalin.” Ini cowok yang lain.

Atau SMS: Gue sakit. Mau nengokin enggak? Bawain makanan kesukaan gue, ya. Saya datang dan dia minta saya tinggal lebih tiga jam lamanya untuk mengobrol. Ini cowok yang lain lagi.

Atau menelepon saya hanya karena teringat dan ketika itu saya sedang kesasar di tengah jalan menuju kos dan dia meminta saya untuk diam di sana sampai dia menjemput saya lalu mengantarkan saya pulang. Lalu dia bilang, “Firasat gue tentang lo emang bener.” Ketika dia bertanya, “Udah berapa lama lo nyasar?” Saya jawab, “Setengah jam lebih.” Ini cowok yang lain lagi (lagi).

Mana saya tahu.

Saya baru tahu kalau mereka bilang. Bukankah itu sesuatu yang harus dikatakan?

“Emak gue nanyain lo juga,” katanya di jalan pulang ketika dia mengantar saya degan motornya.

Yang ini membuat saya kaget tapi saya berusaha tenang. Dia bilang kalau bulan depan ada piknik teman-temannya di rumah dan dia mengajak saya ikut. Yang saya lupa; ‘teman-teman rumah’ yang dia maksud itu adalah sepupu-sepupunya karena keluarga besarnya tinggal di daerah yang sama. Saya baru tahu itu ketika saya sudah datang pagi itu, naik ke bus pariwisata, dan—saya heran—mengapa saya bertemu dengan keluarga besarnya di sana. Ibunya meminta saya main sebentar ke rumahnya setelah pulang piknik. Meminta saya sering datang.

Mana saya tahu kalau itu artinya; Ibunya memberi restu!

Now I’ve tried to talk to you and make you understand
All you have to do is close your eyes
And just reach out your hands and touch me
Hold me close don’t ever let me go
More than words is all I ever needed you to show
Then you wouldn’t have to say that you love me
‘Cause I’d already know

Selama di pantai, saya dan dia lebih banyak berdua—kecuali ketika makan bersama. Kami duduk di dangau kecil dan bicara lagi. Kali ini tentang betapa dia kaget kalau saya sudah dekat dengan orang lain ketika itu—Tuan Sinung.

“Lo enggak pernah bilang,” kata saya.

“Bilang apa?” tanyanya. Mungkin bingung.

“Bilang suka sama gue.”

Dia tertawa.

“Gue nyamperin lo ke kos, ngajak lo makan, ngajak lo ke sini hari ini, ketemu keluarga besar gue, menurut lo?” dia balik bertanya.

“Enggak bisa langsung bilang aja?”

“Itu udah lebih dari sekedar kata-kata, Ta,” jawabnya. “Harus dibilang juga emangnya?”

“Iya,” jawab saya. “Lihat akad nikah. Harus diucapkan lantang-lantang, kan?”

Saya lalu jelaskan padanya, sesederhana yang saya bisa, bahwa saya menantikan kata-katanya karena itu yang bisa saya pegang dari lelaki. Kalau dia tidak pernah bilang, saya anggap itu tidak ada—tidak pernah ada.

Saya masih bertemu lagi dengannya di malam sebelum dia menikah. Ketika itu, saya sedang hamil delapan bulan. Saya datang ke sana dengan Tuan Sinung. Tidak ada yang aneh karena memang semua baik-baik saja. Saya bertemu, berpisah, bertemu, dan berpisah lagi. Hubungan saya dan dia naik-turun. Seandainya saya dan dia memang berjodoh, tentu akan dimudahkan. Tapi ternyata tidak. Saya enggak pernah berandai-andai kalau saya akan berjodoh dengannya, sekalipun tidak. Tapi semua tentang dia tidak tersisa pahit atau pedihnya.

Di sepanjang tahun-tahun itu, saya merindukannya, mungkin dia pun seperti itu. Kalau saya melihat ke belakang, dia ini satu-satunya cowok yang pernah bilang suka sama saya—cinta, bahkan tergila-gila—tapi enggak pernah membuat saya patah hati dan menangis.

Saya ingin berterimakasih padanya untuk itu semua. Ingin sekali. Tahu bahwa ada seseorang di luar sana, setelah begitu lama, masih juga mengingat, merindukan, dan cinta padamu, itu rasanya seperti energi yang kuat. Dicintai itu membuat kamu merasa berharga.

More than words is all you have to do to make it real
Then you wouldn’t have to say that you love me
‘Cause I’d already know

Hari itu, juga lima belas Mei. Malam itu dia mengantarkan saya pulang setelah kami piknik dan bilang pada saya di depan pintu rumah saya.

“Gue suka sama lo. Gue cinta sama lo,” katanya. “Sejak kita enggak ketemu lagi setelah lulus SMP, gue enggak bisa cinta sama satu cewek pun. Suka-suka aja sih, ada. Tapi enggak bisa sampai kayak apa yang gue rasain sama lo.”

“Kenapa?” Saya tahu ini pertanyaan bodoh tapi saya menanyakannya juga ketika itu.

“Karena … yang seperti itu kayaknya enggak bisa diulang. Orang seperti lo hanya akan datang satu kali, Ta. Orang yang seperti gue hanya akan datang satu kali di hidup lo.”

Pernyataan itu setengah salah untuknya karena beberapa tahun kemudian, dia bertemu dengan gadis lain, yang dia—tampaknya—tergila-gila pada gadis itu, dan jauh lebih cantik daripada saya. Jauh. Sebanding dengannya.

Tapi pernyataan itu benar untuk saya karena memang akan selalu ada orang yang tepat, datang di waktu yang tepat—yang kemudian, sampai hari ini, saya panggil ‘Hon’ dari kata ’Pohon’ karena teduhnya. Yang mengatakan setiap hari kalau dia mencintai saya karena dia tahu, saya perlu kata-kata.

* * *