Saya menulis kesan yang saya dapatkan selagi membaca ulang cerita pendek Jhumpa Lahiri, A Temporary Matter. Tulisan itu jadi bahan diskusi yang menarik, tapi sayangnya, beberapa orang kesulitan mencari terjemahan cerita pendek itu dan diskusi enggak bisa jalan tanpa bahan. Lalu terpikir, “Yaaa … sudahlah, saya yang terjemahkan.” 

Saya bukan penerjemah. Ini usaha saya menerjemahkan untuk kali pertama. Pasti akan banyak celanya, tentu saja. Saya baru memahami sulitnya menerjemahkan karena bukan hanya kata-kata yang perlu dipindahkan ke bahasa lain, tapi juga rasa. Ini susah. Setengah mati. Jadi, harap maklum, ya. ^^

Saya memecah jadi beberapa bagian karena cerpennya panjang sekali. Jadi, mohon sabar, ya. Saya juga enggak yakin bisa menyelesaikannya dengan cepat karena sudah kadung tenggelam dengan beberapa buku pekan ini. Sepertinya–lagi–menerjemahkan ini enggak bisa dikerjakan sambil lapar karena … saya akan mudah menyerah. Hahahaaa.

Selamat membaca~

Keadaan Sementara

Jhumpa Lahiri

[Bagian Pertama]

Di surat pemberitahuan itu tertulis kalau keadaan ini hanya sementara: selama lima hari, sambungan listrik akan diputus satu jam, mulai pukul delapan malam. Ada satu jalur yang rusak ketika badai salju terakhir, dan teknisi akan mengambil kesempatan di awal malam ketika cuaca baik untuk membetulkannya. Perbaikan itu hanya akan berdampak pada rumah-rumah di tepian jalan dengan pohon berbaris di sisinya, yang masih dekat dengan jajaran toko dengan bagian depan bertembok bata dan sebuah perhentian troli*, di mana Shoba dan Shukumar tinggal selama tiga tahun.

“Bagus mereka memberitahukan kita,” ujar Shoba setelah membaca pemberitahuan itu keras-keras, yang dia tujukan lebih untuk dirinya sendiri dan bukan untuk Shukumar. Dia membiarkan tali tas kulit kecilnya, yang sesak dengan berkas, terlepas dari bahu, dan meninggalkannya begitu saja di lorong sambil berjalan menuju dapur. Dia mengenakan mantel hujan biru pelaut dari bahan poplin di atas celana olahraga abu-abu dan sepatu kets putih, dia terlihat, di usianya yang tiga puluh tiga, seperti perempuan yang dulu pernah dikatakannya kalau dia tidak akan pernah seperti mereka.

Dia baru pulang dari pusat kebugaran. Gincu berwarna cranberry yang dia pakai hanya tersisa sedikit di tepian bibirnya, dan celaknya meninggalkan bekas kehitaman seperti dedak batubara di bagian bulu mata bawahnya. Dia memang kadang terlihat seperti ini, pikir Shukumar, di pagi-pagi setelah pesta atau menghabiskan malam di bar, ketika Shoba terlalu malas untuk membasuh wajah, terlalu ingin untuk menjatuhkan tubuh di dekapannya. Shoba menjatuhkan setumpukan surat di meja tanpa menoleh. Matanya masih memandangi surat pemberitahuan yang masih dia pegang di sebelah tangannya yang lain. “Tapi seharusnya mereka melakukan ini di siang hari.”

“Waktu aku di sini, maksudmu,” ujar Shukumar. Dia menangkup sebuah tutup kaca di atas panci berisi daging lembu, mengatur agar hanya sedikit uap yang keluar. Sejak Januari dia bekerja dari rumah, berusaha menyelesaikan bab terakhir disertasi tentang revolusi agraria di India. “Kapan perbaikannya akan dimulai?”

“Di sini dituliskan tanggal sembilan belas Maret. Bukankah itu hari ini?” Shoba berjalan menuju papan tempat menempel catatan yang diletakkan di dinding samping kulkas, yang permukaannya tidak dihiasi apapun kecuali satu kalender William Morris yang dijadikan pengganti kertas penutup tembok. Dia melihat kalender itu seolah untuk kali pertama, mempelajari motif di setengah bagian atasnya dengan seksama sebelum menjatuhkan pandangannya ke kolom dengan angka-angka di bagian bawahnya. Seorang teman mengirimkan kalender ini sebagai hadiah natal, kendati Shoba dan Shukumar tidak merayakannya di tahun itu.

“Iya, hari ini,” ujar Shoba. “Kamu punya janji dengan dokter gigi Jum’at depan, ngomong-ngomong.

Dia meraba bagian atas giginya dengan lidah; dia lupa untuk mengosoknya pagi ini. Ini bukan kali pertama. Dia belum meninggalkan rumah sama sekali seharian ini, juga kemarin. Semakin banyak Shoba keluar rumah, semakin banyak waktu ekstra yang dia habiskan untuk pekerjaan dan proyek tambahan lain, semakin Shukumar ingin di tetap di rumah, tidak keluar bahkan hanya untuk sekadar mengambil surat, berbelanja buah atau wine di toko yang ada di dekat perhentian troli.

September, enam bulan lalu, Shukumar menghadiri konferensi akademik di Baltimore ketika Shoba mulai pembukaan, tiga pekan sebelum hari perkiraan lahir yang seharusnya. Dia sebenarnya tidak ingin pergi, tapi Shoba memaksa; menghadirinya penting untuk bertemu kenalan baru, apalagi dia akan mencari pekerjaan tahun depan. Shoba berkata kalau dia sudah punya nomer hotel tempat Shukumar menginap, dan salinan jadwal acara serta nomer penerbangannya, dan dia sudah mengatur agar temannya, Gillian, siap mengantarkan ke rumah sakit kalau keadaan darurat. Ketika taksi beranjak ke bandara pagi itu, Shoba yang masih memakai jubah tidurnya, berdiri dan melambai dengan satu tangan lain menyentuh bagian atas perut buncitnya seolah itu bagian alami dari tubuhnya sejak lama.

Tiap kali dia teringat saat itu–ketika terakhir kali dia melihat Shoba hamil–taksi itu yang dia ingat dengan jelas sekali, model sedan dengan badan panjang (station wagon), bercat merah dengan tulisan biru. Bagian dalamnya lebih luas dibanding mobil mereka. Walaupun Shukumar tingginya enam kaki, dengan telapak terlalu besar bahkan untuk dimasukkan ke saku celana jeans-nya, dia merasa kecil sekali di bangku belakang taksi itu. Ketika taksi itu melambat di Beacon Street, dia membayangkan suatu hari ketika dia dan Shoba mungkin akan perlu membeli sedan berbadan besar seperti ini, untuk antar-jemput anak-anak mereka dari les musik dan janji kunjungan ke dokter gigi. Dia membayangkan dirinya memegang erat kemudi ketika Shoba berbalik mengulurkan kotak jus untuk anak-anak itu. Sekali waktu, bayangan untuk jadi orangtua sempat mengganggu Shukumar, ditambah dengan kecemasan bahwa dia masih juga menjadi mahasiswa di usia tiga puluh lima. Tapi di awal pagi musim gugur itu, pohon-pohon masih rimbun dengan dedaunan berwarna tembaga, dia menerima bayangan itu untuk pertama kalinya.

Seorang pegawai hotel entah bagaimana berhasil menemukannya di antara ruangan konferensi yang serupa dan mengulurkan kertas segiempat yang kaku. Di sana hanya tertulis nomer telepon, tapi Shukumar tahu kalau itu rumah sakit. Ketika dia kembali ke Boston, semuanya telah berakhir. Bayi itu terlahir mati. Shoba terbaring di ranjang, tertidur, di sebuah kamar rawat privat yang terlalu kecil sampai-sampai tidak cukup ruang untuk berdiri di samping istrinya, di bagian sayap rumah sakit yang mereka tidak datangi ketika mereka melakukan kunjungan untuk para calon orangtua. Plasentanya melemah dan dia harus melakukan operasi sesar, walaupun tidak tertangani dengan cepat. Dokter menjelaskan kalau hal seperti ini kerap terjadi. Dia tersenyum seramah yang dia bisa ke orang yang hanya dia kenal secara profesional itu. Shoba akan pulih dalam beberapa pekan. Tidak ada indikasi kalau dia tidak bisa hamil lagi nanti.

Hari-hari belakangan ini, Shoba sudah pergi ketika Shukumar terbangun. Dia membuka matanya dan melihat beberapa helai panjang rambut hitam Shoba yang tertinggal di bantal dan memikirkan tentang Shoba, yang berpakaian rapi, sekarang bisa jadi meneguk cangkir kopi ketiga, di ruang kantornya di pusat kota, di mana dia mencari kesalahan ketik di buku cetak dan menandainya, dengan kode-kode yang sekali waktu pernah dia jelaskan pada Shukumar, menggunakan sekumpulan pensil warna. Dia akan melakukan hal yang sama dengan disertasi Shukumar, janjinya, kalau disertasi itu sudah selesai. Dia iri pada pekerjaan Shoba yang spesifik, tidak seperti dirinya yang tidak memang teratur. Dia mahasiswa biasa yang punya kemampuan untuk menyerap apapun tanpa rasa ingin tahu yang lebih. Sampai September, dia tetap rajin–kalau tidak bisa dibilang berdedikasi–membuat rangkuman bab, menyusun kerangka argumen di tumpukan kertas kuning bergaris. Tapi sekarang dia hanya berbaring di atas ranjang sampai bosan, menatap sisi tempat penyimpanan pakaiannya yang selalu saja ditinggalkan Shoba setengah terbuka, memandangi barisan jaket-jaket tebal dan celana kordurai yang tidak dia pakai untuk mengajar di semester itu. Sepeninggal bayi mereka, sudah terlambat untuk mundur dari tugas mengajar. Tapi pembimbingnya sudah mengatur agar dia bisa cuti di semester musim semi. Ini tahun keenam Shukumar di pasca sarjana. “Cuti itu dan juga tambahan di musim panas akan memberikan dorongan yang bagus buatmu,” kata pembimbingnya. “Kamu seharusnya bisa menyelesaikan semuanya di September.”

Tapi tidak ada yang membuat Shukumar terdorong. Alih-alih, dia malah memikirkan bagaimana dia dan Shoba menjadi begitu ahli menghindari satu dan lainnya di rumah tiga kamar mereka, menghabiskan waktu di lantai yang berbeda selama mungkin. Dia merenungi bagaimana dia tidak lagi menunggu akhir pekan, ketika Shoba akan duduk di sofa selama berjam-jam dengan pensil warna dan berkas-berkasnya, yang sampai-sampai bisa membuat Shukumar berpikir kalau memutar lagu di rumahnya sendiri bisa jadi menggangu. Dia memikirkan lama waktu berlalu sejak terakhir Shoba menatap matanya dan tersenyum, atau membisikkan namanya di kejadian langka ketika mereka masih saling merengkuh tubuh sebelum terlelap.

Awalnya dia yakin kalau ini akan berakhir, dia dan Shoba akan melaluinya, entah bagaimana caranya. Shoba masih tiga puluh tiga tahun. Dia kuat, dia akan pulih kembali. Tapi itu bukan lagi penghiburan. Seringkali, sudah hampir menjelang makan siang ketika Shukumar bangkit dari ranjang dan beranjak meraih teko kopi di lantai bawah, menuang sisa yang sengaja Shoba tinggalkan untuknya, lengkap dengan sebuah cangkir di atas meja.

* * *

* Sejenis kereta listrik kecil dengan satu gerbong. Di San Fransisco, nama yang biasa digunakan adalah troli (trolley). Shoba dan Shukumar tinggal di Boston, dan sepertinya mereka memakai istilah yang sama; trolley. Sementara di Amerika Utara dan Eropa, biasa disebut tram.