Tentang Plagiat dan Hal-hal Lain di Sekitarnya

by | Jun 1, 2017 | Ceracau Pagi, Non Fiksi | 2 comments

Saya sudah lama enggak main-main di Facebook. Ke sana cuma sekadar share link blog dan kadang lihat-lihat sedikit. Twitter dan Instagram lebih menarik akhir-akhir ini buat saya. Di Twitter saya bisa bercanda santai dan di Instagram banyak yang post prosa, puisi, dan cerita pendek yang buat saya lebih menarik. Jadi, ketika kemarin ada yang membahas kasus dugaan plagiasi yang dilakukan Afi, saya sedang sibuk tertawa karena covfefe-gate.

Saya lihat, di Facebook enggak ada yang heboh urusan covfefe ini sementara di Twitter, saya sudah ketawa sampai sakit perut karena banyak meme luar biasa kurang ajar dan lucu yang dibagikan. Saya penasaran, jadi datang juga saya ke Facebook. Di sana, masalah ini sudah dibahas panjang lebar. Saya enggak puas, saya search ke Kompasiana karena di sana asal-muasal artikel yang dugaan itu. Saya baca … hmmm, oh, okay~

Saya akhirnya menulis status panjang di Facebook—sesuatu yang sudah lama sekali enggak pernah saya lakukan. Masalah ini, menurut saya rumit berkelit-kelindan dengan urusan lain. Misalnya pertanyaan; bukankah lebih penting apa yang disampaikan dibanding siapa yang menyampaikan? Ini bisa. Boleh. Asal bukan di area akademik dan sastra.

Lalu perdebatan berikutnya; tapi, di Facebook—dan sosial media pada umumnya—biasa terjadi masalah ini. Orang biasa meng-copas status orang lain dan menyebarkannya tanpa memberi kredit. Perdebatan berikutnya; Mita—akun yang ditelusuri sebagai penulis status yang di-copas Afi—sudah memberikan konfirmasi dan mengakui kalau dia tahu Afi meng-copas statusnya dan dia enggak keberatan dengan itu. Dia bilang kalau statusnya memang sudah biasa di-copas dan disebarkan ke mana-mana. Lalu, ada lagi perdebatan tentang usia Afi, kematangannya, dan sebaiknya warganet enggak membully dia. Masalah ini akan memberi tekanan, apalagi untuk anak seusia itu. Tentang politik dan sebagainya yang ada kaitannya dengan urusan ini, saya enggak akan bahas karena … bosan. Saya bosan dengan perbincangan politik dan perpecahan yang dibawa setelahnya. Jadi, untuk yang satu itu, saya pass aja, ya.

Saya mau bahas satu-satu. Tapi saya tegaskan sejak awal kalau ini pendapat saya pribadi saja dan bisa saja salah. Jadi, tolong ingatkan saya kalau itu terjadi.

Pertama, tentang apa yang disampaikan lebih penting dibanding siapa yang menyampaikan. Ini pendapat yang harus dilihat konteksnya, menurut saya. Kalau untuk urusan keilmuan, tentu harus melihat ke siapa yang menyampaikan. Apa dia punya kompetensi untuk berpendapat tentang hal itu. Kalau tentang hal lain, tentang nasehat hidup misalnya, yaaa … kamu bisa melakukan itu. Kamu bisa menerima nasehat tentang kebaikan dari siapapun karena yang penting memang kebaikannya, bukan siapa yang membawakannya. Prioritasnya memang itu.

Kedua, tentang lumrahnya copas di sosial media. Saya baca tulisannya Mas Giri Lukmanto di Kompasiana dan saya setuju dengan apa yang beliau katakan. Menurut beliau, plagiarisme di sosial media itu rancu karena memang enggak ada konsekuensi hukumnya. Misalnya, pernah terjadi dua kasus plagiat twit—twit loh, yang cuma seratus empat puluh karakter—di Twitter dan jadi pembahasan di Buzzfeed. Ada dua kasus, ini dan ini. Enggak ada konsekuensi hukumnya memang, yang ada; konsekuensi sosial. Warganet ramai mem-bully. Saya juga melihat hal serupa di kasus Afi ini. Banyak yang mem-bully. Seperti kata Mas Giri di artikelnya yang saya link di atas; bisa jadi yang membully malah bisa jadi enggak pernah menulis sesuatu yang berbobot.

Saya kadang agak merasa gimanaaa … gitu waktu seorang teman bilang kalau kita ini banyak pencime’eh (kalau bahasa Minang, artinya mencemooh) dibanding mengapresiasi. Kalau ada teman yang mendapat kabar baik, ada saja terselip satu-dua tanggapan; ah, gitu doang, gue juga bisa. Ada yang mendapat promosi atau apa gitu, ada satu-dua yang memberi tanggapan; dia bisa begitu karena ini dan itu. Mencemooh lebih mudah dibanding berlapang-dada dan memberikan selamat atau ikut bergembira. Apalagi di sosial media—tempat di mana kamu kadang merasa bisa menulis apapun di sana, kapan saja.

Saya sudah bertahun menulis dan masih juga merasa perlu melindungi diri dari segala copas yang dulu sering terjadi. Sekarang, sih, sudah enggak ada lagi. Foto yang saya share di Facebook atau blog, saya sudah kehilangan hitung berapa banyak yang diambil dan digunakan lagi tanpa ijin. Sampai saya sendiri jadi malas untuk mengurusnya. Yaaa … sudah, ambil saja. Nanti saya bisa foto lagi—dan kamu bisa ambil lagi, hahahaaa.

Mungkin ini yang dipikirkan Mita—orang yang menulis status yang ditelusuri, di-copas oleh Afi. Masalahnya, Mita juga statusnya enggak seratus persen original. Menurut beberapa diskusi yang—akhirnya—saya ikuti di Facebook, status beliau juga banyak yang diedit dari tempat lain. Ini membuat masalah ini jadi tambah sengkarut.

Bagaimana kalau kita pinggirkan saja urusan copas ini karena sudah ribet mau dibahas dan enggak ada gunanya juga? Saya akan membahas yang lebih ada manfaatnya; bagaimana seharusnya unggah-ungguh di sosial media terkait hal ini.

Buat saya, tulisan, sependek dan seremeh apapun, itu milik penulisnya dan penulisnya ini berhak untuk mencantumkan namanya karena itu adalah hasil usahanya. Kalau kamu mau membagikan tulisan temanmu, misalnya, sertakan kredit. Ada dua hal yang jadi alasan; pertama, tentang ijin kepemilikan tulisan itu dan kedua, tentang kesopanan.

Seringkali, saya menemukan tulisan di blog ini diambil idenya dan ditulis ulang. Saya sungguh enggak keberatan dengan itu karena masih ada di tahap ide, belum hasil jadi. Siapapun bisa mengambil ide apapun dari manapun. Kamu tahu apa yang enggak bisa diambil? Kemampuan menyampaikan ide itu dan roh tulisan itu sendiri. Akan sangat mungkin ada dua hal—atau lebih—yang idenya sama tapi akan ada satu dari semuanya yang lebih bisa mengantarkan ide dari bentuk absurd jadi bentuk konkrit; tulisan atau karya lain.

Contohnya film Friends with Benefits dan No String Attached. Dua film ini idenya sama, tayang di waktu yang berdekatan, tapi … No String Attached lebih bisa menyampaikan ide dengan baik. Ini urusannya sudah tentang kelihaian dan kemampuan berkarya. Dua hal yang enggak bisa dicurangi karena dia datangnya dari jam terbang dan pengalaman.

Berikutnya tentang Afi, bully, dan kematangan. Sekarang akun Facebook-nya enggak aktif dan saya paham mengapa dia melakukan itu. Banyak yang membela dan saya juga paham mengapa seperti itu. Saya juga paham tentang usia Afi yang masih muda—saya sering bilang pada penulis baru yang diskusi dengan saya—kalau mereka, anak muda itu, biasanya enggak sabaran. Itu sudah sifatnya. Itu enggak jelek tapi harus dikendalikan.

Sosial media itu kejam, buat saya, ini relatif. Yang menjadikannya kejam, asyik, nyebelin, yaaa … penggunanya. Kalau kamu ada di Facebook dan melihat betapa kejamnya orang-orang di sana kepada Afi, yaaa … saya mau bilang apa, begitulah memang warganet Indonesia. Saya sendiri enggak tahu bagaimana cara mengubahnya. Yang saya bisa lakukan hanya; enggak menjadi seperti mereka—walaupun sering saya begitu juga. Maafkan saya.

Saya enggak setuju Afi di-bully, tapi saya juga enggak setuju kalau tindakannya dibenarkan. Tindakan copas ini salah. Apalagi dia sudah jadi selebritas sekarang. Dia harus diberitahu tentang letak salah tindakannya ini dan dia harus belajar dari peristiwa ini. Berikutnya—kalau menurut saya—sebaiknya dia lanjut sekolah. Afi pintar. Tapi dia perlu diasah. Bukan hanya kematangan mental tapi juga attitude (saya melihat wawancara dia dengan sebuah televisi tentang kasus ini dan dia enggak mengakuinya) dan yang paling penting; pegetahuan tentang apa yang bisa dan enggak bisa dilakukan. Sosial media memang melenakan kalau kamu jadi selebritas di sana; semua tentang banyak likes, shares, dan komentar.

Sayang rasanya melihat bibit baik dimatikan begitu saja. Saya membayangkan begini; Afi itu tinggal di desa, dia punya akses internet yang enggak seperti di kota cepatnya. Begitu pula dengan akses ke buku dan bahan bacaan lain. Tapi dia tetap berjuang untuk itu. Dia banyak membaca. Dia banyak ingin tahu. Dia banyak memikirkan ulang tentang hal yang merisak pikirannya. Ini awalan yang baik. Dia tahu bagaimana mendidik dirinya sendiri. Berapa, sih, dari kita yang seperti itu? Baca artikel sampai habis saja kadang malas.

Saya menemukan beberapa kali artikel yang dishare dan dikomentari hanya dari judulnya saja—seolah judul itu rangkuman isi dalam beberapa kata. Pernah juga saya menemui pertanyaan di bawah tulisan yang menanyakan tentang hal yang sudah dibahas di dalam tulisan itu dengan terang-benderang. Untuk hal ini, saya jawab; baca dulu, ya, tulisannya.

Kecelakaan copas ini seharusnya enggak membuat kita membunuh ramai-ramai apa yang seharusnya bisa ditumbuhkan untuk jadi baik di masa depan. Saya mengatakan ini karena—saya sudah pernah bilang sebelumnya—saya sudah melihat beberapa penulis pemula mati di tangan peluru penulis lainnya, seolah dunia tulis-menulis itu seperti Hunger Games atau Battle Royale. Saya sendiri sekarang mulai menimbang seberapa kuat seseorang menerima kritik dan apa yang bisa dia cerna. Jangan-jangan, dia hanya perlu diapresiasi, bukan dikritik. Ini beda urusan dan cara menghadapinya, soalnya.

Sekali lagi, saya katakan, Afi pintar. Dia akan belajar. Kamu juga harus belajar karena peristiwa ini, dong; tentang copas, apresiasi, dan bullying. Sayang soalnya kalau kasus ini lewat tanpa ada yang bisa diperas barang satu-dua hal dan sekadar jadi bagian dari keributan hari ini saja.

Ngomong-ngomong, bulan lalu, saya sempat puasa ponsel dan sosial media selama sebulan. Banyak yang mau saya ceritakan tentang apa yang saya dapatkan dari pengalaman itu, tapi nanti saja. Salah satunya, saya mau bilang; lebih asyik enggak terhubung dengan sosial media, ternyata. Tapi, lebih asyik lagi kalau kamu bisa menggunakannya dengan lebih bijak.