Pertanyaan yang sering ditanyakan ke saya adalah; bagaimana caranya menulis? Ini pertanyaan sederhana yang jawabannya sama sulitnya dengan; bagaimana sembuh dari patah hati?

 

Orang yang menanyakan dua pertanyaan itu ke saya, bisa jadi akan menyesal ketika mendengar jawabannya karena, untuk pertanyaan pertama; saya akan menjelaskan tentang structuring. Untuk pertanyaan kedua, saya akan bilang; tunggu, tanyakan lagi bulan depan. Saya sudah punya jawaban untuk pertanyaan pertama, jadi mari saya jelaskan.

Saya belajar menulis awalnya dari membaca. Seperti orang yang belajar membuat meja dari melihat, menyentuh, dan mempelajari bentuk meja itu dari luar. Lalu saya mencoba. Membeli kayu, mengukur, memotong, memaku, dan berharap meja itu akan jadi seperti yang saya harapkan. Bertahun saya melakukan itu sampai suatu ketika, saya masuk ke kelas penulisan skenario, lalu kemudian ke kelas Film and Narratives, saya menemukan hal lain yang membuat saya setengah merasa senang, setengah nelangsa; structure. Seperti menemukan bahwa ternyata saya bisa membuat pola. Bahwa saya bisa membuat meja yang sama berkali-kali dengan menggunakan pola tertentu. Bahwa pola ini fool proof. Bahwa saya bisa membuat meja dengan jumlah tidak terbatas dengan satu pola tapi bentuknya akan berbeda karena saya bisa mengganti bahan kayunya, merubah catnya, membuat ukiran baru, atau mencoba mengganti ukurannya.

Catatan ini saya tulis bukan untuk menggurui karena menjadi guru bukan cita-cita saya. Bukan juga karena ingin menunjukkan saya tahu lebih banyak karena setelah semua ini selesai, apa yang saya tahu akan sama banyaknya dengan yang pembaca tulisan ini tahu. Saya hanya ingin mempermudah karena saya sendiri merasa dipermudah setelah belajar hal ini. Atau untuk yang suka petualangan, catatan ini bisa dijadikan sesuatu yang bisa dipatahkan. Kenapa enggak? Masalahnya, untuk membuat hal yang baru dengan menghancurkan hal yang lama, kamu harus tahu apa yang kamu hancurkan. Jangan membabi-buta.

Catatan saya tentang struktur ini tercerai-berai, berserakan, dan enggak rapi. Dengan menyusun kembali di catatan ini, saya berharap bisa membuatnya rapi.

Terakhir, saya enggak ingin tulisan ini dijadikan kitab atau rujukan pasti. Dibaca saja, dilihat saja, diambil mana yang perlu—karena saya pun demikian. Enggak ada cara yang pasti dan paten untuk menulis. Proses kreatif selalu menjadi misteri. Penulis selalu ditanya tentang proses kreatifnya dan jawabannya akan selalu berbeda dari satu penulis ke penulis lain. Tapi, seperti belajar naik sepeda, sebelum akhirnya kamu ingin bergaya-gaya, kamu harus belajar memahami logika keseimbangan. Itu yang ingin saya tunjukkan.

Teknik itu enggak boleh terlihat. Dia harus menyatu; seperti tulang dalam daging. Semua manusia punya struktur tulang yang nyaris sama. Daging dan kulit membuat mereka berbeda. Belum lagi tentang jiwa yang dimasukkan ke dalamnya. Untuk urusan ‘jiwa’ ini, enggak akan ada yang bisa mengajari kamu. Dia misteri. Itu yang akan membedakan penulis bagus dan penulis luar biasa bagus. Tapi pemahaman struktur akan membedakan penulis baik dan penulis sangat baik. Ini belum lagi ada sekelompok kecil penulis yang menggetarkan dan inspiratif. Duh. Rumit, ya?

Catatan ini akan saya buat seperti memecah pola baju. Baju jadi, kita buka jahitannya. Saya jelaskan satu persatu. Semoga saya bisa melakukannya karena dibanding yakin, saya sebenarnya lebih banyak meragukan diri saya.

Terakhir, catatan ini saya buat dengan merangkum, menyarikan, memikirkan ulang, dan mempertanyakan beberapa buku tentang struktur, membaca wawancara penulis, podcast, dan tentu saja dengan membaca novel, menonton film, dan berusaha meraba strukturnya. Jadi, mungkin saya enggak akan membahas hal ini khusus untuk novel saja. Sebagian besar keinginan untuk membuat catatan ini datang untuk diri sendiri. Kalau kamu bisa mengambil satu-dua hal dari sini, silakan ambil. Jangan lupa dibawa pulang.

Oke. Mari kita mulai.