“D ari mana datangnya ide?”

Ini juga pertanyaan yang membuat saya meringis setiap kali akan menjawabnya. Bukan karena saya tidak mau mengatakannya. Bukan itu. Ide itu bukan sesuatu yang tersimpan di sebuah tempat rahasia yang ketika kamu tahu tempat itu, sebaiknya kamu tidak beritahukan ke siapapun. Sekali lagi bukan. Tapi karena ini—lagi-lagi—pertanyaan sederhana yang rumit.

Neil Gaiman menjawab begini: “You get ideas from daydreaming. You get ideas from being bored. You get ideas all the time. The only difference between writers and other people is we notice when we’re doing it.”

Ketika baru belajar dan mulai menulis, saya ingin sekali membuat sesuatu yang menyentuh, yang besar, yang membuat pembaca menganga lebar. Pada akhirnya, saya sadari itu sulit. Cerita tidak melulu harus seperti itu. Cerita bisa sederhana, tapi menyentak. Bisa berjalan lambat dan hening, tapi mengiris tanpa kamu merasa kesakitan.

Kalau kamu pernah membaca cerpen Alice Munro—saya ingin sekali mengulas satu cerpennya yang luar biasa bagus, The Love of A Good Woman—kamu akan melihat bagaimana dia bisa memulai semua dengan lambat, kamu terhanyut, dan mengikutinya tanpa bisa menoleh lagi. Tapi ketika kamu selesai, kamu baru sadar kalau kamu sudah dijerat dan dipermainkan sejak awal. Ini cerpen yang biasa saja, bacaan dengan pilihan kata yang semenjana dan enggak berusaha berbunga-bunga, tapi efek setelah membacanya bertahan sampai berhari-hari.

Saya biasa mengatakan ini, jangan merencanakan kalau cerita kamu itu untuk banyak orang.

Buatlah cerita yang sekiranya bisa menarik satu orang. Ceritakan padanya. Nanti dulu membayangkan ceritamu diterbitkan dan dicetak ulang sampai seratus kali. Nanti dulu. Prosesnya panjang untuk sampai ke sana.

Saya punya satu tokoh imajiner yang menjadi tujuan semua tulisan saya. Yang saya panggil dengan ‘Manteman’ di blog atau ‘kamu’ di tulisan ini. Saya tidak bercerita untuk orang banyak. Saya gugup kalau memikirkan harus begitu. Saya menceritakan pada tokoh imajiner ini—dia punya nama, tapi saya rahasiakan saja, ya—seperti saya bercerita sambil duduk-duduk dan minum kopi. Berharap dia menyukainya.

Elizabeth Gilbert di buku Big Magic: Creative Living Beyond Fear (dan di salah satu TED Talks-nya), bicara bahwa ide itu dulunya dipercaya seperti hantu yang mengambang di awang-awang. Mereka terbang mencari tempat untuk hinggap. Kamu tahu kalau dia hinggap. Kamu tahu kalau kamu ‘kesetanan’ ide itu. Karena itu, ini saya kutip dari Big Magic:

“I only rarely experience this feeling, but it’s the most manificent sensation imaginable when it arrives. I don’t think there is a more perfect happiness to be found in life than this state, except perhaps falling in love. In ancient Greek, the word for the highest degree of human happiness is eudaimonia, which basically means “well-daemoned”—that is, nicely taken care of by some external divine creative spirit guide. (Modern commentators, perhaps uncomfortable with this sense of divine mystery, simply call it “flow” or “being in the zone.”

Lalu, dari mana kamu bisa mendapat ide yang membuat ‘kesetanan’ itu? Kalau saya, sih, pertama … berdo’a. *lalu dikeplak* Tapi ini serius. Berdo’a. Hahahaaa…. Ide juga rezeki.

Saya—entah mengapa—kadang punya perasaan bahwa ide itu seperti huruf-huruf yang mengambang di depan pintu kamar saya setelah tengah malam. Yang kedatangannya enggak akan saya sadari kalau saya tidur sampai pagi. Lebih mudah menangkap mereka setelah dini hari karena ketika saya bertanya tentang apa yang mereka bawa, mereka akan bicara dengan suara lirih yang bisa saya dengar. Saya menulis memang di dini hari sampai menjelang terang karena—saya enggak tahu apa ada yang punya kebiasaan serupa—kalau saya sedang berpikir, saya ingin bisa mendengar suara saya sendiri yang sedang berdialog dengan diri saya sendiri di dalam kepala saya. Masalahnya, kalau saya berteriak di kepala saya sendiri, volumenya sama dengan ketika saya bicara biasa. Di siang hari, suara saya ini kalah dengan hal lain, televisi misalnya.

Kalimat di atas itu lebih sederhana kalau dituliskan dalam bahasa Inggris; I need to hear my own voice in my head while I’m thinking.

Yang kedua; bertanyalah pada dirimu sendiri, apa yang ingin kamu ceritakan?

Kata Maya Angelou di buku I know Why Caged Bird Sings: There is no greater agony than bearing untold story inside you.

Selalu ada yang ingin kamu ceritakan dan kalau kamu punya cerita—enggak besar pun, enggak masalah—yang kamu terpaksa simpan, dadamu akan terasa sesak. Ini yang kemudian jadi dasar pemahaman saya tentang sosial media—agak belok sedikit enggak apa-apa, ya. Di sosial media, kamu dimudahkan untuk bercerita; kamu menulis status tentang apa yang kamu pikirkan, rasakan, temukan, alami, dan banyak lagi. Memberi komentar untuk peristiwa yang sedang atau pernah terjadi.

Saya bersyukur bahwa kepala kita dan isinya itu mustahil dimasuki orang. Mereka hanya bisa menebak tapi enggak akan bisa mengetahui dengan pasti seluruh isinya. Kepala saya selalu berisik dengan tokoh rekaan yang mengobrol satu dengan lainnya, atau kadang saya bicara pada mereka, atau kadang saya membiarkan salah satu dari mereka mengatakan apa yang dia mau dari saya—apa yang harus saya ceritakan tentang dia. Karena itu kepala saya berisiknya minta ampun dan isinya tidak selalu baik. Kamu bisa mencari ide di sosial media, sebenarnya, karena di sana, banyak orang yang menuliskan apapun yang ada di kepala mereka. Kamu juga bisa mengambil rujukan karakterisasi dengan melihat bagaimana orang tertentu berinteraksi. Karakterisasi lebih luas dari ini, sih. Tapi untuk permulaan, bisa seperti ini. Anggap saja; riset. Hahahaaa.

Kalau kamu tidak punya sesuatu yang spesifik ingin kamu ceritakan dan kamu ingin membuat cerita; pakai “what if”. Ini cara mudah.

Misalnya, kamu punya karakter yang ganteng, wangi, dan mapan. Kamu sudah menciptakan karakter lebih dulu sebelum cerita. Kamu bisa tanyakan; bagaimana kalau tokoh ini mendadak punya sayap tapi tidak bisa terbang? Terus karena sayap ini, orang-orang menghindarinya dan menganggapnya hantu? Dia punya tunangan yang sedang menyiapkan pernikahan mereka. Lalu, bagaimana dengan tunangannya ini? Bagaimana dengan pernikahan mereka?

Ini bisa jadi cerita.

Pikirkan kamu ingin bercerita tentang apa, ya. Cerita tentang cowok ganteng bersayap ini akan saya jadikan contoh pengembangan premis sampai ke outline selanjutnya.

Jadi, pikirkan idemu. Kita akan ketemu lagi di bab selanjutnya; premis.