2. Premis (Bagian-1)

by | Jun 7, 2017 | Story Structure, Storytelling | 2 comments

Setelah ide, lalu apa?

Premis.

Saya jawab begini karena saya mau kamu paham bahwa ide itu bukan cerita—sementara kamu seharusnya menceritakan cerita, a story. Bukan ide apalagi konsep. Saya mau baca cerita, bukan baca kamus apalagi laporan penelitian.

Premis akan menjadi tulang belakang yang membuat cerita kamu tetap ada di bentuk yang kamu inginkan (atau dalam kebanyakan kasus saya; dalam bentuk yang seharusnya saya buat karena di tengah proses menulis, sering kali saya lebih tertarik untuk menceritakan ide dan konsep dibanding cerita itu sendiri).

Harry Potter, misalnya, idenya adalah tentang sekolah sihir dengan segala macam world building yang memukau. Seandainya Rowling enggak pandai bercerita—dan syukurlah Tuhan, dia pandai—yang akan kita temui bukan cerita tentang Harry Potter, pencarian diri, dan persahabatan, tapi dunia besar Hogwarts, sihir, dan segala rupa hal-hal aneh dan menarik lainnya. Kita akan terbawa dari bab ke bab yang seolah Rowling berteriak, “Hey, lihat, ini Hogwarts! Keren, toh? Ini sihir levitasi! Luar binasa, kan? Yang ini, sini … sini, Hagrid! Macho, kan?”

Tapi, kan, enggak. Semua world building itu dibuat untuk mendukung penceritaan, bukan cerita itu sendiri. Ibarat panggung, world building itu ada untuk menjadi segala sesuatu di panggung yang membuat Harry bisa menceritakan diri dan petualangannya. Harry lebih penting. Harry, persahabatan, petualangan, dan jalinan semuanya menjadi cerita, itu lebih penting. Hogwarts ada di sana untuk mendukung penceritaan, bukan cerita itu sendiri. Itu yang membuat Harry Potter ini menjadi cerita yang luar biasa. Saya membaca ketika SMA dengan cara pikir anak SMA, saya mendapat sesuatu. Ketika saya baca lagi sekarang, dengan cara pikir saya sekarang, saya melihat ceritanya dengan sudut pandang yang berbeda. Tapi keduanya sama menarik dan luar biasanya. Karena ini juga, saya enggak suka ngasih spoiler Harry Potter karena akan selalu ada orang yang membaca Harry Potter untuk pertama kali.

Jadi, premisnya Harry Potter apa?

Ini harus penulisnya sendiri yang jawab, sih. Hahahaaa…. *mengelak*

Tapi kalau buat saya, untuk buku pertama; Harry Potter and the Sorcerer’s Stone, premisnya:

Harry Potter and The Sorcerer's Stone

Harry Potter (11 tahun), yatim-piatu yang menerima surat penerimaan murid dari Hogwarts lalu bersekolah di sana dan menemukan dirinya ternyata seorang penyihir yang terkenal, menemukan rahasia The Socrerer’s Stone dan menyelamatkannya dari Prof. Quirrell yang ternyata jahat.

Anatomi premis itu, seperti ini:

[When] some event sparks a character to action, that [character acts] with deliberate purpose [until] that action is opposed by an external force, [leading to] some conclusion.

Premis yang kamu buat, seharusnya, memperlihatkan tiga hal;

1. Protagonisnya dan masalah ada yang datang,

2. Apa yang kemudian dia lakukan,

3. Masalah membesar dan ‘menyerang balik’, membuat dia harus melakukan sesuatu yang lain,

4. Penyelesaian.

Dari premis itu, setidaknya akan kelihatan:

1. [When] some event sparks a character to action –> ini akan jadi bagian opening dan first act. Harry Potter mendapat surat dari Hogwarts dan tahu kalau dirinya penyihir. Romeo dan Juliet dari keluarga terpandang dan mereka bertemu.

2 . [Character acts] with deliberate purpose –> ini akan jadi first half of the second act. Jadi di bagian second act (atau tengah, kalau menggunakan istilah ‘drama tiga babak; pembukaan, tengah, penutupan) akan dibagi dua; pertama bagaimana protagonis bereaksi terhadap masalah. Bentuknya bisa pelarian atau penolakan, kalau di film dengan master plot heroes journey, bagian ini masih diisi dengan hero/heroine mempertanyakan tentang dirinya dan apa yang harus dia lakukan atau berlatih di padepokan. Di Harry Potter, bentuknya masih Harry yang belajar sihir dan mengenali Hogwarts, kehidupan di sana, dan dirinya sebagai penyihir. Romeo dan Juliet tahu kalau mereka enggak bisa menikah tapi sudah kadung jatuh cinta. Di sini masalah datang, antagonis memperlihatkan bentuknya, tujuan protagonis dijelaskan, dan konflik mulai terbuka.

3. [until] that action is opposed by an external force –> ini second half of second act; bagian di mana protagonis sudah harus secara aktif menyelesaikan masalah. Harry Potter mulai menyelidiki Sorcerer’s. Romeo dan Juliet memutuskan kawin lari.

4. [leading to] some conclusion —> penyelesaian, the third act, harfiahnya penyelesaian; masalah dibawa ke klimaks lalu diselesaikan. Entah dengan happy ending, sad ending, atau open ending. Harry Potter mengalahkan Prof. Squirrels. Romeo dan Juliet mati berpeluk di ranjang.

Kalau hanya semacam; saya mau bikin cerita tentang sekolah yang mengajarkan manusia untuk mengolah manusia … canibal’s culinary school, itu masih ide. Atau, melanjutkan contoh yang kemarin; saya mau bikin cerita tentang cowok bersayap super kece. Ini baru ide.

Premisnya—setelah saya pikir-pikir—mau saya buat seperti ini:

Alex (26 tahun) cowok kece, ganteng, mapan, yang bangun di suatu pagi dan menemukan kalau di belakang punggungnya ada sayap, dia akan menikah dengan Nina (24 tahun) dan ini membuat rencana pernikahannya rusak, lalu dia menemukan bahwa sayap itu bisa dihilangkan karena itu adalah kutukan, sampai ketika Alex menemukan bahwa Nina—yang juga punya sayap—yang mengutuknya karena dendam masa lalu dan dia harus berhadapan dengan Nina untuk menyelamatkan hidup dan cintanya, mano-y-mano.

Dari premis, kita akan masuk ke pengenalan struktur dan konstruksinya. Mungkin saya akan buatkan dulu diagram besarnya, setelah itu baru dijelaskan satu persatu.

Jadi, apa premis cerita kamu? 

Credit for picture: unsplash.com

Credit for icons: flaticon.com