It’s Called Breakup Because It’s Broken

by | Jun 13, 2017 | Ceracau Pagi, Love & Relationship, Non Fiksi | 4 comments

Sebenarnya, saya agak malas menulis topik ini. Bukan karena menyakitkan untuk ditulis, bukan. Saya tahu kalau saya punya ambang batas rasa sakit yang rendah sekali. Saya enggak tahan sakit. Saya mudah menangis.  Saya mudah jatuh sayang pada apapun. Tapi sepertinya, orang patah hati menarik kedatangan orang patah hati yang lain. Jadi, saya pikir; sebaiknya saya tuliskan saja agar selesai dan jelas apa yang saya pikirkan tentang ini. Di tulisan ini, saya juga bilang, “Tanyakan lagi bulan depan.” Anggaplah sekarang ‘bulan depan’ itu.

So please, take all this with a grain of salt.

“Karena,” dia terdiam sebentar, memandangi saya, lalu melanjutkan, “bagaimana gue bisa mengurus elo kalau gue belum bisa mengurus diri gue sendiri?”

Begitu katanya ketika malam itu saya tanyakan tentang mengapa hubungan kami seperti ini. Saya pernah menceritakan tentang cowok ini karena beberapa waktu lalu saya—tiba-tiba saja—mengingatnya dan kuatir sekali. Ingatan itu membawa banyak hal ternyata. Termasuk tentang; bagaimana kenangan itu punya bentuk lain ketika saya mengingatnya sekarang ini. Bentuk itu berubah lagi setelah saya menulis dan membaca ulang tulisan saya sendiri. Sebelumnya, saya tahu kalau dia manis, tapi saya enggak pernah menyangka kalau dia sebenarnya semanis itu.

Satu hal yang enggak saya ceritakan di tulisan sebelum ini; tentang alasan lain yang jadi pertimbangan mengapa dia datang, pergi, dan enggak pernah membawa hubungan kami ke titik yang mana seharusnya, di usia segitu, sudah bisa serius. Dia bilang, “Untuk meminimalisir resiko patah hati.” Bagian ini, sungguh, enggak ingin saya ceritakan karena, hmm … ini terlalu berharga dan kalau saya cerita, kamu pasti bertambah suka padanya. Dia akan jadi tambah manis buatmu karena untuk saya saja, dia sudah jadi saccarinedan bukan lagi gula—sekarang ini.

Dia cerita bahwa dia enggak pacaran dengan orang lain karena dia masih menunggu sampai saat yang tepat, di mana dia merasa sudah bisa membahagiakan saya. Dia ingin punya pekerjaan bagus, masa depan yang baik, dan kondisi mental yang siap untuk ada di samping saya. Bukan hanya si Tuan yang tahu kalau saya ini agak sulit diurus, dia pun tahu. Bukan hanya si Tuan yang tahu kalau dia punya jadwal beberapa puluh malam dalam setahun untuk menemani saya menangis karena hal-hal kecil, dia pun tahu. Itu jadi alasan untuk dia menjaga jarak.

“Lo inget waktu liontin kalung lo hilang?” tanyanya.

Suatu ketika, saya pernah main dengannya di hutan kota sesorean dan pulang dari sana, saya baru sadar kalau kalung saya putus dan liontinnya hilang. Itu kalung kesayangan saya. Saya pun meneleponnya. Minta diantarkan mencari. Kami kembali ke hutan kota menjelang malam dan yang terjadi; saya jongkok di tepi jalan sambil menangis, dia mencari liontin itu dengan senter sambil menghibur saya.

“Itu baru liontin yang hilang. Bagaimana kalau yang hilang itu orang yang lo sayang?” tanyanya lagi.

Saya tertawa. Itu masuk akal.

“Bagaimana kalau terjadi sesuatu dan kita berantakan?” Saya berhenti tertawa. Ini pertanyaan serius, sepertinya. “Berapa lama lo bakalan menangis?”

Dia datang, pergi, dan datang kembali itu dengan pertimbangan dan takaran yang pas untuk membuat saya enggak melupakannya dan dia pun begitu. Cukup sampai di situ. Kalau dia sudah siap, dia akan datang untuk enggak pernah pergi lagi. Tapi sayangnya, perhitungan taktis seperti itu mengalahkan satu hal lain yang enggak bisa direncanakan; takdir dan jodoh.

Tapi ada satu hal yang sangat saya syukuri—dan kemudian saya juga sesali—dari itu semua; saya jadinya enggak pernah patah hati romantis.

It’s called breakup because it’s broken

Tahun lalu, saya sempat ingin menulis cerita tentang patah hati tapi maju-mundur, tulis-hapus, karena … saya enggak tahu rasanya. Saya bisa membayangkan tapi saya enggak tahu bagaimana bentuknya. Setiap kali saya selesai menuliskannya, saya baca ulang, saya tahu itu enggak genuine. Saya menulis sesuatu yang bohong; yang saya bayangkan tapi enggak pernah saya rasakan. Buat saya, menulis itu juga tentang kejujuran dan sudut pandang. Dua hal yang enggak saya punya dari patah hati.

Saya sudah enggak bisa patah hati romantis. Mungkin, sih, tapi si Tuan itu … ah, saya punya banyak yang bisa diceritakan tentang dia tapi nanti kamu jadi suka sama dia karena buat saya sekarang, dia lebih dari saccarine. Awalnya, saya menganggap bahwa patah hati itu yaaa … cuma untuk urusan cinta. Tapi ternyata enggak karena cinta enggak perlu selalu romantis. Enggak lama dari betapa saya stress tentang urusan patah hati ini, saya pun dipertemukan dengan seseorang yang meminjamkan saya waktunya untuk bersama beberapa bulan, dan untuk dibuat patah hati di akhir tahun.

Ini yang pertama karena itu pedihnya luar biasa. (Teman-teman yang saya jadikan tempat curhat ketika hal ini terjadi pasti ketawa ngakak baca cerita saya sekarang ini. Betapa waktu itu banyak hal bodoh yang saya lakukan.)

Lalu, saya pun dipertemukan lagi. Kali ini saya berhati-hati. Saya katakan padanya, “Jangan buat saya patah hati.” Tapi itu terjadi juga. Hmm, sebenarnya untuk yang ini, saya yang pergi sebelum semuanya tambah berantakan.

Sekarang ini, saya pun dipertemukan lagi. Saya enggak berhati-hati. Saya biarkan apapun yang ingin dia lakukan. Saya juga enggak bilang untuk jangan membuat saya patah hati. Tapi saya tahu, saya punya firasat kalau itu akan terjadi beberapa bulan lagi. Saya menunggu. (Kalau dia baca ini, dia pasti akan langsung menghubungi saya dan minta penjelasan. Hahahaaa….)

Dua patah hati yang terdahulu membuat saya jadi bisa mempelajari pola dan cara untuk bagaimana keluar dengan selamat. Lagi-lagi, ini ternyata enggak seperti yang awalnya saya pahami. Di patah hati yang pertama, saya pikir, cara untuk keluar dengan cepat adalah dengan mencari pengganti. Ini benar. Tapi ini juga sebagian besarnya salah karena pengganti hanya distraksi. Dia enggak benar-benar membuatmu sembuh. Apalagi ketika itu, kamu ada di kondisi yang enggak baik. Kamu menerima apapun yang datang. Di sini masalahnya.

Seperti namanya, distraksi itu hanya akan membuatmu lengah sementara waktu. Ketika kamu sendirian, pikiranmu akan kembali padanya. Kamu akan kembali mempertanyakan dan kamu akan menghancurkan harga dirimu sendiri dengan jawaban-jawaban yang kamu buat sendiri.

Di patah hati yang kedua, saya melakukan hal lain. Saya memikirkan bagaimana cara, bukan untuk sekadar keluar, tapi untuk bangkit. Not only to get out of that, but to emerge. Beberapa waktu berlalu, saya menemukan jawabannya; saya harus membuat progress untuk hal yang lebih saya cintai dibanding itu semua.

Saya enggak akan bilang kalau mereka ini—para heartbreaker ini—enggak baik, ya. Mereka manis. Percayalah. Saya lebih banyak bercerita tentang betapa hebat dan manisnya mereka bahkan setelah kejadian itu. Waktu yang saya habiskan dengan mereka pun lebih banyak yang menyenangkan dibanding yang enggak.

Tentang urusan saya akhirnya menceritakan ini (awalnya saya enggak ingin), saya pernah katakan sebelumnya bahwa dalam hubunganmu dengan orang lain dan kalau hubungan itu harus hancur, kenangan itu tetap milikmu tapi cerita yang kalian berdua bagi, itu tetap jadi milik kalian berdua—semacam gono-gini kalau kalian menikah dan bercerai. Jadi saya melakukan semacam sita marital; membekukan aset agar enggak disalahgunakan.

Ini juga yang kemudian jadi alasan mengapa saya menghapus banyak hal yang saya dan mereka kerjakan berdua; karena ini milik kami berdua. Sebagian memang karena saya ingin melupakan sakitnya. Tapi lebih banyak karena saya ingin itu tetap jadi milik kami berdua. Jadi kalau saya suka sekali dengan satu-dua pekerjaan yang kami selesaikan di waktu kami masih bersama—ini saya pukul rata saja sih, pokoknya semua yang saya kerjakan berdua di masa itu—saya akan minta ijin padanya; apa saya boleh publish?

Saya punya satu cerpen yang luar biasa saya suka. Kadang, saya sampai baca berkali-kali kalau saya ingin menulis cerpen lain dengan ‘nyawa’ seperti itu karena saya tahu, ini yang paling bagus yang pernah saya tulis. Yang setelah saya tulis, saya sampai ngehang cukup lama karena lepasan beban emosinya—nyaris seperti trance. Tapi cerpen itu enggak pernah saya publish lagi karena sebagian dari itu, miliknya juga.

Kalau tentang kenangan, tentang apa yang saya tulis di sini, itu milik saya karena saya menuliskannya dari sudut pandang saya. Jadi, saya akan menuliskannya tanpa minta ijin lebih dulu. Tapi saya pastikan, saya enggak menuliskan apa yang memang ‘jadi milik kami’. Ini semacam; cerita rahasia, obrolan menyenangkan atau menyakitkan, dan lainnya. Saya pernah mendapat pertanyaan tentang ini dan itu jawaban saya; tulis kenangan yang kamu punya, bukan apa yang kalian punya.

Sulitnya move on itu sebenarnya karena hal ini, kan? Karena kamu masih berharap ada di dalam keadaan itu sementara kenyataannya enggak lagi seperti itu. Kamu masih berharap apa yang kalian punya belum jadi kenangan.

Saya pun kembali ke hal paling dalam yang saya cintai karena patah hati, apapun bentuknya, bukan hanya mematahkan hatimu, tapi lebih dari itu; harga dirimu. Kamu jadi mempertanyakan banyak hal dan yang paling sering saya tanyakan pada diri saya sendiri: Apa saya berharga? Apa yang saya lakukan ada harganya? Apa ini keputusan yang salah? Apa hal ini salah karena ini rasanya sakit?

Saya mau bilang ini; sakit itu bukan pertanda keputusanmu salah, bisa jadi itu penanda titik di mana kamu harus tumbuh dan tetap berjalan ke arah yang lain. Kamu enggak akan tahan rasanya, saya tahu, percayalah. Kalau cinta itu adalah hal mendasar yang menjadi alasan penciptaan (karya atau apapun) maka sakit karena cinta itu sudah pasti unbearable—enggak tertahankan. Apapun jenis cintanya. Tapi ada satu cinta yang enggak akan menyakitimu; cintamu pada hal yang kamu kerjakan dan jadi landasanmu melakukan dan mencintai banyak hal lain.

Ketika saya patah hati (lagi), saya kembali ke hal yang saya paling cintai dibanding semuanya—dan juga yang jadi alasan semua terjadi; menulis.

Saya menulis, lebih banyak dari biasanya, lebih lama dari sebelumnya. Saya enggak pakai ponsel sebulan lebih setelah itu dan apa yang saya lakukan selama itu; membaca, menonton, dan menulis—lebih banyak, lebih rakus, lebih enggak tahu waktu. Setiap kali saya membuat progress, saya seolah memungut lagi kepingan hati saya yang berceceran di lantai. Saya membentuknya ulang. Saya enggak melakukan ini untuk membuat hati saya kebas karena seperti tangan saya, hati dan otak itu dua hal yang membuat saya bisa menulis. Saya enggak bisa kebas. Saya harus merasakannya. Kalau harus menulis sambil menangis, yaaa … saya melakukannya. Tapi, saya harus membuat progress. Itu yang saya katakan pada diri saya sendiri. Setiap kepingan yang hancur itu harus saya kumpulkan lagi. Hati dan logika saya harus kembali dulu. Saya harus waras dulu. Saya harus menyelamatkan diri saya dulu.

Hari demi hari, saya melewatinya dan menjadi lebih jernih melihat ini semua. Progress yang banyak tadi, membuat harga diri saya kembali, ini yang paling penting. Saya jadi lebih baik. Ini juga membuat beberapa orang lain jadi ‘melihat’ saya—sebelumnya mereka enggak ‘ngeh’ kayaknya.

Saya pernah bilang ini pada seorang teman yang juga patah hati dan mencari pengganti untuk distraksi; kalau kamu mencari pengganti sekarang, kamu akan menemukan orang di level kamu sekarang. Keadaan dia waktu itu enggak baik, dia akan menarik orang yang keadaannya—bisa jadi—sama.

Saya katakan padanya, “Kalau pendekar dengan ilmu tinggi itu akan mengenali pendekar dengan ilmu tinggi lainnya.” Dia harus kembali ke kondisi dirinya yang paling baik atau—kalau bisa—lebih baik, baru mencari pengganti. Merekatkan hati yang patah dengan jatuh cinta kembali itu mudah, tapi, kamu jatuh cintanya sama siapa dulu? Kamu yang hancur itu punya resiko untuk jatuh cinta dengan orang yang sama hancurnya.

Jadi, saya katakan padanya; jadilah hebat dulu agar nanti, berikutnya, kamu akan jatuh cinta pada orang yang sama hebatnya. Yang ada di levelmu. Yang setelah menemukannya, kamu bersyukur kalau kamu sudah menunggu. Penantian dan usahamu itu enggak akan mengkhianatimu.

Saya akan katakan juga pada kamu yang sedang patah hati; rasakan saja, jangan dihindari. Kamu bisa patah hati, itu pertanda kalau kamu masih punya hati. Lalu lakukan hal lain. Buat progress. Apapun. Pilih hal yang paling kamu cintai atau ingin lakukan. Enggak melulu mesti berkarya dan membuat sesuatu seperti yang saya lakukan. Ini bisa apa saja; sekolah, nge-gym, pekerjaan kantor,  hapalan, apapun. Buat dirimu jadi lebih berharga. Jadi lebih baik.

Setiap kali saya menyelesaikan satu karya, saya biasanya merasa puas. Menulis buat saya selalu saja seperti petualangan mengalahkan ketakutan saya sendiri karena itu rasanya mirip adrenalin rush. Kamu pun pasti punya hal yang semacam ini, kan? Lakukan. Jangan lari. Jangan pergi liburan untuk melupakan. Pergilah liburan untuk membuat dirimu jadi orang yang lebih baik lagi. Jadilah pendekar. Asah pedangmu. Berlatihlah sampai kamu harus punya sakabatou—ini pedang Himura Kenshin yang bagian tajamnya dibalik karena di level ilmu yang dia punya, dengan bagian tumpul pun, dia bisa mengalahkan musuh dengan mudah.

“Bagaimana kalau terjadi sesuatu dan kita berantakan?” Saya berhenti tertawa. Ini pertanyaan serius, sepertinya. “Berapa lama lo bakalan menangis?”

Pertanyaan ini menghantui saya beberapa hari belakangan karena saya baru menyadari sesuatu; dia membalik semua ini. Dibanding patah hati dan kemudian bangkit untuk jadi lebih baik, dia lebih memilih untuk jadi lebih baik dan enggak patah hati. Dia lebih memilih untuk pergi dan menunggu. Saya pun, ketika itu, melakukan hal yang sama. Tapi hebatnya, kemudian kami menemukan orang yang tepat. Semua usahanya terbayar dengan orang lain yang memang—sepertinya—diciptakan untuknya. Saya pun di sini, bersyukur bahwa saya pernah setengah mati ingin jadi lebih kuat karena kalau enggak, si Tuan enggak pernah akan ‘ngeh’ dengan keberadaan saya. Kalau sudah begini, hati mana yang mau patah?

Ini bukan tentang kata-kata yang populer itu; semua akan indah pada waktunya. Buat saya, ini semua indah. Kamu mungkin perlu bergeser sedikit akan bisa melihat ke luar jendela. Waktu yang tepat untuk membuat semua indah itu, yaaa … sekarang. Saat ini.

“Berapa lama lo bakalan menangis?”

Saya enggak pernah menangis karena dia—dan saya menangis ketika menyadari ini; saya dan dia lebih sibuk untuk jadi lebih kuat dan baik dari hari ke hari. Itu juga yang membuat ketika saya melihatnya menikah dan dia pun melihat saya menikah, enggak ada sesal sedikit pun karena saat yang indah itu selalu terjadi, setiap waktu, ketika saya dan dia berusaha untuk jadi lebih baik, setiap kali. Saya sangat berterimakasih padanya untuk ini. Untuk membuatnya jadi seperti ini. Saya tahu dia dewasa, tapi saya baru tahu kalau dia juga bijak. Hahahaaa.

Kalau kamu patah hati, berlatihlah. Sampai kamu harus punya sakabatou. Agar yang datang berikutnya adalah orang yang sama kuat dan baik seperti dirimu. Ini cara tercepat dan paling waras untuk menjahit ulang hatimu yang berceceran di lantai seperti perca.

Don’t just get out; emerge!

Oh, tentang liontin itu; enggak pernah ketemu. Tapi obrolan malam itu jadi pengganti yang sama berharganya.

PS:

Ada yang memaksa saya menjawab pertanyaan ini, jadi … baiklah. Saya jawab biar kamu senang. Hahahaaa.

Q: Apa waktu menyembuhkan?

A: Ah, buat saya, sayangnya enggak. Ini tentang keikhlasan menerima apa yang datang dan pergi—dan mungkin—kembali.