The Messiness of Human Connection

by | Jun 15, 2017 | Ceracau Pagi, Love & Relationship, Non Fiksi | 0 comments

Beberapa waktu belakangan, saya teringat lagi dengan seorang teman  gadis yang pernah meminta pendapat, “Apa kalau kita suka dengan seseorang, kita seharusnya mengatakannya?” Waktu itu, saya jawab, “Jangan.”

Pertimbangan saya waktu itu; bagaimana hati gadis ini kalau bujang itu mengatakan yang sebaliknya? Kalau dia enggak suka? Waktu berlalu dan saya melupakannya sampai saya ditanyakan lagi hal yang serupa, “Haruskah dikatakan?” Saya masih bilang, “Jangan.” Tapi kali ini dengan tambahan, “Kecuali kamu siap dengan segala resikonya.” Yang kali ini, dikatakan juga, dan akhirnya baik walaupun mereka enggak jadi menikah.

Saya ingin melihat lagi semua yang saya pahami tentang hal ini karena setelah membaca beberapa tulisan di blog ini, saya ditanya lagi oleh seorang teman gadis (yang lain) lewat surel, “Haruskah bilang?” Kali ini saya belum juga memberi jawaban pasti karena saya sendiri masih bertanya, “Apa seharusnya hal seperti itu sebaiknya dikatakan? Kalau memang harus dikatakan, untuk siapa? Untuk yang mengatakan agar perasaannya lebih ringan atau untuk yang dikatakan agar dia tahu, menimbang, dan mungkin menyadari—atau mungkin mengakui—perasaannya sendiri?

“Kalau aku bilang ini, apa kita akan berakhir buruk nantinya?”

Pertanyaan ini ada di depan saya, di penampang ponsel saya, dan saya—sepertinya tahu—apa yang akan dia ketikkan beberapa waktu kemudian.

Saya balas, “Apa berat?”

Dia jawab, “Iya.”

“Apa kalau dikatakan akan berkurang beratnya?”

“Sepertinya begitu.”

“Apa ini sekadar tentang ‘mengatakannya’ saja?”

Dia jawab, “Ini pengakuan, jadi jawabnya, iya.”

Saya enggak dekat dengannya. Saya hanya beberapa kali bertemu. Tapi dia selalu bilang kalau dia suka cara saya berpikir. Saya bilang, “Saya menulis untuk merunutkan pikiran. Yang saya tulis, biasanya, tentang perasaan.”

“Kebanyakan orang menulis untuk menunjukkan kalau dia punya pendapat atau paham tentang hal tertentu. Kamu enggak,” balasnya.

“Aku enggak punya pendapat?” tanya saya.

“Bukan,” jawabnya. “Kamu punya. Banyak. Sayangnya, kadang enggak memutuskan mana yang lebih kamu percaya.”

“Doubter?”

“Pragmatis,” jawabnya.

Tulisan ini pun sepertinya hanya akan berisi kumpulan dari banyak hal yang enggak bisa saya putuskan mana yang akan saya percaya.

Saya teringat kejadian itu karena hari ini, saya memikirkannya ulang. Memang kalau ada yang bertanya pada saya tentang suatu hal, jawaban akan saya pertimbangkan kasus-perkasus. Membuat saya seperti enggak punya pendirian, sebenarnya.

Akhirnya saya membalas juga surel itu setelah beberapa lama berpikir.

“Buatku, harusnya dikatakan,” saya melanjutkan dengan alasan, “karena aku tahu apa yang ditakutkan; penolakan. Sayangnya, aku memahami cinta bukan tentang menolak atau menerima,” kata saya pada teman gadis ini.

“Lalu apa?”

“Itu perasaan.”

“Iya, lalu?”

“Penolakan atau penerimaan itu tentang kepastian. Sementara perasaan bukan tentang itu; tapi tentang pemuasan.”

Seperti kamu sedih dan menangis agar sedihmu terpuaskan karena sudah dikeluarkan. Kamu mengatakan kalau kamu cinta pada seseorang agar sesak dadamu bisa terlapangkan.

“Sekarang aku tanya balik,” kata saya padanya. “Kamu ingin yang mana? Kepastian atau pemuasan?”

“Kepastian,” jawabnya.

“Kalau begitu, katakan.”

Gadis yang ini, menerima penolakan. Hubungan dia dengan bujang yang dia suka itu berakhir buruk. Lelaki itu menjauhinya. Apa yang lebih buruk dari penolakan? Dijauhi. Tapi saya juga berusaha melihat dari sudut pandang lelaki itu. Bisa jadi, dia melakukan itu agar gadis ini, bisa melepaskan apa yang dia rasakan lebih cepat. Sayangnya, lelaki itu melakukannya seperti menarik seketika paku yang menancap ke telapak kaki. Sakitnya luar biasa tapi hanya sebentar, memang.

Selama ini, saya selalu berpikir bahwa perasaan seharusnya disederhanakan karena kalau enggak, rumitnya bisa meledakkan kepalamu.  Menulis tentang perasaan sama sulitnya dengan memikirkannya. Kalau kamu suka menulis, kamu tentu menyadari kalau perasaan enggak punya kata sifat yang bisa menjelaskan bagaimana rasa dari perasaan itu sendiri sehingga ketika kamu menjelaskannnya, kamu menggunakan deskripsi yang biasa digunakan untuk menggambarkan hal fisik.

Misalnya, ketika kamu patah hati, dadamu rasanya sakit. Kamu menyamakan rasa sakit itu dengan sakit ketika tanganmu terluka, misalnya, atau ketika kakimu patah. Ketika kamu merindukan seseorang, kamu menyamakannya dengan perasaan lelah seperti berlari tapi enggak juga menemukan ujung. Kamu enggak tahu di mana ujungnya walaupun kamu tahu bentuk ujung itu; pertemuan dengan orang yang kamu rindukan.

Kadang saya berpikir, bisa jadi, ini yang membuat ketika sakit perasaan itu sudah enggak tertahankan, kamu memindahkan sebagiannya jadi sakit fisik; kamu membenturkan kepalamu atau memukul dada lelaki yang mengkhianatimu ketika kamu menangis karena sakit pengkhianatan itu kamu ingin dia rasakan di dadanya juga. Ketika kamu sudah dalam sekali mencintai seseorang, kamu memerlukan hal lain untuk menjelaskannya; sampai di sini, kita bicara sentuhan fisik seperti ciuman atau seks—dan ini mau saya tunda di kali lain saja, ya. Ini rumit soalnya karena bisa jadi juga, sentuhan fisik bukan tentang apa-apa.

Kalau saya suka pada seseorang, saya akan mengatakannya. Kalau saya sayang padanya, saya akan mengatakannya. Kadang itu bukan tentang saya ingin hal lain, yang lebih. Saya hanya ingin sekedar dia tahu dan untuk beberapa orang tertentu, saya ingin dia tahu kalau saya ada dan bisa dia andalkan. Saya mengatakannya pada teman, sahabat, siapa saja; enggak memilih lelaki atau perempuan. Sejauh ini, enggak ada yang romantis. Saya pastikan padanya—kalau dia lelaki—itu enggak romantis. Saya hanya ingin ini jadi sederhana, jelas, dan enggak akan berakhir sakit nantinya.

Apa hati cukup luas untuk itu semua?

Ini juga jadi pertanyaan yang bisa saya jawab dengan; cukup, kalau kamu tahu cara membaginya. Tapi hanya bisa ada di satu cinta romantis setiap kali—dan saya masih ada di dalam cinta romantis yang sama setelah sepuluh tahun berlalu. Ini sepertinya karena saya juga enggak punya sisa hati untuk dibagi kalau untuk yang satu itu. Beberapa orang bisa ada di beberapa cinta romantis sekaligus, yang mana, biasanya lelaki—kebanyakan. Yang mana (lagi), biasanya enggak dalam besaran yang sama untuk setiapnya. Yang baru tentu lebih dicintai, yang lama, bisa jadi hanya tertinggal sayang dan hormat. Cinta yang menggebu itu berpindah, bukan dibagi.

Beberapa waktu lalu, saya berbincang dengan salah seorang teman yang menceritakan tentang suaminya. Mereka sudah menikah empat tahun, punya satu anak, dan suatu hari, suaminya bilang, “Aku kayaknya suka sama cewek itu.” Suaminya ini menambahkan lagi dengan bilang, “Tapi aku tetap sayang sama kamu.”

Teman saya kemudian bertanya pada saya, “Apa mungkin begitu?”

Saya berpikir dan menjawab, “Itu mungkin.”

Di satu Tedx tentang perselingkuhan, Esther Perel pernah mengatakan bahwa enggak ada ceritanya dalam hubungan cinta yang panjang (termasuk pernikahan) salah satu pihak enggak pernah berselingkuh. Pasti ada saat di mana salah satu jatuh cinta walaupun enggak besar—semisal, just crush—ke orang lain. Tapi ini kita bahas di kali yang lain, deh.

Saya tanya kepada teman saya ini, “Apa yang suamimu mau?”

“Menikah lagi,” jawabnya.

Untuk cerita yang ini, saya cepatkan saja; akhirnya enggak ada pernikahan lagi. Enggak ada poligami. Yang mereka lakukan ketika itu; diam, menjauh, dan enggak mengatakan apapun, lalu mengurus apa yang bisa diperbaiki dari pernikahan itu karena selingkuh itu gejala, bukan masalah yang sebenarnya. Hal lain yang ada di belakang gejala ini yang perlu dibenahi.

Bagaimana kalau suami teman saya ini mengatakan perasaannya pada gadis yang dia suka itu dan ternyata gadis itu menerima? Hah!

“Apa ini sekadar tentang ‘mengatakannya’ saja?”

Dia jawab, “Ini pengakuan, jadi jawabnya, iya.”

Saya terdiam lama memikirkan hal ini. Saya tahu apa yang dia ingin katakan. Enggak dikatakan pun, ini sudah jelas.

“Bagaimana kalau aku bilang kalau aku sudah tahu?” tanya saya.

Saya ingin dia mempertimbangkan ulang karena sampai di sini, sepertinya ini tentang saya yang enggak bisa menerima pengakuan itu. Ini memang bukan tentang menerima atau menolak—saya pasti akan menolak, dia pun tahu itu. Enggak ada pilihan lain. Saya menceritakan hal ini pada si Tuan dan dia balik bertanya, “Kamu suka sama dia?”

Saya tanya balik, “Cinta maksudmu? Aku berteman sudah lama, tentu suka. Cinta … ini perkara lain. Perkara yang enggak ada.”

Lalu dia menyuruh saya untuk menyelesaikannya karena hanya saya yang bisa menyelesaikannya. Kalau dia ikut campur, bukan hanya hubungan saya dengan teman saya ini yang bakalan hancur-lebur, tapi juga hubungan si Tuan dengan dia, dan bisa jadi, hubungan si Tuan dengan saya.

Saya pun jadi memikirkan ini; kamu mengatakan cinta pada seseorang, yang kamu pikirkan—bisa jadi—tentang; dia menerima atau menolak. Tapi, pernahkah kamu mempertimbangkan tentang apa yang dia rasakan ketika mengetahui itu? Apa yang dia rasakan ini, yang kemudian membuat dia jadi menerima, menolak, lari, atau melakukan yang lain, kan?

Sekarang saya balik lagi; bagaimana kalau kamu memang ada di keadaan di mana kamu ingin dia menerima, menolak, lari, atau melakukan hal lain?

Kalau ada bujang yang bercerita dan meminta pendapat saya tentang hal ini, saya selalu menjawab; katakan. Kamu lelaki, jadi katakan. Bisa jadi gadis yang kamu suka juga suka padamu, atau dia bingung seharusnya suka atau enggak padamu, atau dia memang hanya ingin berteman saja. Akan menguntungkan buatmu kalau dia ada di tengah-tengah sehingga pengakuanmu bisa membuat dia memutuskan. Tapi pendapat yang sama enggak bisa saya katakan kalau yang bertanya gadis. Jadilah urusan ini rumit dan harus dilihat kasus-perkasus.

“Bagaimana kalau aku bilang kalau aku sudah tahu?” tanya saya.

Dia lama membalas. Mungkin dia berpikir. Ketika balasan itu datang, yang saya baca bukan hal yang saya prediksikan sebelumnya.

“Aku sudah tahu kalau kamu sudah tahu. Tapi masih terasa sesak. Bagaimana ini?” tanyanya.

Sungguh, ini urusan cinta yang paling rumit di sepanjang hidup saya. Dengan si Tuan, semua mudah karena memang mudah; dia jatuh cinta pada saya, saya pun demikian. Dia katakan, saya katakan, lalu kami sama menerima. Selesai. Tapi yang ini? Duh.

“Aku akan membuatnya mudah,” kata saya akhirnya. “Kamu katakan, aku dengarkan, then we go back to square one.”

“Apa harus menjauh?” tanyanya.

“Apa setelah ini akan menyakitkan buatmu?” saya balik bertanya.

“Mungkin.”

“Kalau begitu, menjauhlah. Sampai sudah enggak sakit lagi.”

Lalu dia mengatakannya dan saya bilang, “Makasih.”

Dia bertanya lagi, “Apa namanya ini?”

“The messiness of human connection,” kelakar saya. Dia membalas dengan satu emoticon tertawa sampai keluar air mata.

Beberapa waktu lalu, dia menghubungi saya lagi. Dia bertanya hal yang serupa, “Apa harus dikatakan?”

“Oh, damn, yes!” jawab saya, “for God’s sake! Persetan resikonya!”

Saya tahu gadis ini juga sudah lama cinta padanya. Lalu, enggak lama, dia mengabarkan kalau gadis itu menerimanya.

“Tahun depan, insya Allah,” katanya. “Enggak akan lupa diundang, kok.”