Broken Glass Makes Beautiful Sparkle

by | Jul 6, 2017 | Ceracau Pagi, Love & Relationship, Non Fiksi | 0 comments

The world breaks every one and afterward many are strong at the broken places.

Ernest Hemingway, A Farewell to Arms

Saya sudah katakan padanya, “Kita harus bisa bertengkar karena ke depannya, akan banyak sekali pertengkaran.” Dia setengah enggak percaya, sepertinya.

Saya katakan lagi padanya, “Aku sudah melewati beberapa yang seperti ini dan orang sepertimu akan selalu datang dan pergi. Kalau kita enggak belajar bagaimana caranya bertengkar, berbaikan, rekonsiliasi, dan kemudian kembali bekerja lagi, enggak akan ada yang selesai. Semua ini akan—seperti yang dulu-dulu—sia-sia.” Dia mungkin masih setengah enggak percaya.

Tapi malam itu, dia mengatakan sesuatu yang sebenarnya, kalau dikatakan dengan bercanda dan ringan saja, saya enggak akan tersinggung. Saya enggak tersinggung, sih. Sayangnya, dia menyangka sudah menyakiti saya. Lalu diam-diam, saya ingin memberikan dia pelajaran; saya ingin dia tahu bagaimana caranya bertengkar dan berbaikan.

Saya katakan padanya, “Iya, aku tersinggung dan marah.” Setelah dia bertanya, “Apa Uni marah?”

Saya suka membaca novel atau menonton film yang bagus—ini, sih, semua juga tahu kali, ya. Hahahaaa. Bukan hanya karena dua hal itu menghibur, tapi juga karena cerita yang baik memberikan dua hal lain yang saya inginkan; perenungan dan pelajaran. Penulis enggak memasukkan karakter ke cerita sekadar untuk membuat mereka—karakter-karakter ini—bahagia, jatuh cinta, dan sebagainya. Lebih dari itu, seharusnya, penulis memberikan mereka sesuatu yang menghancurkan mereka sampai ke tulang. Meremukkan hati dan harapan sampai mereka harus memungut pecahannya dari lantai. Menangis sampai airmata enggak lagi jatuh ke pipi, tapi ke rongga dada, sampai melubangi jantung. Penulis melakukan ini sebagian mungkin karena meraka tukang menyiksa dan suka drama, hahahaaa …, tapi sebagian lagi karena kami—penulis—mencintai karakter yang kami buat.

Kami ingin dia jatuh sampai ke kerak neraka untuk kemudian terbakar, kalau karakter ini diumpamakan tanah liat, dia harus bangkit dari situ, dan menjelma menjadi tembikar yang indah. Neraka itu jadi tempat furnace. Kalau dia sudah kadung menjadi tembikar yang indah, kami ingin menjatuhkannya, memecahkannya, untuk disambungkan kembali dengan kintsugi dan kemudian menjadi kintsukuroi yang jauh lebih indah dan lebih mahal dibanding aslinya—sebelum pecah.

Memang pada akhirnya, cerita yang bagus itu juga tentang bagaimana karakternya berubah di akhir cerita. Misalnya di Despicable Me, Gru jadi ayah yang baik dan sayang banget sama anak-anak angkatnya. Ini yang membuat Gru itu lebih dari sekedar menarik; dia jadi menyontohkan bahwa perubahan itu mungkin.

Contoh lain, karakter paling parah ‘pecah’-nya menurut saya; Tyrion Lannister. Sampai ada satu episod yang judulnya menjelaskan siapa dia: Cripples, Bastards, and Broken Things. Tapi semua kelemahan dia itu yang kemudian dia jadikan kekuatan dan membuat si Tyrion ini masih bertahan sampai sekarang. Still Going Strong.

Kalau saya ingin membahas lebih dalam dan lebih jauh, saya enggak percaya kalau dunia ini diciptakan sekadar untuk dinikmati. Memang banyak bagian yang indah, tapi rasanya, lebih banyak yang menyakitkan dan enggak indah sama sekali. Enggak ada manusia yang hidup di muka bumi ini dan enggak pernah hancur dan jatuh, apapun kondisinya. Ini juga yang membuat saya berpikir ulang bahwa tujuan hidup itu bukan meraih kebahagiaan. Ada yang lain, yang terlewatkan karena enggak semudah sekedar menjadi bahagia. Ini kita bahas di tulisan lain saja, deh. Hahahaaa.

Kamu mungkin melihat saya di Instagram seolah hidup saya hanya seputar membaca, menulis, lalu—akhir-akhir ini—memakai kuteks dan memamerkannya. Bagaimana kalau saya bagikan kegelisahan, ketakutan, kesedihan, dan semua hal menyakitkan lain. Apa ada yang mau memanggungnya untuk saya? Begitu juga dengan orang-orang lain yang kita lihat hanya dari luarnya saja. Kamu enggak akan ingin bertukar penderitaan dengan orang lain karena menurut saya, setiap hal yang menyakitkan itu, sudah ditakar dan dibuat eksklusif untukmu seorang. Didesain agar kamu, setelah melewatinya, bisa menjadi dirimu yang lebih baik. Hanya saja, kadang kala, kita enggak sabar.

Kita kadang lupa bahwa transformasi dan rekonsiliasi itu proses. Setiap proses membutuhkan waktu dan kesabaran. Setiap kali hatimu pecah, kejadian itu bukan hanya tentang bertahan hidup dengan pecahan-pecahan hati. Saya mau bilang ini sama kamu, yang hatinya pecah tersepai di lantai; jangan kumpulkan lagi dan masukkan pecahan itu ke dadamu. Kamu akan jadi lebih sakit lagi, nantinya. Ujung-ujung pecahan itu tajam dan kalau kamu biarkan, akan menyakiti banyak hal lain yang juga kamu simpan di dadamu. Saya mau kamu menyambungkannya dulu, membentuknya ulang, membuatnya—bukan menjadi baru—tapi versi baru dari hatimu yang lama. Yang lebih indah.

Seperti kata Saudari Fahri di satu tweet-nya tempo hari, “Broken glass makes beautiful sparkle.”

Kintsugi berasal dari kata kint (golden) dan tsugi (joinery), arti harfiahnya memang seperti itu; menggabungkan pecahan tembikar atau keramik dengan pasta khusus yang dicampur dengan emas. Kebudayaan Asia punya tradisi tembikar yang sudah sangat tua, dari sini metode kintsugi ini berasal. Satu hal lagi yang juga mempengaruhi adalah filosofi Budha tentang wabi-sabi yang diserap oleh budaya Jepang. Sederhananya, wabi-sabi ini adalah konsep dan cara pandang untuk menerima sesuatu yang enggak sempurna, enggak lengkap, dan enggak permanen (sementara). Dua hal ini, membuat kintsugi menjadi seni yang bukan hanya indah, tapi juga bermakna dalam.

Sebenarnya, saya sudah menyiapkan tulisan ini sejak beberapa hari yang lalu. Saya sudah menyiapkan bahan dan semua referensi. Tapi … saya sendiri enggak juga mulai menulis karena terpana melihat betapa indahnya keramik yang disambungkan lagi dengan kintsugi, yang kemudian dinamakan menjadi kintsukuroi. Memang dia pecah, bekas pecahannya pun terlihat jelas, tapi ada sesuatu tentang penerimaan yang saya pahami dan lihat di setiap sambungan emas kintsugi itu.

Cerita tentang asal-muasal kintsugi yang populer, berasal dari seorang shogun bernama Ashikaga Yoshimasa. Dia memecahkan salah satu cangkir teh keramik dari China yang sangat mahal. Karena dia sangat menyukai cangkir itu, dia pun mengirimkannya kembali ke China untuk diperbaiki. Tapi, yang kemudian dia terima adalah cangkir keramik yang hanya disambung dengan besi yang tebal dan jelek. Dia enggak suka. Dia pun mencari pengrajin Jepang yang kemudian menyambung ulang cangkir keramik itu dengan metode kintsugi ini. Pengrajin ini enggak mencoba menutupi sama sekali kerusakan dari cangkir itu, tapi malah membuatnya lebih jelas karena pasta emas yang digunakan untuk menyambungkannya kembali. Tapi karena itu pula, cangkir itu menjadi lebih indah.

Photo credit: My Modern Met

Ada satu cerita lagi tentang Sen No Rikyu yang dalam perjalanannya ke selatan Jepang, dia diundang makan malam oleh orang kaya setempat. Orang ini, menyangka bahwa Rikyu akan takjub melihat vas yang dia beli dari China. Tapi, Rikyu di sepanjang makan malam itu, malah lebih mengagumi ranting pohon yang bergerak oleh angin malam yang lembut. Kesal karena dicuekin, ketika Rikyu sudah pulang, si pengundang pun memecahkan vas yang dia punya itu dan pergi ke kamarnya—untuk ngambek saya rasa, hahahaaa. Kemudian, beberapa orang tamu mengumpulkan pecahan itu dan menyambungnya kembali dengan kintsugi. Ketika Rikyu kembali diundang ke rumahnya, Rikyu pun melihat vas ini dan berkomentar, “Sekarang vas ini jadi luar biasa.”

Buat saya, cerita itu nyebelin. Hahahaaa. Tapi kemudian ada desas-desus juga yang mengatakan bahwa beberapa orang kaya yang memiliki vas atau keramik mahal, malah memecahkannya agar bisa menjadi kintsukuroi yang lebih mahal dan lebih indah dibanding benda aslinya.

Photo credit: My Modern Met

Kadang, saya pikir, kita berkata bahwa enggak ada yang sempurna itu lebih untuk membenarkan kelemahan kita sendiri—alih-alih untuk mengenalinya lebih jauh dan membuat sesuatu yang lebih indah dari itu semua. Bukan untuk menyamarkan atau menyembunyikannya, tapi untuk menerima, merangkul, merengkuh, dan memahami bahwa ketidaksempurnaan itu bisa jadi sesuatu yang luar biasa.

Kalau kembali ke urusan patah hati, yakinkan dirimu kalau hatimu yang patah itu, bila disambung dengan benar, akan lebih kuat di bagian yang pernah patah. Kita ini semuanya enggak sempurna. We’re broken things.

Saya ingin membawa urusan ini agak jauh sedikit sampai ke topik perselingkuhan. Beberapa bulan belakangan, entah mengapa, topik ini menarik perhatian saya. Esther Parel, di Ted Talks-nya menjelaskan bahwa banyak pasangan yang salah satu dari mereka berselingkuh dan enggak bisa menyelamatkan pernikahan mereka bukan karena perselingkuhan itu sendiri atau kurangnya cinta, tapi karena mereka enggak melihat kalau kejadian itu bisa jadi pertanda. Perselingkuhan itu bukan penyakit, dia hanya gejala dari sesuatu yang lebih gawat yang terjadi di pernikahan. Ada kecenderungan perempuan berselingkuh karena kesepian dan kurang diperhatikan sementara lelaki melakukannya karena bosan. Lagi-lagi, ini bukan karena kurangnya cinta.

Dia juga menceritakan tentang pasangan-pasangan yang berhasil keluar dari trauma dan sakit perselingkuhan dan menjadikan pernikahan mereka lebih kuat dari sebelumnya. Caranya; dengan membunuh pernikahan yang sebelumnya dan menghidupkan pernikahan yang baru dengan orang yang sama. Pernikahan itu di-kintsugi.

Saya suka kalimat yang mengatakan; karena kita pecah itulah, cahaya bisa masuk ke dalam melalui sela-sela pecahan dan retakannya. Karena itu pula, memperbaiki sesuatu—dengan cara kintsugi ini, misalnya—juga tentang transformasi; kamu harus menerima bentuk yang lain, yang baru. Memperbaiki juga tentang rekonsiliasi; keinginan untuk tersambung atau bersama kembali.

Saya enggak membalas pesannya malam itu. Saya biarkan sampai pagi. Alasannya ada dua, sih, sebenarnya. Yang pertama karena saya ingin dia menunggu, dan yang kedua … errr, saya sudah mengantuk. Hahahaaa. Paginya, saya melihat pesannya, berusaha mengalihkan ke topik yang lain, seolah enggak ada apa-apa. Tapi saya ingin dia ingat kalau ada apa-apa (saya ingin ada apa-apa) karena itu, saya jelaskan tentang yang terjadi semalam; tentang kalimatnya yang menyakitkan—walaupun sebenarnya saya enggak tersakiti, sih. Dia minta maaf, saya memaafkannya. Saya ingin dia tahu bahwa kami bisa melewati yang lebih dari ini.

Memang benar, setelah itu kami—mungkin saja saja, sih, yang merasa—jadi lebih dekat. Tapi kemudian, kalimat-kalimat lebih menyakitkan—kalau dibaca dalam keadaan normal—mulai berhamburan di pesan-pesan singkat kami. Lalu semalam, kami bertengkar lagi tentang sesuatu yang memang perlu dipertengkarkan. Tapi paginya, kami enggak perlu berbaikan karena saya membuka pesan darinya dan melihat kintsukuroi dari sesuatu yang kami pertengkarkan semalam.

Saya ingin menutup tulisan ini dengan kalimat yang sangat saya suka.

A diamond just a piece of charcoal that handled stress and pressure exceptionally and extremely well.