In You I’m Lost

by | Jul 8, 2017 | Ceracau Pagi, Non Fiksi | 0 comments

You are in an ecstatic state to such a point that you feel as though you almost don’t exist. My hand seems devoid of myself, and I have nothing to do with what is happening. I just sit there it in a state of awe and wonderment. And (the music) just flows out of me.

(Composer interviewed by Csikszentmihalyi)

Dua pekan belakangan, saya—seharusnya—sedang mengerjakan tulisan panjang tentang tiga hal yang saya sukai lebih dari apapun; kopi, buku, dan teman bicara yang luar biasa—mungkin juga sedikit tentang cinta. Saya tahu apa yang harus saya kerjakan, tulis, dan bagaimana menyelesaikannya. Tapi, ketika hasil pekerjaan ini diminta dan ditanyakan—iya, ada tenggat di sini—saya selalu mengelak dan mengatakan, “I’m still not in flow. I’m in the mood but … not in right condition to write it.”

Halah. Alasan! Hahahaaa.

Pekerjaan itu memang belum juga selesai. Sejujurnya, setiap hari saya ada di depan laptop dan mengetikan seribu-dua ribu kata yang tersia-sia karena ketika saya baca ulang, saya enggak suka. Ada yang hilang di sana. Ada sesuatu yang saya ingin ada tapi enggak juga bisa saya tuliskan. Belakangan saya tahu kalau ini bukan tentang ide. Ini teknis.

Kalau ada yang meminta kepada saya untuk diajarkan menulis, biasanya saya mendadak jadi galak. Saya dasarnya memang galak, sih. Tapi untuk urusan yang satu ini, saya lebih galak dari biasanya. Bukan karena saya enggak mau membagi apapun yang saya tahu. Saya mau. Hanya saja, kadang saya kesal dengan ekspektasi dari jawaban saya. Saya katakan berulang-ulang, “Kamu enggak bisa belajar menulis hanya dari tips yang disebar-sebar di sosmed. Kamu enggak bisa belajar menulis dengan hanya ‘nulis-nulis aja’ karena bergerak dan menari itu berbeda. Kamu harus menari, bukan sekedar bergerak enggak terkendali. Untuk bisa menari, kamu harus belajar menari. Kalau hanya ‘nulis-nulis saja’, sejak kamu bisa menulis pun, kamu sudah bisa.”

Beberapa dari yang mendapatkan jawaban ini biasanya berhenti menghubungi saya. Hahahaaa.

Beberapa tahun belakangan, saya mulai mengubah apa yang saya pahami tentang kebahagiaan. Saya enggak menghindari sesuatu yang bisa membuat saya bahagia dengan instan, misalnya; belanja atau jalan-jalan. Tapi saya tahu, karena itu instan, makanya dia jadi sementara—karena itu juga, saya menjadikannya solusi sementara. Seperti ketika saya sedang mengalami hari yang buruk lalu saya pergi membeli lipstik; hari itu memang enggak seburuk sebelumnya tapi efek senangnya pun enggak akan lama. Ini juga yang membuat saya mulai jarang jalan-jalan kalau hanya sekedar untuk menandai tempat itu sebagai lokasi yang sudah saya datangi. Tahun lalu, saya sudah mengelilingi dunia, literally. Saya pergi ke Amerika melalui dua jalur yang berbeda sehingga kalau ditarik garis imajiner, maka saya menarik garis mengelilingi dunia. Terdengar hebat, kan? Apa itu kemudian membuat saya lebih bahagia dari kamu yang membaca tulisan ini? Sejujurnya … enggak. Biasa saja.

Kalau kamu suka Malcolm Gladwell, kamu mungkin pernah membaca salah satu penelitian yang dia terangkan di bukunya—duh, saya lupa judulnya—bahwa uang memang akan membuat kamu bahagia tapi ada batasnya. Ketika batas itu berhasil dilewati, kamu enggak akan bisa jadi lebih bahagia lagi dan semua materi itu enggak akan ada gunanya. Ini masuk akal karena kalau memang benar uang bisa membuat bahagia, orang paling kaya di dunia pastilah yang paling bahagia, logikanya begitu. Tapi kenyataannya itu enggak berlaku.

Saya lebih bahagia ketika duduk di depan laptop, menulis tulisan ini, setelah semalaman memikirkannya, dan—saya tahu—mungkin saya akan baru menyelesaikannya menjelang siang nanti karena saya tahu, menjelang siang seharusnya saya sudah lapar dan kepala saya jadi pusing. Saya lebih bahagia ketika berkarya. Membuat sesuatu. Ini bahagia yang lain, yang enggak pernah bisa saya pamerkan di sosial media—enggak seperti kegiatan saya yang lain; jalan-jalan, misalnya. Yang bisa bertahan lebih lama. Karena itu pula, di saat sulit, selalu saja menjadi pilihan pertama saya untuk bertahan dari kesedihan atau penderitaan.

Mihaly Csikszentmihalyi di TED Talks-nya menjelaskan penelitiannya dengan melihat ke hal lain, profesi lain, yang dilakukan demi merasakan kebahagian itu sendiri. Dia menyebutnya sebagai; flow—atau yang biasa juga dikenal sebagai ‘in the zone’. 

Flow ini yang membuat seniman melakukan apa yang mereka lakukan walaupun, mungkin saja, enggak ada nilai materi yang besar untuk pekerjaannya itu. Ini yang menjadi alasan bahwa banyak karya seni yang kemudian menjadi enggak ternilai bagi pembuatnya. Ini yang membuat seniman lapar terus berkarya.

Kalau kamu belum pernah merasakannya, saya akan ceritakan seperti apa rasanya. Seperti … hmmm, seperti kamu tertarik ke dalam dunia yang kamu sendiri enggan untuk keluar dari sana. Seperti yang kamu pedulikan hanya apa yang ada di depanmu. Kalau saya sedang menulis, maka yang saya pedulikan hanya huruf-huruf yang muncul dari belakang kursor, imajinasi yang mendorong huruf-huruf itu, lalu perasaan enggak peduli apapun lagi, ringan, tapi juga sesak—karena saya ingin apapun yang ada di kepala saya bisa dikeluarkan—yang enggak tertahankan, lalu … kadang saya merasa enggak ada di sini, di kamar ini, di atas dipan, dan waktu berlalu tanpa saya sadari. Yang bisa mengalahkan perasaan ini ada dua; sholat yang khusuk dan satu lagi … orgasme! Ha!

Mungkin juga rasanya seperti kamu sedang giting. Tapi karena giting dilarang karena ini dan itu, jadi saya memilih untuk mencapai perasaan yang sama dengan cara yang beda.

Ini juga yang membuat saya biasanya menulis sambil mendengarkan musik karena saya tahu, ketika saya sudah masuk ke fase nge-flow ini, biasanya tulisan saya sudah enggak terkendali. Saya perlu sesuatu yang membuat saya tetap ada di beat, mood, dan feel yang saya inginkan. Saya meminjam itu pada ketukan musik untuk mengingatkan—makanya kadang saya hanya mendengar satu lagu berulang-ulang kalau sedang menulis. Misalnya untuk tulisan ini, saya mendengarkan Present Tense-nya Radiohead.

Ada beberapa syarat—sayangnya—untuk mencapai flow ini. Setidaknya tiga.

1. Kamu harus melakukan kegiatan yang jelas tujuan dan bisa kamu hitung progresnya.

2. Kamu harus bisa menyelesaikannya dalam satu waktu.

3. Yang terakhir ini yang paling penting; kamu harus punya keseimbangan antara apa yang ingin kamu capai dengan kemampuan teknis yang kamu punya.

Untuk poin ke dua, alasannya, kalau mau diumpamakan seperti making love—ketika terputus sebelum orgasme karena satu dan lain hal, sulit untuk mengulang lagi semua yang kamu rasakan. Ini lebih nyebelin dibanding coitus interuptus. Kalau misalnya diumpamakan sholat, kalau khusyuk terputus, di tingkat keimanan setipis saya sekarang ini, belum lagi ingin saya mengulang sholat itu untuk mencapai khusyuk yang sama. Saya tetap melanjutkannya untuk sekadar menggugurkan kewajiban. Sama nyebelinnya, memang. Maap, ya, saya menggunakan perumpamaan ini berkali-kali karena memang buat saya, ini yang paling mendekati.

Mungkin juga bisa diumpamakan dengan perasaan ketika menonton film di bioskop, sih. Kamu menonton di kondisi yang dibuat memang untuk memaksa kamu fokus; layar besar tepat di depan matamu, ruangan gelap, efek suara yang membuatmu sulit mendengar suara yang lain, termasuk detak jantungmu sendiri. Tapi menonton seperti ini masuk kegiatan pasif. Kamu dijejalkan naratif. Memang kamu mengolahnya di otakmu, tapi ini enggak ada hubungannya dengan kemampuan teknis yang kamu punya untuk menyelesaikan pekerjaan tertentu. Jadi, saya enggak memasukkan contoh menonton di bioskop ini. Di suatu titik, memang rasanya mirip, tapi … beda. Ada bedanya. Apalagi aftertaste-nya. Beda banget.

Kalau kamu suka menulis seperti saya dan belum juga menemukan ‘flow’, mungkin ada satu hal yang kurang dan biasanya ini; skill.

Kamu harus melupakan apapun yang ingin kamu lakukan secara teknis untuk bisa masuk ke tahap selanjutnya. Seperti sholat yang enggak perlu kamu ingat-ingat lagi gerakan dan bacaannya karena kamu sudah hapal sampai ke artinya. Kalau kamu masih juga mempermasalahkan teknis; ya ampun … abis ini scene-nya kayak apa, karakterisasi mau diapakan, tanda baca yang benar seperti apa, penjelasan harus dibagaimanakan, dan sebagainya, kamu enggak pernah sampai nge-flow karena tersendat urusan yang enggak sudah-sudah.

Ini yang membuat saya galak sama urusan teknis. Di satu sisi kamu perlu untuk membuat karyamu jadi enggak tercela secara teknis atau kebalikannya; enggak bisa dicela karena menghancurkan teknis. Di sisi lain, kamu harus tahu teknis sampai ketika kamu menulis, kamu melupakannya. Saya baru belajar naik sepeda dua tahun lalu dan saya pun akhirnya mengerti kalau kamu mau melihat pemandangan indah di kanan-kiri jalan, tengadah ke langit, melepas tanganmu dari stang, kamu harus bisa menaiki sepeda itu tanpa takut jatuh, tanpa hilang keseimbangan. Flow ini mirip konsepnya seperti ini; kamu harus menguasai teknis untuk melupakannya dan kemudian masuk ke hal yang lain.

Biasanya, penulis mulai menulis ketika ada di fase arousal; mereka punya kemampuan menengah—kalau enggak mau dibilang rendah sama sekali—dengan tingkat kesulitan eksekusi ide yang tinggi. Jadinya memang menantang memang. Kalau kamu ingin menulis ide yang tingkat kesulitannya tinggi (seperti yang banyak saya temui, penulis pemula mengatakan begini, “Saya ingin menulis novel yang seperti Harry Potter bagusnya!”—ini enggak salah, sih, tapi apa … kemampuan teknismu sudah setara dengan Rowling, Beb?), sayangnya, dengan tingkat kemampuan yang mereka miliki—dan biasanya itu belum cukup—jadinya mereka hanya akan cemas dan stres. Ini yang saya rasakan ketika menulis fiksi dan tulisan yang saya ceritakan di pembukan post ini. Saya punya ide di atas kemampuan teknis yang saya miliki.

Credit: Nerdwriter

Ketika kemampuan masih rendah dan tinggat kesulitan tinggi, kamu jadinya; cemas.

Ada satu lagi yang sebenarnya agak menyebalkan tapi sering saya kerjakan; menulis sesuatu yang saya tahu, saya bisa, dan hanya sedikit menantang. Tulisan seperti ini hanya akan membuat saya ada di fase control. Saya harus menaikkan tantangannya sedikit untuk bisa membuat saya nge-flow. Tapi kadang saya juga menulis untuk bersenang-senang. Ini adalah tulisan untuk rekreasi yang saya tahu enggak ada tantangannya sama sekali dan saya bisa melakukannya sambil gegoleran di ranjang.

Credit: Nerdwriter

Kamu bisa nge-flow ketika kemampuanmu sama tingginya dengan tingkat kesulitan pekerjaan yang kamu lakukan.

Saya belajar teknis, banyak membaca, dan banyak diskusi sebenarnya untuk satu hal ini; saya ingin menulis sambil nge-flow. Saya ingin bisa menikmati proses menulis itu sampai melupakan yang lainnya karena itu yang membuat saya bahagia dengan rasa yang menancap dalam ke jantung. Lebih terasa dan bertahan lama dibanding sekadar membeli lipstik atau jalan-jalan ke tempat wisata. Saya pun ingin kamu merasakan itu makanya saya galak. Saya ingin kamu bisa menulis sampai giting. Hahahaaa….

Akhir pekan ini, sejak pagi, saya sudah menyiapkan diri saya untuk nge-flow seharian—sampai besok kalau bisa. Saya membaca banyak referensi semingguan kemarin, tidur cukup semalam tadi, dan ngopi enak pagi ini. Saya ingin menuliskan apa yang seharusnya saya tulis sejak dua pekan lalu sebaik yang saya mampu karena saya sendiri bisa membedakan tulisan yang saya tulis sekadarnya dengan yang memang saya tulis dalam keadaan nge-flow. Kamu pun sebagai pembaca, mestinya tahu, karena saya juga menarik kalian ke pusaran yang sama. Semua perasaan itu, bisa juga kamu rasakan.

Seperti saya yang selalu curiga, kalau Present Tense-nya Radiohead ditulis dalam keadaan nge-flow karena ketika mendengarkannya, saya pun merasakan hal yang sama. Seperti halnya saya berpendapat bahwa sebagai seniman kamu curang kalau kamu giting duluan dengan bantuan baks sebelum berkarya untuk mendapat efek yang sama.

In you I’m lost….