“Ini bukan tentang apa yang raib, Nona. Separuh hatimu, semisal. Lalu kosong relung yang dia tinggalkan.”

Kamu ingat Nona, sore itu, ketika kita duduk berhadapan dan bicara tentang hal-hal kecil yang tidak juga kita sepakati maknanya. Ketika itu, waktu rasanya berhenti, buatku–mungkin juga untukmu.

“Amerta, Tuan,” katamu, “enggak bisa mati.”

“Bukan enggak bisa mati, Nona,” sanggahku, “tapi hanya enggak bisa hilang dari kepalamu. Bergaung menceritakan kenangan yang dulu-dulu. Kamu mencoba memandikan pahitnya di dalam madu. Terlalu manis, Nona. Terlalu menyakitkan kerongkonganmu, nantinya.”

“Terus berbalik seperti ulang-alik?” tanyamu.

Lalu kamu tertawa–mungkin karena merasa pertanyaanmu lucu karena kamu menyamakan rasa itu dengan pesawat yang kadang membawa satelit ke luar angkasa. Aku mengerti maksudmu dan ingin sekali mendebatnya; pedih rasa hatimu tidak akan hilang sekalipun kamu kirim ke angkasa hampa.

Kamu bercerita lagi tentang cinta pertama yang patah dan warna merah-hitam yang dia bawa dengan campin kosakata yang kamu punya.

“Tapi, tahukah kamu, Nona? Semenjana makna yang aku punya tentang itu semua, kelu aku kisahkan padamu karena kamu enggak akan percaya.”

“Apa patah hati sebanal itu?” tanyamu lagi. Suaramu parau dan kata-kata itu seolah tercekik sebelum akhirnya kamu keluarkan. Matamu memandang ke arahku, dengan cepat aku tangkap. Kutautkan, tidak ingin aku lepaskan. Kata dan kalimat yang kita ucapkan jadi berjeda.

Seketika itu, aku beranikan juga untuk bertanya.

“Nona, bolehkan aku tumbuhkan sampai sempurna hatimu dari yang setengah itu?”

Prosa ini dibuat sebagai jawaban atas tantangan di grup Samsarakata; menulis dengan menggunakan lima belas kata yang diberikan oleh masing-masing anggota: Campin, tercekik, patah, relung, jeda, warna, ulang-alik, gaung, semenjana, mata, raib, banal, amerta, mandi, dan kelu.

Credit to all images: Freepik