Dini hari kau terbangun, duduk, menjejakkan kaki telanjangmu di lantai dingin, dan teringat kalau mimpimu—bisa jadi mimpimu—hanya setengah.

Bermalam-malam kau memimpikan hal yang sama dan terhenti di tengah. Seolah bersambung, padahal tidak. Keesokannya kau bermimpi itu lagi dan tetap saja, terhenti di tempat yang itu juga. Kau melupakan detailnya. Kau melupakan warna langit di mimpimu itu—yang kemudian kau mengerti mengapa begitu karena ketika beberapa hari kemudian kau mencari tahu, mimpi memang hitam putih. Seperti film tua Hitchcock, mimpimu berhenti tepat ketika kau ingin melompat dari kereta—ini pun kau ingat setelah susah-payah kau merekam dan memutar ulang mimpi itu di siang harinya.

Kau bertanya pada dirimu sendiri, mau ke mana kau di mimpi itu?

Bermalam-malam kemudian, kau kembali mengulang mimpi yang sama, cerita yang sama, hitam-putih yang sama. Kau ingat semua sekarang dan rasanya bukan lagi seperti mimpi; itu ingatan, mungkin sebagiannya adalah harapan. Kau tidak ingin  ke mana-mana, kau yakin itu. Hidupmu senyaman sofa yang kau beli setelah sekian lama mencari tahu mana yang paling empuk, dan diantarkan pula ke depan pintu rumahmu. Mimpi terpotongmu membuatmu risau; ada yang tidak selesai—mungkin dengan hidupmu.

Tapi ketika siang itu kau hampir menabraknya di depan pintu Union Building, di pengujung musim semi yang gerah, lalu kalian bermaafan sekadar untuk bersopan-sopan, kemudian terlintas di pikiranmu; bagaimana kalau setengah mimpimu ada di kepala yang lain, yang memimpikannya hanya dari bagian tengah sampai ke akhir? Ketika kau bertemu lagi dengannya dan berusaha untuk tidak menabraknya karena dia membawa kopi panas di gelas kertas, kau pun mengajaknya duduk di bawah pohon yang sudah sempurna hijaunya.

“Apa ada mimpimu yang kau tidak tahu ujung-pangkalnya?” tanyamu.

Dia bingung—tentu. Itu bukan saja pertanyaan tidak biasa, tapi bisa jadi membuatnya menilai kau yang tidak-tidak. Tapi kau sudah siap dengan lelucon yang kau yakin lucu dan licin seandainya itu terjadi; memastikan kalau kau bisa keluar dari jengah.

Tapi dia kemudian menjawab dengan pertanyaan bimbang, “Bukankah semua mimpi seperti itu? Kau memulai mimpimu dengan mendarat setelah melompat dari….”

Dia terhenti. Berpikir. Mengingat-ngingat.

Kau gatal sekali untuk menjawab, juga dengan pertanyaan, “ … kereta?”

Dia melihatmu dan meminta penjelasan lebih lanjut. Kau tidak memberikannya. Kau malah minta dibelikan secangkir kopi yang sama; dengan sedikit gula dan banyak krim.

“Apa setengah mimpiku ada padamu?” tanyanya.

“Aku berubah pikiran. Bagaimana dengan satu sendok gula?” ujarmu.

“Satu sendok, enak juga.”

Dia bangkit dan kalian berjalan bersama. Kau sudah lupa kapan seharusnya musim semi ini berakhir karena matahari sudah keterlaluan teriknya.

“Bagaimana kalau itu bukan dua potongan mimpi?” tanyanya lagi, “Bagaimana kalau tiga, empat, atau lima? Atau tidak terbatas? Bagaimana kalau mimpi itu sambung-menyambung?”

Kau membuka satu kancing kemejamu yang paling atas.

“Entahlah,” jawabmu. “Bagaimana kalau hanya dua bagian?” tanyamu.

“Ceritakan ujungnya,” pintanya.

Kau berusaha mengingat. Tapi selalu saja gagal. Kau terlalu sibuk mencari tahu pangkalnya sampai kau tidak lagi mengenali ujungnya.

“Sepertinya … memang ada kelanjutannya,” jawabmu.

“Begitu juga dengan mimpiku,” katanya. “Mungkin ini bukan terpotong. Mungkin memang kita mencuri mimpi satu sama lain.”

Kau berkata lagi, “Seandainya bisa potongan-potongan itu kucuri dan kusambung untukku sendiri.”

“Cobalah nanti malam,” ujarnya, “sebelum mimpi itu mendarat di kepalamu dan entah berapa banyak orang lain yang juga mendapat potongannya. Cobalah curi. Lalu, ceritakan padaku bagaimana bentuk utuhnya. Mungkin aku ingin tahu. Mungkin.”

* * *

Photo by Naphtali Marshall on Unsplash