Apa Membaca Buku itu Overrated?

by | Aug 1, 2017 | Ceracau Pagi, Non Fiksi | 1 comment

Sampai hari ini, saya masih enggak terlalu suka dengan istilah kutu buku, entah mengapa. Mungkin karena buat saya, membaca itu harus. Bagaimana bosannya hidupmu kalau kamu enggak membaca, coba? Saya enggak bisa membayangkan bagaimana caranya duduk di kereta atau bis dan hanya memandang ke arah luar jendela tanpa melakukan apapun yang lain. Kalau saya melakukan itu, harus sambil berkhayal, plotting, mendengarkan riuh obrolan karakter fiksi di kepala saya, atau kalau enggak semuanya, saya harus mengantuk. Ini yang membuat saat saya paling banyak menghabiskan buku adalah ketika saya harus ada di perjalanan lebih empat jam setiap harinya.

Sekarang saya lebih banyak di rumah. Beberapa waktu belakangan, cara saya membaca pun berubah. Awalnya, saya mulai menerima bahwa enggak semua buku bisa saya miliki. Kutu buku—atau istilah yang lebih saya sukai; avid reader, pembaca giat—seperti saya enggak punya waktu lagi untuk duduk diam dan membaca. Godaan terlalu besar dan pekerjaan lain juga semakin banyak. Harga buku semakin mahal pula. Saya melihat ulang; apa sih, yang sebenarnya saya cari dari membaca? Yang selama ini saya cari dan temukan dari membaca? Kalau saya bisa menjawab ini, maka cara menjadi enggak penting. Begitu pikir saya, waktu itu—kira-kira empat atau lima tahun yang lalu.

Membawa buku ke mana-mana memang saya lakukan dulu. Saya mau aman dengan punya dua buku di tas. Seandainya saya bosan sekali, saya bisa membaca. Kemudian saya punya ponsel pintar yang bisa memberikan akses ke dua hal lain; audiobook dan podcast. Saya banyak mendengarkan dua hal ini beberapa tahun belakangan. Lebih banyak dibanding duduk dan membaca buku konvensional. Saya malah baru menerima ebook masuk ke kehidupan saya sekitar setahun belakangan. Di sepanjang waktu itu, saya enggak berani bilang kalau saya kutu buku. Bagaimana bisa? Saya enggak punya buku. Saya enggak membeli buku konvensional. Selera saya bergeser dari fiksi ke buku nonfiksi. Kalaupun fiksi, saya lebih suka penulis luar dengan Bahasa Inggris. Sementara di sekitar saya, mulai tampak geliat yang lain; semangat untuk menjadikan buku bagian dari gaya hidup. Membaca digiatkan. Lalu saya, yang sudah kadung tercebur dalam dunia di mana cerita dibacakan lewat medium lain, merasa seperti ada di fase yang membingungkan; saya ini apa?

Sejujurnya, saya sudah enggak bisa membawa buku lebih dari satu dalam tas. Saya merasa berat mengeluarkannya di kereta atau bis karena mengeluarkan ponsel lebih nyaman. Saya juga menikmati memandang ke luar jendela sambil memasang headset di telinga saya, lalu mendengarkan audiobook atau podcast. Memastikan bahwa saya enggak mendengarkan apa yang enggak penting di sekitar saya. Saya mulai menemukan banyak hal yang saya sukai ada di podcast, tempat di mana audiobook enggak merambah sampai ke sana. Saya juga menonton banyak video essay. Meninggalkan menonton vlog (video blogging) karena … saya enggak lagi tertarik mengetahui apa dan bagaimana kehidupan orang lain sehari-hari—ada yang lebih penting dari itu, kan? Waktu saya terbatas, saya harus memilih. Saya bukan remaja lagi yang membaca untuk membunuh bosan dan waktu kesepian.

Membaca blog pun sudah mulai saya kurangi karena saya enggak lagi tertarik untuk membaca tips singkat atau hal-hal yang enggak bisa menggelitik rasa penasaran saya. Sepuluh tips untuk menjadi penulis hebat? Penulis tahu  tips seperti ini enggak membantu karena yang diperlukan adalah ide, waktu, kemampuan teknis memadai, dan ketenangan pikiran. Lalu sesekali, bicara dan diskusi dengan penulis lain untuk saling menguatkan. Saya pindah membaca ebook dan mendengarkan podcast dari penulis (kebanyakan penulis luar) yang dulu cuma jadi bahan pendamping menulis—enggak benar-benar saya pelajari—tentang storytelling. Saya ingin bercerita, bukan sekadar menuliskan sesuatu.

Video essay adalah dunia yang lain lagi, yang di sana saya bisa mendapatkan penjelasan panjang tentang sesuatu yang hanya bisa diterangkan dengan gambar dan suara. Ini hal lain yang menarik buat saya. Ketika essay yang sulit dan panjang dijabarkan dengan gambar dan suara, saya lebih bisa menangkapnya.

Saya berubah. Saya enggak bisa bilang kalau saya avid reader lagi.

Tapi kemudian, saya melihat ke belakang, ke masa awal remaja saya ketika saya menjadikan buku sebagai pelarian dari betapa membingungkannya kehidupan beranjak dewasa saya ketika itu; cinta monyet, pertemanan, sekolah, dan sebagainya. Saya mencari hal yang bisa membuat saya paham akan apa yang saya ingin tahu ketika itu. Saya membaca novel remaja karena saya ingin tahu apa yang sebenarnya ada di dunia saya ketika itu. Lalu hal lain datang, awal masa dewasa. Saya pun mencari hal lain lagi. Saya membaca dan bacaan saya tumbuh bersama saya. Ini juga jadi alasan mengapa saya enggak lagi bisa membaca novel remaja dengan santai dan menikmatinya tanpa mempertanyakan apa-apa yang enggak masuk di akal saya di sana karena saya sudah melewati masa itu.

Saya besar bersama Harry Potter. Memahami persahabatan dan keberanian. Lalu mendewasa bersama Bumi Manusia. Memahami bahwa hidup ini perlu berjuang di Burung-burung Manyar. Mencari tahu tentang cinta di banyak novel percintaan dewasa. Memahami apa yang hidup tawarkan dari banyak essay—dan yang paling saya suka, dari Malcolm Gladell. Saya menonton. Mempelajari caranya mencapai kekuasaan di Game of Thrones. Melihat bahwa kamu bisa jadi badass sekaligus lucu di banyak serial dengan karakter geek dan nerd yang saya suka. Saya mendengarkan podcast dan menemukan banyak hal baru yang saling dibicarakan oleh para podcaster.

Sekarang saya sampai di sini, di hari ini, di mana sejak semalam saya mempertanyakan; apa membaca buku itu overrated? Ketika informasi, cerita, pelajaran hidup bisa didapat dari medium penceritaan apa saja (buku, ebook, film, serial, audiobook, podcast, dan video essay), apa enggak berlebihan menempatkan kutu buku sebagai orang yang lebih dibanding yang enggak membaca? Apa … bisa jadi, sebenarnya yang perlu digiatkan itu bukan kegiatan membaca buku, tapi kegiatan belajar dari medium apapun? ‘Membaca’ dengan tanpa kutip.

Saya enggak banyak membaca sekarang. Tapi saya enggak pernah lepas dari rasa yang sama; petualangan dan penasaran. Setiap kali. Setiap hari. Saya mendengar podcast sejak bangun tidur, mendengar audiobook sambil menyetrika, menonton video essay di sore hari sambil merawat wajah atau rambut, membaca ebook ketika lampu kamar sudah dimatikan sebagai pengantar tidur. Beberapa tahun belakangan, saya merasa lebih banyak mendapat sesuatu dari itu semua dibanding ketika saya jadi pelanggan tetap perpustakaan dan mendapat hadiah di akhir tahun sebagai peminjam terbanyak.

Kepala saya lebih riuh, lebih berwarna, dan lebih menyenangkan untuk dijelajahi. Tuan Sinung bilang, saya lebih menyenangkan diajak bicara karena saya enggak lagi mengurusi permasalah remeh-temeh—tapi heeey, kuteks dan makeup itu tetap jadi hal penting di hidup saya. Ini membuat saya lebih banyak berkarya dan ingin membuat sesuatu. Termasuk salah satunya; mencoba menularkan betapa menyenangkannya mendengarkan podcast di perjalanan atau di rumah ketika kamu sedang mengerjakan sesuatu yang lain. Ini juga yang menjadi alasan saya membuat Poddium.

Apa membaca buku itu overrated—untuk jaman sekarang ini? Jaman ketika ponsel pintar jadi perpanjangan tanganmu? Jaman ketika yang lebih diperlukan adalah seleksi informasi dan bukan mediumnya sendiri. Jaman ketika apapun yang kamu inginkan bisa diantarkan ke rumah oleh ojek online dan mall bukan lagi jadi tempat belanja tapi untuk hangout dan bermain.

Ah, sebenarnya tulisan ini saya buat juga untuk berdamai dari banyak hal. Termasuk salah satunya; keinginan untuk memindahkan tulisan saya ke medium suara. Ini akan membuat saya enggak jadi penulis lagi karena saya enggak menulis—pekerjaan yang selama ini saya percayai kalau saya dilahirkan untuk melakukannya. Saya sekarang membuat yang lain; podcast, audio drama, spoken words. Mungkin juga saya enggak bisa memakai kata itu lagi; penulis. Saya harus menggantinya jadi; kreator. Tapi saya belum juga bisa berdamai. Lagi-lagi, ah!

Credits:

1. Photo by Teresa Kluge on Unsplash

2. Photo by Olesia Misty on Unsplash

3. Photo by Shawnn Tan on Unsplash