“Kalau kau datang, bawa meteran yang biasa dipakai ibumu menjahit. Aku ingin mengukur, berapa tinggi tumpukan buku yang aku baca tahun ini,” katamu padanya kemarin.

Kau pernah bilang kalau menghitung berdasarkan jumlahnya, itu tidak adil untuknya karena dia lebih suka buku yang tebal—yang lama habis. Dia simpan di bawah bantalnya dan selalu saja jadi alasan dia tidak cepat membalas pesan-pesanmu saban malam. “Keasyikan membaca,” katanya di pesan yang kadang baru dia kirim di pagi harinya.

Sementara kau lebih banyak membaca buku tipis dan kecil yang cepat habis. Kau ingin mengetahui ceritanya secepat kau bisa. Lalu ketika dia datang sore itu ke rumahmu dan kalian menumpuk semua buku yang sudah kau baca, dia tetap bilang kalau ini belum adil. Buku-buku yang kau baca; ukurannya kecil, hurufnya besar, spasinya renggang, dan gambar ilustrasinya banyak.

“Bagaimana cara kita menghitungnya kalau begitu?” tanyanya.

Dia memasukkan meteran yang dia bawa ke saku celana panjangnya.

“Bagaimana dengan jumlah katanya saja?” usulmu yang kemudian kau sadari, itu tidak akan adil untukmu sendiri karena seringkali kau membaca berulang-ulang satu buku karena ceritanya—buatmu, karena buatnya seringkali kebalikannya—begitu bagus.

“Bagaimana kalau kita berhenti menghitung?” tanyamu. Dia kemudian membantumu membereskan buku-buku yang tadi dia ukur dan merapikannya kembali ke rak. “Seratus enam puluh tiga sentimeter,” katanya, “lebih tinggi sedikit darimu.”

Kau menunggu sambungan dari kalimat itu. Apapun. Mungkin penjelasan. Tapi kemudian dia diam saja dan yang terdengar hanya suara tepian tulang buku beradu dengan rak kayu.

“Dari mana kau tahu itu lebih tinggi sedikit dariku?” tanyamu.

Dia memasukkan tumpukan buku terakhir dan menunjuk puncak kepalamu.

“Kau tidak pernah lebih tinggi dariku,” jelasnya, “aku seratus tujuh puluh dua.”

“Dari mana kau tahu?” ulangmu.

“Perkiraanku begitu.”

“Jelaskan,” pintamu.

“Tahun lalu umurmu dua puluh satu. Kau sudah berhenti meninggi. Tahun lalu, kau seratus enam puluh tiga. Tahun ini pun, segitu.”

Ah. Dia masih mengingat itu. Dia masih mengingat kalau tahun lalu, kalian membuat tantangan untuk membaca buku setinggi tubuh masing-masing. Tantangan yang tidak berhasil kau menangkan karena dia membaca dua kali dan lebih sedikit dari tinggi tubuhnya. Tahun ini, kalian tidak membuat tantangan apapun dan lebih memilih untuk membaca sebanyak dan secepat yang kalian suka—walaupun tetap saja metode perhitungan ini selalu saja jadi bahan perdebatan tidak kunjung selesai.

Dia juga mengingat dengan baik buku-buku apa saja yang sudah kau baca; judul dan pengarangnya. Kau berkelakar kalau dia lebih cocok jadi penjaga toko buku, dia jengkel dan menyahut, “Aku lebih pantas jadi pemiliknya.”

Sampai suatu ketika, kau berkata padanya, “Tidak bisakah kita berhenti berhitung seberapa banyak dan mulai memahami yang lain?”

“Misalnya?” tanyanya.

“Seberapa bahagia kita ketika membaca?”

“Kalau begitu, bisa jadi kita akan berhenti membaca.”

“Kenapa?”

“Karena begini saja,” kemudian dia terdiam beberapa saat, menutup buku yang dia baca, dan meluruskan lehernya. Kau pun ikut menutup buku yang sedang kau baca—sambil memastikan pembatas bukunya tepat ada di bagian tengah agar tidak jatuh. Matanya memandang jauh ke arah bukit yang mulai memutih karena bunga-bunga ceri yang mulai mekar sempurna, pertanda musim semi sudah berjalan sepertiganya. Kalian duduk bersisian di bangku taman, memakai trench coat tipis di suhu yang sudah tidak terlalu dingin. Menghabiskan lebih satu jam tidak bicara dan hanya membaca.

“Karena begini saja,” ulangnya, “begini saja, kita sudah bahagia.”

* * *

Photo by Gaelle Marcel on Unsplash