Kau memberinya jeruk keprok paling manis yang kau beli di akhir liburanmu di Selayar. Kau beruntung, jeruk di Agustus selalu yang paling baik, paling manis, dan besar-besar. Kau memberikan sebagian padanya. Tapi ketika kau bertemu dengannya sore itu, di tepi lapangan di dekat kampusmu, kau memberinya satu lagi.

“Untuk menemani kita mengobrol,” katamu.

Kau tahu dia tidak suka jeruk. Kau juga tahu kalau dia tidak sabaran dengan kulit dan bijinya, karena itu, kau membukakannya dulu sebelum kau berikan padanya.

“Semalam mereka bertengkar lagi,” katanya. Perlahan.

“Seperti biasa?” tanyamu.

“Ini tidak biasa. Mereka berdua mengepak koper, seolah berlomba untuk keluar dari rumah. Berlomba jadi yang meninggalkan. Mereka lupa, yang ditinggalkan bukan hanya rumah atau hubungan mereka, tapi juga aku.”

Dia anak tunggal dan kau tidak paham rasanya. Kau tidak mengerti sepinya. Ketika dia melirik ke arahmu, kau tidak tahu apa yang harus kau katakan padanya. Kemudian, dia bercerita lagi. Kali ini, tidak lancar. Sampai kau membayangkan kalau dia harus memancing tiap kata dari dalam dadanya dan menyusunnya kembali di mulutnya sebelum akhirnya sampai ke telingamu.

“Dulu mereka menikah karena merasa bisa lebih bahagia dibanding sendirian. Sekarang mereka berpisah karena merasa bisa lebih bahagia dibanding berdua,” katanya.

Kau punya kotak kecil yang kau simpan di sakumu. Kau bawa ke mana-mana. Yang ingin sekali kau buka di depannya—mungkin sambil berlutut, kau belum memutuskannya. Tapi selalu saja kau tidak punya keberanian. Cinta buatnya seperti baju luntur yang terus kehilangan warna setiap kali dicuci. Kau ingin mengatakan tidak semua baju lunturnya separah itu, tapi siapalah kau; hanya anak di awal dua puluhan yang merasa bisa membahagiakan orang lain padahal kebahagiaanmu sendiri tidak juga bisa kau temui.

“Aku suka jeruk ini,” katanya. Dia memakan satu potong. Kau membuka satu lagi untuk dirimu sendiri.

“Aku suka pahitnya,” sambungnya.

Kau terhenti. “Jeruk ini tidak pahit,” ujarmu.

“Aku mengunyah bijinya,” jawabnya.

Kalian terdiam. Kau mengerti apa yang dia maksud karena di suatu ketika, kau pun merasakan hal yang sama. Kau kesakitan tapi itu semua ada di dalam pikiranmu. Kau tidak memahami karena itu bukan sakit yang bisa kau putuskan bagaimana rasanya. Kau pun membenturkan keningmu ke tembok untuk merasakan sakit yang lain, yang fisik. Ketika sakit di kepalamu berangsur hilang, kau seolah punya harapan bahwa sakit di dalam kepalamu pun, yang asalnya dari hatimu, ikut hilang. Tidak semudah itu, kau tahu. Kau ingin katakan itu padanya tapi kau mengurungkannya.

“Semua pahit saja rasanya,” katanya lagi.

Kau teringat masa kecil kalian yang sederhana; bermain layang-layang, berkejaran di tepi pematang ketika panen menjelang, dan mendaki ke bukit untuk mengumpulkan ceri. Makin lama kalian hidup, semua makin rumit; patah hatinya, kesepianmu, jatuh cintanya, dan sakit hatimu.

Tapi akhirnya kau keluarkan juga kotak kecil itu. Kau berikan begitu saja dan biarkan dia membukanya. Dia melihat ke isi kotak itu lalu beralih menatapmu.

“Untuk menemani kita bicara,” katamu menjawab tanya di matanya.

Kau melihat dia hampir saja mengunyah beberapa biji jeruk yang ada di mulutnya sebelum akhirnya dia keluarkan ke tisu yang kau berikan.

“Aku takut, ini juga akan jadi pahit,” ujarnya.

“Aku pun,” katamu, kemudian.

* * *

Photo by Keilidh Ewan on Unsplash