Sewaktu kau bilang kalau dia seperti gelas yang menampung isi hatimu, dia malah tertawa dan mengatakan kalau dia suka melihat apapun yang kau isikan ke dalam ‘gelas’-nya.

“Hari ini apa?” tanyamu.

Dia terdiam sebentar. Berpikir. Lalu tersenyum.

“Kamu pernah lihat es buah dengan biji selasih?” Dia tidak menunggumu untuk menjawab. Kalaupun kamu menjawab tidak pernah, dia akan menjelaskannya padamu. Tapi kau pernah, kau katakan itu padanya. Dia lalu melanjutkan, “Hari ini ceritamu manis, tapi terlalu banyak biji selasihnya yang harus ditelan di antara potongan buah dan sirup dingin.”

Kau tertawa. Kau baru saja bercerita tentang banyak ketakutanmu tentang kepergiannya. Berkali dia katakan kalau dia tidak akan pergi. Kau menambahkan dengan, “Mungkin tidak dalam waktu dekat.”

Kau takut kehilangan gelasmu. Tempatmu menuangkan apapun dari kepalamu. Dia akan menampungnya, membuatmu bisa melihat apa yang sebenarnya ada, sebelum membantumu meminumnya. Kau tidak juga bisa jelas melihat ke dalam kepalamu sendiri. Dia gelas beningmu.

“Tidak juga dalam waktu lama,” ujarnya.

Biji selasih itu jadi tiap titik ketakutanmu di tiap malam yang harus kau telan.

“Kenapa harus pergi kalau memang tidak ada alasan?” tanyanya.

“Kadang tidak perlu alasan,” jawabmu.

Kemarin, kau hanya menceritakan tentang harimu yang biasa saja, nyaris tidak ada rasa. Mungkin itu susu di dalam gelasnya. Mudah ditelan walaupun kalau terlalu banyak, membuatmu mual. Dua hari sebelumnya, mungkin kopi pahit tanpa gula yang kau tuang dengan memicingkan mata. Kau suka warna hitam pekatnya, rasa masamnya, tapi lambungmu tidak kuat mencerna. Dia bilang kalau dia suka kopi seperti ini.

“Kau akan tahu betapa dalam kau merindukan gula kalau kau pernah meminum yang seperti ini,” katanya. “Walaupun ada juga yang malah ingin menaburkan sejumput garam.”

“Apa garam mengurangi pahit?”

Dia tersenyum, “Sepertinya begitu. Kau mau garam atau gula?”

“Tidak keduanya. Aku mau seperti ini saja.”

Kau takut kehilangan gelasmu karena setelah itu, kau tidak tahu harus menuangkan ke mana semua yang ada di kepalamu. Kau takut kehilangan pembicaraan panjang yang rasanya tidak akan pernah selesai tentang banyak hal-hal yang kau pikir tidak perlu dibahas sebelumnya.

“Yang aku takutkan,” katamu, “aku mengucurkan darah ke dalam gelasmu.”

“Tidak mengapa,” ujarnya, “merahnya bagus.” Dia menatapmu dalam, “Walaupun aku tahu, kalau itu terjadi, kita tidak akan membahas apapun.”

“Lalu?” tanyamu.

“Kita harus menyembuhkan luka,” jawabnya.

Kau ber-‘aaah’ panjang.

“Itu tidak semenakutkan dibanding kalau kau tidak menuangkan apapun. Itu artinya, semua sudah selesai,” katanya lagi.

“Kita selesai.”

“Kita selesai,” ulangnya.

“Kau pergi?” tanyamu.

“Tidak. Kau yang pergi. Membawa semua yang bisa kau tuang ke gelas milikku.”

* * *

Photo by David Mao on Unsplash