Siang itu, sebelum dia memutus sambungan telepon, kau katakan padanya kalau suaranya meningatkanmu pada kukis cokelat yang biasa kau patahkan jadi dua sebelum akhirnya kau masukkan ke mulutmu.

“Suaraku seperti rasa kukis?” tanyanya.

“Bukan,” jawabmu, “seperti bunyi ketika kukis itu patah, renyah.“

Kau tidak bisa menjelaskannya–dan sepertinya tidak perlu–karena dia tertawa. Mungkin karena mengerti, mungkin juga karena perbandinganmu terdengar lucu. Tawanya membuatmu membayangkan berbungkus-bungkus kukis cokelat yang kau patahkan di penghujung musim dingin ketika kabut memotong jarak pandang. Kau harus keluar dari apartemenmu pagi itu. Berjalan menuju kelas dan matamu basah. Kau tidak ingin lagi di sini. Kau ingin pulang–tapi ke mana? Kau tidak punya rumah. Hidupmu seperti perjalanan panjang yang tidak ada hentinya, entah di mana ujungnya.

Tapi suaranya di telepon, lalu puluhan patahan kukis di kepalamu yang hanya kau dengar sendiri, dan keinginanmu untuk kembali setelah semua ini selesai, membuatmu merasa bahwa kau akan pulang dan menemukan rumahmu. Mungkin.

Kemudian kau juga ingat kalau kau begitu suka dengan salju yang menutup jalan di pagi itu. Mencair terkena matahari dan kemudian membeku lagi, membuat aspal terlapis air beku. Kau mengeluarkan sarung tangan kulit dari saku jaket tebalmu. Kau teringat betapa kau sudah terlalu jauh berlari dan mungkin jalan pulang itu sudah tidak ada lagi.

Pagi itu, ketika kau baru saja menaikkan suhu pemanas di termostat, dia menelepon. Kau bergegas mengangkat. Dia bicara tentang penghujan di Jakarta. Tentang gelayut langit kelabu yang terlihat dari jendela ruang kantornya. Kau ingat, ketika itu, senja di Jakarta. Kau mengatakan bahwa di sini, di tempatmu, kau sudah lama sekali tidak melihat hujan. Titik air keburu membeku sebelum menyentuh tanah. Dia pun berujar kalau dia ingin melihat salju.

Kau mengatakan bahwa musim dingin menyusupkan beku sampai ke tulangmu. Tapi dia tidak peduli. Kau mendengar suara patahan biskuit itu lagi di antara kata-katanya. Kau membayangkan dia berjalan di sampingmu, memakai coat hitam tebal, syal panjang, dan sarung tangan wool. Ujung hidung dan pipinya memerah karena menahan dingin yang sangat. Dia lalu bercerita tentang keinginannya melihat hujan sore seindah ini bersamamu, di Jakarta.

“Kapan pulang?” tanyanya.

Kau tidak tahu. Kau tidak tahu ke mana kau harus pulang.

“Mana yang lebih indah?” tanyanya lagi, “salju di sana atau hujan yang turun kesorean seperti di sini? Kau sudah pernah melihat keduanya, kan?”

Suara patahan biskuit itu lagi. Renyah.

“Bagaimana kalau begini,” usulmu, harapmu, “bagaimana kalau kita coba lihat berdua dan kemudian kita putuskan bersama mana yang lebih indah?”

“Aku tidak akan pernah sampai ke sana,” ujarnya.

“Aku akan menjemputmu.”

“Aku tidak bisa ikut denganmu….”

“Aku akan membuatnya bisa,” katamu. Pelan dan hati-hati.

Kau menahan napasmu. Bersiap kalau yang berikutnya terdengar patah adalah hatimu.

“Oke,” jawabnya.

Kau pun mendengar suara pahatan biskuit itu lagi. Tapi kali ini, kau mendengarnya dekat sekali. Mungkin sedekat musim semi yang akan datang sebentar lagi. Sebentar lagi.

* * *

Photo by Jade Wulfraat on Unsplash