Rain-MIKA

by | Aug 26, 2017 | Lagu & Cerita, Non Fiksi | 0 comments

Is it really necessary?
Every single day
You’re making me more ordinary
In every possible way

(Rain-MIKA)

02:28

Ketika saya memulai tulisan ini. Malam sudah hilang tapi pagi belum datang. Saya memilih untuk menulis sambil menunggu subuh karena tidur pun rasanya sudah enggak bisa dilakukan. Lalu saya merindukan jendela. Di apartemen saya di Fayetteville, saya punya jendela di kamar dan di ruang tamu. Saya sengaja meletakkan meja di sana agar bisa mengetik sambil memandang ke luar. Enggak banyak yang bisa dilihat, memang.

Jam sembilan pagi akan ada petugas UPS dengan truk besar berwarna hitamnya. Lalu menjelang siang di musim panas akan ada petugas apartemen memangkas rumput agar rapi karena di saat seperti itu, tumbuhnya cepat sekali. Menjelang sore akan ada truk FedEx, mobil-mobil mahasiswa yang datang dan pergi, orang-orang yang lewat dengan anjingnya, sepeda, atau berjalan pelan sendirian.

Di suatu pagi, sambil menuang kopi, saya melihat kabut di luar. Menghalangi pandangan. Mistis. Enggak seperti kabut pagi yang biasa saya lihat di Payakumbuh—tempat Nenek saya. Ini kabut yang lain, yang tebal dan bergerak seolah ada sesuatu di dalamnya.

Saya enggak suka hujan—dan saya kadang mempertanyakan mengapa orang banyak menyukainya. Saya tahu suaranya menenangkan, saya tahu aroma tetesnya yang terkena tanah bisa melenakan, tapi setelah itu apa? Saya tinggal di Jakarta, di tempat di mana hujan mengawali hari menjadi buruk; sepatumu basah, kotor, ujung celana panjang atau rokmu akan berlumpur. Langit muram. Angin hitam.

Suatu ketika, saya berjalan menyusuri tepian gang ketika malam baru saja beranjak larut. Saya menunggu hujan reda agar bisa pulang. Saya ingat derasnya hujan sebelum itu, tapi saya enggak ingat mengapa saya enggak menerobosnya saja. Saya menunggu. Jalanan basah, memantulkan cahaya kuning lampu jalan yang menyala temaram. Saya berhenti dan melihat ke langit; bintang cemerlang dan bulan padhang, seolah mengirimkan pesan kalau apapun yang dibasuh hujan akan lebih benderang jadinya.

Rain ini lagu yang paling saya suka dari MIKA. Di video klipnya, semua yang aneh terjadi, kecuali hujan.

02:40

Suatu ketika, saya pernah duduk menantang jendela di kedai kopi mahal yang akan mudah kamu temui di mana saja. Ketika itu menjelang jam sembilan malam. Di luar jendela, saya melihat pesawat berderet-deret. Iya, saya ada di bandara malam itu. Tetesan air yang tersangkut di kaca jendela membuat pandangan ke luar lebih puitis dari semestinya. Saya memegang gelas kertas berisi kopi yang saya pesan—latte dengan tiga cup kecil vanilla syrup—agar menghangat. Tapi kertas tebal itu sudah dihitung dengan seksama untuk menjadi penghalang panas. Saya enggak merasakan apapun di ujung-ujung jari karena pendingin ruangan yang membuat suhu jadi keterlaluan rendahnya.

26 November 2016

Malam itu saya suka hujan karena sudah selesai dan karena saya—seolah—sudah selesai dengan tempat ini, sebentar lagi. Saya akan pergi. Aneh memang ketika kamu enggak menyukai suatu tempat tapi ketika kamu akan pergi, kamu menoleh sekali lagi, memastikan kalau kamu mengingat setiap sudutnya. Tempat itu; Jakarta.

Saya berpindah dari satu kota ke kota lain. Mengungsi dari satu jalinan mimpi ke jalinan mimpi yang lain—yang kalau putus, saya akan menyambungnya dengan benang baru, jalinan baru. Saya sangat suka mengambil foto tapi enggak ada satu pun foto dari rumah yang saya tinggali karena saya tahu kalau saya akan pergi dan saya enggak ingin mengingatkan apapun yang bisa memberat langkah, nantinya; kenangan. Tapi kadang tempat-tempat itu menyusup ke mimpi saya. Membuat seolah saya berjalan lagi di antara kamar-kamar dan saya bahkan bisa menunduk dan melihat motif ubin yang saya pijaki. Mungkin itu caranya saya merindu. Mungkin.

02:49

Kemarin saya katakan pada si Tuan kalau saya ingin jendela; yang besar, yang menghadap ke jalan atau taman belakang. Kalau saya enggak bisa melihat orang-orang lewat, saya ingin melihat tanaman tumbuh dan kembang mekar. Mungkin saya ingin melihat hujan. Mungkin bukan saya enggak menyukai hujan. Mungkin karena saya belum pernah melihatnya jatuh di tempat yang saya tahu, kalau saya enggak akan pergi lagi dari sana.

Crystal Bidges Museum of American Art

11 April 2016

Tapi tinggal di suatu tempat dalam waktu yang lama, bukan berarti isi kepalamu enggak akan pergi ke mana-mana. Saya sudah lebih setengah tahun di sini, menghabiskan malam dengan mengerjakan sesuatu yang saya tahu—ketika saya memutuskan memulai—bukan hanya waktu yang saya pertaruhkan, tapi juga kewarasan dan hati beserta isinya. Banyak hari yang rasanya isi kepala saya enggak di sini. Banyak hari yang rasanya saya biarkan dia bertamasya.

02:56

Baiklah. Saya akui saja sekarang kalau saya ingin melihat hujan turun, di dini hari, di penghujung Agustus ini. Saya akui saja kalau saya enggak ingin pergi lagi dari sini.